Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS, merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR di bidang Farmakognosi tersebut. (Foto: Istimewa)
Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS, merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR di bidang Farmakognosi tersebut. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ada dua unsur dalam pembuatan obat-obatan, yaitu sintesis dan bahan alami. Untuk ilmu yang mempelajarai obat-obatan yang berasal dari alam, biasa disebut dengan ilmu Farmakognosi.  Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS, merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR di bidang Farmakognosi tersebut. Dari tiga bahan alam yang dipelajari dibidang ilmu Farmakognosi (Tumbuhan, Hewan, dan Mineral), Sukardiman fokus pada bidang kajian obat yang berasal dari tumbuhan.

Sebagai peneliti, Ketua Lembaga Pengembangan Produk Akademik dan Hak Kekayaan Intelektual (LPPA-HKI) UNAIR tersebut telah menghasilkan beberapa produk riset. Diantaranya yaitu, “Komposisi Ekstrak Samiloto dengan Kunyit”  yang sudah diuji aktifitas sebagai suplemen untuk kanker payudara pada pasien, dan “Pengembangan Obat Herbal Fraksi Kencur” yang digunakan untuk kanker lambung ataupun usus besar.

Beberapa jurnalnya yang telah di-publish nasional maupun internasional, diantaranya yaitu “Immunohistochemical Study of Curcuma xanthorrhiza Roxband Morindacitrifolia L Ethanolic Extract Granules Combination in High fat Diet Induced Hyperlipidemic   Rats” pada tahun 2014, dan “The Role of Ethyl Acetate Fraction of Andrographis paniculata and Doxorubicine Combination To Ward The Increase Apotosis and Decrease of VEGF Protein Expression of Mice Fibrosarcoma Cells” pada tahun 2015.

Selain karya ilmiah, Sukardiman juga mengikuti berbagai konferensi internasional, diantaranya yakni, “The International Seminar on Chemopreventive for Health Promotion and Beauty” di Denpasar pada tahun 2010, dan “Seminar international Conference and Exbition on Pharmaceutical Nutraceutical and Cosmetical technology : Formulation and Applications” di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2010.

Sukardiman juga mendapatkan beragam penghargaan atas pengabdiannya dibidang penelitian. Diantaranya, Sukardiman diberikan penghargaan “Young Investigator Award” oleh Perhimpunan Dokter Ahli Mikrosirkulasi Asia pada tahun 1999. Selain itu, ia juga ditetapkan sebagai Penyaji  Terbaik  Hasil Penelitian  Ilmu Penelitian Dasar (IPD) oleh DIKTI pada tahun 2004.

Selain berprofesi sebagai Ketua LPPA-HKI UNAIR dan dosen, Guru Besar Termuda Farmasi pada tahun 2008 tersebut juga menjadi anggota reviewer penelitian DIKTI sejak 2010 dan Penelitian Binfarkes Kemenkes RI sejak 2013. Selain itu, ia juga menjadi Anggota Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sejak tahun 2010 dan Anggota Bidang Obat Bahan Alam dari Koligeum Ilmu Farmasi Indonesia (KIFI) pada tahun 2016.          Disela kesibukannya tersebut, ia juga sempat menghasilkan sebuah karya buku di bidang keilmuannya yang berjudul “Farmakognosi Jilid I” pada tahun 2014.

“Obat itu bagaikan racun dan madu. Kalau terlalu banyak dosisnya, maka obatnya jadi racun. Tentunya, ilmu farmasi yang mampu mengelolanya dari berbagai macam aspek. Termasuk, melakukan pengembangan keilmuan untuk bisa menyiapkan bahan-bahan obat paling mutakhir,” kata dia.

Sementara itu, bidang kajian farmasi bukan hanya obat-obatan itu sendiri, makanan dan minuman pun juga bisa menjadi fokusnya. Tanggung jawab farmasi sangat besar. Karena, kaitannya dengan nyawa orang. (*)

Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Rio F. Rachman

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone