Pakar bahan obat herbal UNAIR Dr. Aty Widyawaruyanti, dra., Apt., M.Si. (Foto: UNAIR NEWS)
Pakar bahan obat herbal UNAIR Dr. Aty Widyawaruyanti, dra., Apt., M.Si. (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Obat-obatan dari bahan baku tanaman tradisional memiliki prospek pengembangan keilmuan dan penelitian yang baik, terkhusus di Indonesia. Apalagi, dalam skala internasional, Indonesia terkenal memiliki bahan-bahan obat tradisional yang cukup berlimpah. Ini adalah kesempatan besar bagi para apoteker untuk terus mengembangkan penelitian.

Penelitian bidang obat-obatan tradisional itulah yang dikembangkan oleh Dr. Aty Widyawaruyanti, dra., Apt., M.Si. Selain mengajar pada Departemen Farmakognosi & Fitokimia, sehari-hari Aty menghabiskan waktu di Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR untuk meneliti bahan obat dari alam. Tentunya, sebagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi ini bertujuan untuk mendukung pendidikan farmasi dan mencetak para ahli di bidang obat (apoteker, red).

Aty sudah mulai akif melakukan penelitian sejak menjadi staf di Departemen Farmakognosi & Fitokimia. Secara keseluruhan, penelitian yang ia dan tim lakukan bertujuan untuk mendapatkan bahan aktif untuk bahan penelitian, terutama untuk tumbuh-tumbuhan dan bahan-bahan tradisional untuk obat. Bahan aktif tersebut bisa berupa eksrak, fraksin, atau senyawa yang sudah berhasil diisolasi dari tanaman tersebut.

Aty memfokuskan diri mempelajari penemuan bahan obat alam untuk anti malaria. Mulai sekitar tahun 1990 hingga sekarang, riset yang ia kembangkan adalah bahan obat untuk malaria, termasuk mengisolasi senyawa aktifnya.

Di bawah laboratorium yang kini bernama Center for Natural Product Medicine Research and Development, dikembangkan riset untuk mendapatkan produk-produk dari herbal.

BACA JUGA:  Tingkatkan Reputasi Akademik dengan TOT Pekerti-AA

“Produk tersebut dibuat dalam bentuk sediaan farmasi, baik kapsul maupun tablet. Untuk pengobatan malaria, beberapa produk sudah diuji aktifitasnya baik pada hewan coba maupun preklinik,” ujarnya.

Namun begitu, di ITD Aty bukan hanya melakukan riset terhadap obat anti malaria. Ia dan tim juga melakukan eksplorasi bahan obat-obatan dari tumbuhan yang lain. Bersama tim, ia juga melakukan eksplorasi ke beberapa taman nasional dan hutan untuk mengambil sampel tanaman. Sampel itu lah yang kemudian diektraksi dan diujikan.

Ada dua kandidat anti malaria dari ekstrak yang kini ia kembangkan. Yang ia kembangkan bukan senyawa, melainkan merupakan ekstrak atau fraksin. Dua kandidat tersebut berbahan dari kulit batang cempedak dan herba sambiloto.

Herbal medicine untuk penelitian bahan alam saat ini sangat potensial untuk dikembangkan. Pasalnya, saat ini judul penelitian rata-rata yang banyak diterima adalah penelitian dengan topik pengobatan alam.

“Saat ini masyarakat selalu didengungkan dengan jargon back to nature. Hal ini didukung juga dengan kekayaan Indonesia yang terkenal dengan jamu dan obat tradisionalnya,” tambahnya.

Bahan obat-obatan yang diperoleh dari tanaman tidak akan ada habisnya untuk terus diteliti dan dikembangkan. Apalagi, dengan pengembangkan teknologi fitofarmasetik, pengembangan persediaan obat tradisional semakin lama semakin baik dan semakin modern. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Nuri Hermawan

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone