Ilustrasi Ular-herpetologi (Istimewa)
Ilustrasi Ular-herpetologi (Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

JIKA Anda menjumpai ular, pasti Anda merasa takut (ophidiophobia). Atau bahkan Anda tidak segan-segan untuk membunuhnya. Padahal, Indonesia memiliki tingkat biodiversitas yang tinggi pada keanekaragaman spesies ular, sekitar 380 spesies ular dapat dijumpai di negeri ini. Bahkan delapan persen diantaranya adalah ular berbisa dan berbahaya bagi manusia.

Namun, sebenarnya dibalik itu bisa ular memiliki manfaat yang tersembunyi. Snake venom atau bisa ular merupakan senyawa kimiawi yang diproduksi oleh kelenjar khusus dari sejumlah spesies ular tertentu yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa dan mempertahankan diri.

Bisa ular mengandung lebih dari 20 jenis senyawa berbeda, kebanyakan adalah protein. Hasil riset terkini menyebutkan bahwa bisa ular dapat digunakan untuk mengatasi organisme-organisme yang menimbulkan masalah, khususnya penyakit tropis. Sayangnya, masih sedikit sekali para peneliti life sciences di dunia yang tertarik untuk bergerak pada riset snake venom ini.

Penyakit tropis merupakan salah satu bentuk penyakit yang sering terjadi di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Jenis penyakit tropis itu ada tiga macam, yaitu penyakit infeksi oleh bakteri, penyakit infeksi oleh virus, dan penyakit infeksi oleh parasit.

Penyakit infeksi oleh bakteri misalnya tuberkulosis, tetanus, batuk rejan, dan yang lainnya. Penyakit infeksi oleh virus misalnya zika, demam berdarah dengue (DBD), flu burung, dan lainnya. Sedangkan penyakit infeksi oleh parasit misalnya penyakit chagas, malaria, leishmaniasis, dan yang lainnya.

Gigitan ular berbisa seringkali mematikan, kecuali jika berhasil mendapatkan pertolongan yang tepat. Tetapi, biological components pada bisa ular memiliki sifat terapeutik yang signifikan. Hal inilah yang kemudian membuat bisa ular memiliki potensi yang bagus untuk mengeliminasi organisme-organisme yang menimbulkan masalah penyakit tropis pada skala laboratorium. Ketiadaan vaksin yang efektif untuk solusi penanganan penyakit tropis saat ini merupakan salah satu penunjang bahwa penelitian bisa ular ini menjadi sangat penting untuk dikembangkan di masa mendatang.

Penelitian secara in vitro menyebutkan bahwa peptida-peptida bisa ular Naja atra memiliki aktivitas untuk melawan multidrug-resistant tuberculosis atau MDR-TB, yaitu bakteri yang dapat membentuk resistensi terhadap obat antimikroba yang digunakan sebagai pengobatan penyakit tersebut. MDR-TB tidak memberikan respon pada dua jenis obat yang ampuh untuk anti-TB, yaitu isoniazid dan rifampicin.

Selain itu, bisa ular dari Naja naja, Daboia russelli, Bungarus fasciatus, dan Naja kaouthia memiliki aktivitas anti-MDR-TB, sehingga perlu dilakukan eksplorasi lebih dalam sebagai obat anti-TB yang lebih ampuh. Bungarus fasciatus adalah spesies ular berbisa dari famili Elapidae yang merupakan salah satu ular paling berbahaya dan mematikan di Indonesia.

Pada dunia virologi atau cabang ilmu yang mempelajari tentang virus, LAAO (L-Amino acid oxsidase) yang diisolasi dari bisa ular Bothrops jararaca, menunjukkan aktivitas sebagai antivirus melawan virus dengue serotipe 3. Sedangkan bisa ular dari Crotalus durissus terrificus, dapat menghambat replikasi virus Measles dan bisa ularnya tidak memiliki sifat sitotoksisitas berdasarkan penelitian berbasis laboratorium.

Selain itu, senyawa immunokine, salah satu derivat dari α-toxin yang diisolasi dari bisa ular Naja siamensis, menunjukkan daya hambat infeksi limfosit oleh virus HIV dan FIV. Disisi yang lain, phospholipase A2 atau PLA2 dan 12 peptida turunan dari PLA2 yang diisolasi dari bisa ular, memiliki aktivitas anti-HIV.

Bisa ular dari Naja sumatrana, Bungarus candidus, Hydrophis cyanocinctus, dan Oxyuranus candidus memiliki sifat anti-HIV berdasarkan penelitian berbasis laboratorium. Naja sumatrana adalah salah satu jenis golongan kobra yang paling mematikan di dunia yang berada di Pulau Sumatera, Indonesia.

Crotoxin B yang diisolasi dari Crotalus durissus cumanensis, memiliki aktivitas untuk melawan Plasmodium falciparum penyebab penyakit malaria. Sedangkan whole venom dari Naja haje, Cerastes cerastes, Crotalus viridis, Philodryas baroni, dan Hypisglena torquata memiliki aktivitas untuk melawan Trypanosoma cruzi (penyebab penyakit Chagas) dan Leishmania spp (penyebab penyakit Leishmaniasis). Selain itu, LAAO yang diisolasi dari bisa ular Lachesis muta, Bothrops atrox, dan Bothrops moojeni juga dapat melawan Leishmania spp. dan Trypanosoma cruzi.

Pada penelitian berbasis laboratorium, bisa ular atau snake venom memiliki potensi sebagai kandidat obat untuk melawan agen-agen penyakit tropis seperti bakteri, parasit, dan virus. Namun, perlu dilakukan riset lebih mendalam lagi untuk mendapatkan manfaat langsung pada aplikasi klinis.

Inilah yang seharusnya sudah menjadi salah satu keunggulan riset bidang life sciences di Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain, karena Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terutama pada golongan herpetofauna yang di dalamnya termasuk ular berbisa. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
Penulis adalah Bachelor of Science (B.Sc) Biologi, lulusan Universitas Airlangga. Penerima hibah dari IRCMs - Kumamoto University untuk program magang penelitian pada Januari 2017. Asisten dosen di Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR, dan anggota Kelompok Studi Herpetologi FST Universitas Airlangga, serta asisten penelitian di Taman Husada Graha Famili Kebun Tanaman Obat (proyek kolaborasi antara UNAIR dan PT Intiland Development Tbk.)