Vinandhika ikut serta dalam Kunjungan Kerja Presiden RI ke Sumatera Barat bersama rombongan KRI Frans Kaisiepo (Sumber Dokumen Pribadi Vinandhika Parameswari)
Vinandhika ikut serta dalam Kunjungan Kerja Presiden RI ke Sumatera Barat bersama rombongan KRI Frans Kaisiepo (Sumber Dokumen Pribadi Vinandhika Parameswari)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sore itu, di suatu sudut Istana Negara, kru UNAIR NEWS bertemu dengan salah satu Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. Perempuan muda, kalem dan ramah tersebut menjumpai kami di sebuah ruangan rapat yang kebetulan sedang tidak digunakan lantaran waktu sudah hampir masuk jam pulang kerja. “Apa kabar?” sapanya. Tepat pukul 15.10 WIB perbicangan santai dan menarik pun mengenai alumni ini pun dimulai.

Vinandhika Parameswari namanya, Viki sapaan akrabnya. Ia adalah Sarjana Hubungan Internasional FISIP UNAIR yang kini bekerja sebagai Biro Protokol, Sekretariat Presiden, Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Perempuan asal Ponorogo tersebut sering terlibat dalam kegiatan keseharian Presiden Joko Widodo maupun Ibu Negara Ibu Iriana.

Mahasiswa angkatan 2010 tersebut bercerita mengenai kesehariannya meramu dan menyusun berbagai acara presiden dan ibu negara. Mulai dari menyiapkan bahan-bahan untuk acara harian presiden, membuat konsep rencana acara harian presiden, hingga menyusun konsep acara kenegaraan dan masih banyak lagi.

“Awalnya aku tidak tahu protokoler itu tugasnya ngapain, yang saya tahu tugasnya menyertai kepala negara,” terang Vinandhika.

Semasa kuliah, Alumni SMAN 1 Jember tersebut mengaku sering mengikuti lomba karya tulis, berbagai lomba pernah ia menangi, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tidak luput dari keikutsertaanya. Ia juga pernah bergabung dalam UKM penalaran. Akan tetapi kemampuan menulisnya pun semakin terasah ketika menjalani kuliah di HI UNAIR.

“Waktu SMA sampai kuliah tuh, suka banget sama lomba karya ilmiah. Apalagi pas masuk HI setelah tahu tugas-tugasnya, jurnal mingguan dan analisis, jadi semakin baik aja nulisnya, walaupun sempat kaget di awal-awal,” tandas perempuan kelahiran 1992 tersebut.

Bagaimana Cerita Masuk Istana?

Setelah lulus dari UNAIR pada tahun 2014, Viki awalnya bekerja di perusahaan Media Monitoring Internasional di Jakarta. Kemudian, ia bersama beberapa teman se-angkatannya mengikuti seleksi CPNS dari Kementrian Sekretariat Negara setahun kemudian. Pada waktu itu, lowongan yang dibutuhkan adalah Sarjana Hubungan Internasional yang akan ditempatkan di Biro Protokol Sekretariat Presiden.

Adapun materi yang diujikan meliputi pengetahuan umum, kewarganegaraan dan matematika dasar. Adapula tes yang berbasis komputer. Setiap peserta tes diharapkan mampu memenuhi standar nilai yang dibutuhkan di setiap materi ujian. Ditempat itu, peserta langsung dirangking siapa aja yang memenuhi kualifikasi, siapa yang memenuhi batas minimum.

Setelah lolos dalam tahap tersebut, berikutnya, ia menjalan tes TOEFL dan juga wawancara oleh pejabat eselon 1 dan 2 dari unit kerja yang berbeda. Yang akhirnya membawa Viki untuk lolos dalam tes tersebut.

“Saya tidak habis berfikir untuk lolos sampai tahap selanjutnya, karena yang lolos dan diterima akhirnya hanya dua orang.” lanjut Viki.

Memori Kuliah

Ketika ditanya soal alasan mengambil studi HI. Viki menceritakan bahwa sejak SMA, Ayahnya gemar membaca dan mengikuti politik internasional. Kegemaran tersebut secara tidak langsung mendorongnya untuk senang mengikuti kajian tersebut. Pada tahun 2010, setelah mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi, Viki diterima sebagai mahasiswa baru HI FISIP UNAIR.

“Ayah suka sekali sama bacaan buku-buku dunia politik global, kemudian saya juga tertarik untuk mengikutinya, akhirnya Ayah mendukung saya mengambil jurusan HI.” Ungkap alumni yang mengaku sempat berminat konsentrasi dalam Bisnis dan Organisasi Internasional tersebut.

Semasa kuliah, Viki mengaku senang dengan berbagai mata kuliah yang dia ambil. Salah satu yang ia ingat adalah mata kuliah Geopolitik dan Geostrategi yang diajar oleh Drs. Djoko Sulistyo, M.S., dan Drs. Wahyudi Purnomo, M.Phil. Ia juga pernah ikut berkolaborasi dalam penulisan ilmiah bersama dosennya, yakni Dra. Baiq Lekar Sinayang Wahyu Wardhani, MA., Ph.D., dan I Gede Wahyu Wicaksana M.Si., Ph.D.

Di penghujung masa kuliah, ia mengambil peminatan Studi Perdamaian dan Keamanan yang kemudian mengantarkannya untuk mengulas tugas akhirnya dengan judul “Terorisme sebagai Tantangan Kelompok Etnis Terhadap Negara: Studi Kasus Gerakan Transnasional Boko Haram di Nigeria”.

Ketika ditanya soal apa manfaat ilmu yang ia pelajari dulu waktu kuliah, Viki menjawab bahwa ilmu hubungan internasional sangat bermanfaat sesuai dengan pekerjaannya saat ini. Apalagi ia bekerja di lingkungan presiden yang notabenenya adalah individu dan juga aktor utama dalam Hubungan Internasional. Manfaat itu sangat terasa, lanjutnya, karena dulu ketika kuliah banyak belajar hal-hal dari berbagai macam isu, lalu mengkajinya melalui berbagai macam sudut pandang.

“Saya bersyukur belajar di HI UNAIR, disana saya belajar banyak hal, membuat jurnal, analisis, belajar berbagai isu multidimensional yang dikaji menggunakan berbagai irisan, liberalisme, realism, kontruktivisme dan lain lain. Jadi, bisa tahu gimana melihat satu permasalahan dari berbagai macam sudut pandang.” Tutur alumni HI yang menyelesaikan kuliah dalam 7 semester tersebut.

Penulis : Ahalla Tsauro
Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone