SEORANG mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR saat praktikum di Teaching Farm. (Foto: UNAIR NEWS)
SEORANG mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR saat praktikum di Teaching Farm. (Foto: UNAIR NEWS)
image_pdfimage_print

MEMBICARAKAN tentang Universitas Airlangga, rasanya tidak afdol jika tidak menengok salah satu fakultasnya yang berdiri di kampus C. Ya, Fakultas Kedokteran Hewan tampil dengan 1001 keunikan yang menarik untuk ditelisik. Mulai dari “mini zoo” dengan berbagai hewannya, kandang hewan coba, serta Teaching Farm yang berada di wilayah Kabupaten Gresik yang digunakan mahasiswa untuk praktikum lapangan, juga Rumah Sakit Hewan Pendidikan, serta ilmunya yang spektakuler.

Teori (ilmu) dalam perkuliahan serta praktikum yang tak hanya membahas tentang kehewanan, lebih dari itu mahasiwa FKH juga belajar banyak tentang ekonomi kewirausahaan, kesehatan lingkungan, kesehatan masyarakat, ilmu penyakit satwa aquatik, obat-obatan, dan fisiologis yang tak jarang juga belajar mengenai ilmu kedokteran manusia.

Satu dari 1001 yang unik dari kemampuan mahasiswa Kedokteran Hewan UNAIR yang menarik untuk dibahas adalah kemampuan indera perasa dalam mendiagnosa sesuatu yang tanpa melibatkan indera penglihatan. Mahasiswa sering menyebutnya sebagai Eksplorasi Rektal.

Kegiatan salah satu praktikum wajib bagi mahasiswa semester VII ini dilakukan di Kandang Hewan Coba FKH, dan tak jarang juga dilakukan di Teaching Farm di Gresik. Untuk bisa melaksanakan Eksplorasi Rektal ini dituntut memiliki kemampuan tinggi dan bisa menyingkirkan rasa jijik jauh-jauh.

Bagaimana tidak? Ketika tangan para praktikum harus memasuki rektum hewan, contohnya sapi, terlebih dahulu harus membersihkan kotoran yang ada didalamnya. Kemudian harus bisa mendiagnosa organ reproduksi serta kelainan-kelainan yang terjadi di dalamnya. Otomatis, hanya tangan saja yang masuk, dan mata tidak bisa melihat apa yang ada di dalam dan yang terpegang oleh tangan. Kemampuan intuisi dan perasaan hebat inilah yang harus dimiliki sebagai salah satu skill mahasiswa FKH. Namun sebenarnya tidak semata hanya masalah perasaan, tentu harus dikaitkan dengan teori yang telah diperoleh sebelum melakukan praktikum. Jadi bukan ilmu perdukunan.

Belum lagi jika hewan yang akan di-Rectal memiliki temperamen tinggi, sehingga sulit dikendalikan. Kemampuan mengendalikan hewan ini pun juga wajib dimiliki mahasiswa Kedokteran Hewan, dengan tetap memperhatikan konsep Animal Welfare, tanpa menyakiti hewan. Karena hewan coba juga punya hak-hak yang harus dipenuhi oleh para praktikan (mahasiswa praktik) dan sejawat yang menggunakan sebagai media pendidikan.

BACA JUGA:  Rektor: Amalkan Ilmu Melalui KKN-BBM

Keselamatan diri sendiri tetap menjadi prioritas utama, namun untuk mahasiswa Kedokteran Hewan, rasanya belum “lengkap” kalau belum merasakan bagaimana disepak atau ditendang sapi sebagai “salam perkenalannya”. Apalagi praktikum Eskplorasi Rektal ini sering dilakukan pada hewan besar seperti sapi, kuda, kerbau dan hewan besar lainnya yang digunakan untuk kepentingan Inseminasi Buatan (IB), Diagnosa Kebuntingan, atau hanya sekedar pemeriksaan fisiologis patologis organ reproduksi hewan tersebut.

Untuk bisa melakukan Eksplorasi Rektal dengan baik, memang tak cukup hanya sekali mencoba. Tetapi diperlukan berulang kali praktik atau percobaan agar dapat melakukan teknik dengan benar. Peralatan penunjang seperti baju pelindung Cattle Pack, sepatu boots, dan sarung tangan (glove) khusus, perlu digunakan untuk mencegah sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Itu belum lagi dengan persoalan bau kandang. Harus berani kotor. Setiap hari bertemu pasien (hewan) dengan berbagai temperamen, dan bertemu pemilik hewan dengan berbagai latar belakang, menjadi kegiatan rutin harian mahasiswa FKH.

Dari realitas seperti itu, jangan heran jika tidak semua mampu melakukan teknik Eksplorasi Rektal. Untuk itu sebagai mahasiswa FKH patut berbangga jika dapat menguasai ilmu tersebut, sebab teknik ini sering dilakukan di lapangan untuk melaksanakan Inseminasi Buatan pada ternak, membantu peternak untuk meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi dan membantu pemerintah dalam menggalakan program swasembada daging bagi masyarakat Indonesia.

Jadi, pekerjaan mulia tidak dilihat dari banyaknya materi yang dihasilkan, namun seberapa besar pekerjaan tersebut bermanfaat bagi masyarakat, meski pekerjaan tersebut tidak mudah. Begitulah professi dokter hewan digambarkan. (*)

Editor: Bambang Bes

mm
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, angkatan 2013.