Miky Nuhariadi, S.Farm., Apt., memberikan materi seputar persiapan diri menapaki karir di Fakultas Farmasi UNAIR (Foto: Defrina Sukma S.)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Memikirkan puncak karir adalah hal yang penting. Namun, hal yang terpenting adalah bagaimana seseorang mempersiapkan diri terhadap proses perjalanan karir ke depan.

“Nggak penting pengin jadi bos atau karyawan. Tapi yang perlu disadari adalah apakah teman-teman sudah mempersiapkan karir ke depan,” tutur Miky Nuhariadi, S.Farm., Apt., konsultan PT Proquaman Konsultan sekaligus alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.

“Yang penting punya rencana dulu. Teman-teman mau jadi apa kalau udah masuk perusahaan satu atau dua tahun ke depan,” imbuhnya.

Miky mengatakan, sebelum menapaki karir, ada empat hal dalam diri yang perlu dipersiapkan. Yakni, kemampuan teknis, karakter, mindset bisnis, dan kemampuan non teknis (softskill).

Pertama, pada poin kemampuan teknis, pekerja diminta untuk menikmati setiap proses pembelajaran. Kedua, terkait dengan karakter diri, pekerja diminta untuk menjadi diri sendiri. Ketiga, tegas pada aturan bisnis. Keempat, kemampuan non teknis dipupuk dengan bekerja sama dalam tim.

Alumnus FF tahun 2006 itu juga menyampaikan agar calon pencari kerja membekali diri dengan sifat profesionalisme. Caranya, dengan memberikan luaran terbaik sesuai kemampuan setiap waktu di tempat kerja. Sifat profesionalisme dapat dilihat dari kredibilitas, kepercayaan diri, dan reputasi.

Sedangkan, untuk membangun profesionalisme, seorang pekerja hendaknya memperhatikan empat hal. Hal itu disampaikan Miky dalam acara “Alumni Berbagi: Enters Your Career Journey with Professionalism”, yang digelar FF pada Kamis (26/1), di tempat yang sama.

Pertama, ketepatan waktu dan kehadiran. Kehadiran dan ketepatan waktu menjadi salah satu hal utama. Bagi alumnus Farmasi yang kini bekerja sebagai konsultan salah satu perusahaan, ketepatan waktu akan menjadi penentu produktivitas.

“Menurut riset yang dilakukan peneliti, ternyata, 80 persen kesuksesan itu adalah just showing up by. Ketika lagi meeting dengan atasan bisnis, Anda telat lima menit itu membuat Anda kehilangan banyak informasi,” tutur Miky.

Kedua, kemampuan komunikasi. Miky mengatakan, pada abad ke-21, pekerja diharapkan untuk memperhatikan struktur kalimat yang tepat dalam berkomunikasi, memperhatikan kalimat yang ditulis, berpikir ulang sebelum mengirim surat elektronik, dan lebih memilih bertemu klien secara langsung untuk membicarakan hal-hal yang urgen.

Ketiga penampilan. Pekerja diharapkan memperhatikan penampilan diri. Sebab, penampilan bisa mempengaruhi impresi dan persepsi orang.

Keempat attitude. Dalam membangun attitude, pekerja diharap bersikap menunjukkan antusiasime, bisa diandalkan, dan memilih “kompetitor” guna meningkatkan kemampuan diri.

“Pick your battles. Ini penting untuk meningkatkan kemampuan diri. Anda harus tahu compare dengan siapa. Kalau anda nggak tahu harus compare dengan siapa, kita nggak tahu strateginya,” tutur Miky.

Hal lain yang tak kalah penting, pekerja harus memiliki kompetensi dan inisiatif. Dalam hal kompetensi, Miky menyarankan pekerja untuk menjadi “be a paid expert”.

“Kalau klien bayar saya, ya, saya harus kasih yang terbaik,” terangnya.

Kompetensi itu juga diperlukan untuk melakukan pekerjaan seefisien dan seefektif mungkin.

Terkait inisiatif, Miky menyampaikan, pekerja yang memiliki inisiatif tinggi akan dianggap memiliki nilai diri yang cukup positif. Seorang pekerja bisa dinilai mandiri dan karirnya meningkat lebih cepat bila memiliki inisiatif yang cemerlang.

“Terakhir, kalau Anda mau dihargai, ya hargailah orang,” ujarnya mengakhiri. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone