Prof Stefanus: Kajian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Memiliki Cakupan Luas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Menurut Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr, MS., bidang ilmu yang ia geluti saat ini adalah ilmu seputar manajemen kebijakan kesehatan yang mencakup rumah sakit, dinas kesehatan, puskesmas maupun klinik. Cakupan lainnya yakni, urusan yang berkaitan dengan pembuatan sistem kesehatan. Misalnya, suatu jaringan penyedia pelayanan kesehatan dan orang-orang yang menggunakan pelayanan tersebut di suatu wilayah. Dia meyakini bahwa kondisi kesehatan dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan, genetika dan perawatan medis.

“Studi Ilmu Administrasi dan Kebijakan Kesehatan memiliki cakupan luas dan aplikatif. Karena, kebutuhan akan kesehatan sangat fundamental nilainya. Sumbangsih yang diberikan tidak lain untuk sistem kesehatan lokal dan nasional” kata dia.

Karir akademik Stefanus di bidang kesehatan dimulai ketika kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR). Setelah menamatkan studinya di tahun 1977, ia sempat mengabdikan diri sebagai dokter di beberapa puskesmas di Gresik. Tahun 1983, ia menamatkan studi S2 di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Pada waktu itu, ia sudah meniti karir sebagai asisten ahli.

Dalam tesisnya, ia mengangkat pencegahan kecelakaan kerja. Tahun 1994, di tempat yang sama, ia menyelesaikan studi doktoral melalui program sandwich dari Ditjen Dikti. Dalam desertasinya, ia mengangkat perrmasalahan manajemen diare bayi melalui analisa faktor determinan pada bayi baik secara pengasuhan dan kondisi lingkungan.

Selama menjadi tenaga pengajar, Stefanus pernah menjabat di posisi penting FKM Unair, mulai dari Ketua Minat AKK (S2), IKM-Unair (1995–1999), Ketua Bagian AKM-FKM Unair (1995–2000), Ketua Minat MPK Pascasarjana (1998-sekarang) dan Pembantu Dekan II FKM (2000-2007).

Pengabdian diri terhadap masyarakat, khususnya di bidang administrasi dan kebijakan kesehatan, sering kali ia lakukan di pelbagai tempat. Mulai dari penyuluhan kesehatan, konsultasi manajemen dan sistem kesehatan, sosialisasi hidup sehat dan masih banyak lagi. Menurutnya, di setiap daerah saat ini ingin mewujudkan sistem kesehatan yang baik untuk masyarakat. Kehadiran Sekolah Kesehatan ataupun Institusi Kesehatan lainya sangat membantu menata sistem.

Gelar Guru Besar didapat oleh Stefanus pada tahun 2005. Dalam pidatonya, Profesor kelahiran Tulungagung tersebut memaparkan mengenai reformasi kesehatan di Indonesia. Sistem kesehatan di Indonesia dapat ditinjau salah satunya melalui aspek pembangunan kesehatan yang baik. Masalah pembangunan dapat ditinjau dari ketidakmampuan mengendalikan dampak negatif pembangunan yang kurang efektif dan efisien. Sehingga hasil pembangunan kesehatan tidak memuaskan.

Untuk itu, Stefanus menilai betapa perlunya kecermatan dalam reformasi kesehatan. Yakni dengan melakukan reorientasi, restrukturisasi, pembangunan sistem pembiayaan kesehatan, kemitraan, serta pemberdayaan. Berbicara mengenai sistem kesehatan di Indonesia, Stefanus menjelaskan bahwa yang menjadi hambatan penerapan sistem ini adalah kebijakan yang berubah-ubah. (*)

Penulis: Ahalla Tsauro
Editor: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu