Airlangga Surgical Anatomy Development Center, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga. (Foto: Sefya H. Istighfarica)
ShareShare on Facebook701Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Memiliki laboratorium penunjang kegiatan akademik yang berkualitas menjadi nilai plus bagi perguruan tinggi begitu pula dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR). Fakultas tertua di UNAIR itu memiliki laboratorium unggulan bernama Airlangga Surgical Anatomy Development Center atau ASAD-C. Pengelolanya adalah Departemen Anatomi Histologi.

Laboratorium ini dilengkapi berbagai fasilitas yang canggih. Ada sistem video operasi tiga dimensi (3D), pendant, dan refrigerator fresh cadaver. Penggagas berdirinya ASAD-C Asra Al Fauzi, dr. Sp. BS, mengungkapkan, fasilitas di ASAD-C tergolong canggih. Dirinya mengaku telah menyaksikan venue laboratorium sejenis yang terdapat di sejumlah negara asing, dan kemudian membandingkannya dengan fasilitas laboratorium ASAD-C.

”Kita patut berbangga. Apalagi di Indonesia laboratorium ini baru ada di UNAIR. Saya berani katakan, venue ini yang terbaik di Asia atau setidaknya di Asia Tenggara. Di Universitas Chulalongkorn, Thailand, juga ada tetapi tidak sebagus punya kita. Mereka tidak punya video 3D. Di Jepang juga tidak ada fasilitas 3D. Di Amerika saya juga sudah lihat,” ungkapnya yang ditemui dalam kesempatan khusus.

Bahkan, apresiasi atas keberadaan ASAD-C ini juga bermunculan dari para peserta asing yang pada kesempatan lalu menjadi tamu pada acara “The 11th Asian Congress of Neurological Surgeons (ACNS) 2016 di FK.

This is better (Fasilitas di sini lebih baik). Saya akan pindah dan akan memanfaatkan tempat ini bila nanti mengadakan workshop kadaver,” kata Asra menirukan ucapan peserta lokakarya.

Laboratorium kadaver ini sangat cocok untuk kegiatan lokakarya dan pelatihan anatomi manusia. Perlahan namun pasti, tempat ini mulai dikenal. Terbukti beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan FK UNAIR berkait dengan pemanfaatan laboratorium kadaver ini. Bahkan dari luar negeri juga ada yang mengajukan permintaan yang kepentingan yang sama.

Rencananya, keberadaan ASAD-C tak hanya diperuntukkan sebagai sarana pelatihan tetapi juga dimanfaatkan untuk pengajaran anatomi mahasiswa FK. Dengan menggunakan video 3D maka mahasiswa akan lebih mudah memahami anatomi tubuh.

“Karena gambarnya terlihat lebih nyata. Misalnya di belakang paru-paru terdapat jantung. Di belakang mata, ada syaraf ini syaraf itu akan terlihat begitu nyata. Akan beda jika cuma dijelaskan melalui power point saja,” katanya.

Meskipun ASAD-C belum dilansir secara resmi, fasilitas ini telah berfungsi dengan efektif. Beberapa tahun terakhir telah diadakan sejumlah lokakarya tingkat internasional di tempat ini. Seperti acara “11th Asian Congress Neurosurgical Surgeons” dan “21th Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia Conferences” itu diikuti oleh ratusan peserta dari 44 negara. Narasumbernya terdiri dari pakar-pakar dari Jepang, Jerman, Korea, Hongkong, Turki, Indonesia, hingga Afrika.

Dalam waktu dekat, ASAD-C akan kembali dimanfaatkan untuk pelaksanaan lokakarya di bidang bedah plastik, dan orthopaedi. Panitianya penyelenggaranya pun tidak selalu dari FK UNAIR. Ada juga yang berasal dari Jakarta. Asra mengatakan, pihaknya optimis bila ASAD-C makin dikenali dan diminati dunia untuk kegiatan akademis.

“Ini sebuah kebanggaan. Juga merupakan international branding bagi institusi Universitas Airlangga di mata dunia. Branding kan bisa bermacam-macam caranya. Bisa dengan meningkatkan jumlah publikasi internasional, meningkatkan kapasitas dosen, bisa juga dengan memunculkan venue seperti ASAD-C ini. Bahkan hal ini juga bisa menjadi branding bagi Surabaya yang punya venue khusus seperti ini,” katanya. (*)

Penulis: Sefya H. Istighfarica
Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook701Tweet about this on Twitter0Email this to someone