Mengkritik Lewat Pementasan Dramaturgi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Adegan dalam Pertunjukan Dramaturgi ke 12 Berjudul AA II UU (16/1). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dramaturgi telah memasuki penampilan yang ke 12. Pementasan yang dibuat oleh mahasiswa mata kuliah Dramaturgi Sastra Indonesia Universitas Airlangga tahun ini menyuguhkan dua pementasan, yakni naskah AA II UU karya Arifin C. Noer dan Malam Jahanam karya Motinggo Boesje. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pertunjukan tahun ini diadakan di gedung Srimulat Taman Hiburan Remaja pada Senin, (16/1). Acara dibuka oleh tarian remo dari mahasiswa Sastra Indonesia, dilanjutkan oleh sambutan pimpinan produksi, Citra, dan Puji Karyanto selaku dosen pengampu mata kuliah Dramaturgi.

AA II UU yang disutradarai oleh Chendra Mitra membuka jalannya pementasan. Setting panggung menggambarkan keadaan sebuah rumah dengan ruang tamu dan kamar tidur. Tampak tokoh UU dan Mama di dalam kamar. Terlibat percakapan panjang antara UU dan Mama yang membicarakan tentang sejarah. UU mengaku pada Mama ingin menjadi ahli sejarah, namun dibalas bahwa lulusan Sejarah akan sulit mencari kerja.

Adegan selanjutnya mengambil fokus di ruang depan. Adegan tersebut merupakan adegan usai makan malam keluarga yang dihiasi dengan obrolan-obrolan seputar jurusan yang diambil anak-anak Rustam. Di sela-sela perbincangan, UU mengutarakan niatnya menjadi ahli sejarah. Keinginannya itu ditentang Papa. Hal tersebut membuat UU kecewa dan marah sehingga memutuskan mengunci diri di kamar. Kedatangan Om Bahar dan Tante Seli diharapkan mampu mencairkan kemarahan UU. Namun UU tetap saja tidak bergeming, ia tetap ingin belajar di Jurusan Sejarah.  Terjadi obrolan panjang antara Om Bahar, Tante Seli, Papa, dan Mama yang sama-sama memikirkan jalan keluar agar UU menyerah.

Pergantian adegan dilakukan kembali di kamar untuk mengecek keadaan UU. Keluarga tersebut membicarakan keanehan UU yang selalu menjawab dengan kalimat ‘Ya, Ma’. Mereka mulai berspekulasi kalau UU kesurupan. Hingga pada akhir adegan Mama menyetujui pilihan UU untuk masuk Sejarah dan lampu dipadamkan.

Malam Jahanam

Sama seperti pertunjukan pertama, pertunjukan kedua yang disutradarai oleh Faridah Eka Fatmala digarap dengan alur dan setting realis sebuah perkampungan. Awal adegan, suara tawa menggelegak terdengar dari ujung panggung. Muncullah sesosok lelaki bernama Utai yang berpakaian compang-camping dan berjalan serampangan, lalu menuju sebuah rumah dan meminta rokok. Tidak mendapatkan sambutan, ia pergi menuju rumah Paijah. Paijah muncul mengangkat jemuran dan meminta bantuan Utai memasukkan jemuran ke dalam rumah. Di depan Utai, Paijah mengadu sedang menunggu suaminya pulang. Panggung dibiarkan kosong hingga datang Tukang Pijat yang lewat dengan suara rombeng. Adegan selanjutnya menampilkan tokoh Mat Kontan yang berperan sebagai suami Paijah yang terlibat pertikaian dengan Soleman karena Burung Mat Kontan yang mati dan menuduh Soleman membunuh Burung Beonya. Hingga pada akhirnya Paijah mengaku bahwa ia yang membunuh burungnya. Ia juga mengaku kalau anak mereka adalah hasil perselingkuhan Paijah dengan Soleman lantaran Mat Kontan jarang di rumah. Hal tersebut memicu pertengkaran antara Mat Kontan dan Soleman hingga menyebabkan tewasnya Soleman. Mat Kontan membicarakan kematian Soleman pada Tukang Pijat, lalu keluar dari panggung. Masih dalam bingkai adegan yang sama, terdengar teriakan histeris Paijah dari dalam rumah. Ia keluar menggendong bayinya yang sudah mati karena sakit. Adegan ditutup dengan tangisan Paijah dan disaksikan Tukang Pijat di sebelahnya.

Dua pementasan dramaturgi ke 12 memiliki keragaman dalam segi penceritaan. Pementasan pertama berisi kritikan terhadap masyarakat yang meremehkan jurusan yang jarang diminati, sedangkan pementasan kedua menggambarkan konflik rumah tangga. Gedung pementasan dipenuhi tamu undangan tidak hanya dari keluarga Sastra Indonesia, melainkan berbagai jurusan.

“Mata kuliah ini memberikan kesempatan pada mahasiswa yang ingin merasakan ekstase main teater. Adik-adik kita dengan penuh semangat dalam waktu yang relatif singkat, mereka berproses mulai menyiapkan naskah, latihan, sampai eksekusi malam ini. Melalui teater, kita diberi ruang untuk belajar tentang masalah-masalah yang dihadapi dan kemungkinan memecahkannya,” tutur Puji Karyanto. (*)

Penulis :  Lovita Marta Fabella
Editor : Faridah Hari

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu