Ilustrasi UNAIR NEWS
ShareShare on Facebook244Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Memahami cara alam semesta bekerja. Itulah yang mendasari ilmu Fisika lahir dan banyak dipelajari oleh sivitas akademika hingga sekarang. Ilmu Fisika menjadi salah satu disiplin akademik yang paling tua sampai saat ini.

Nicolaus Copernicus, misalnya, ia berhasil menciptakan teori heliosentris. Sekitar dua abad kemudian, teorinya dibenarkan oleh Sir Isaac Newton yang juga penemu percepatan gravitasi bumi. Di dalam fisika modern, ada pula Albert Einstein yang mengemukakan teori relativitas khusus. Apa rumusnya yang banyak dikenal? Ya, E=mc2. Ada pula Stephen Hawking yang dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama teori-teorinya mengenai kosmologi, lubang hitam, gravitasi kuantum, dan radiasi Hawking.

Dalam perkembangannya, Fisika tak hanya mempelajari tentang gejala alam tetapi juga sudah menyentuh ranah instrumentasi, material hingga tubuh manusia yang selama ini baru disentuh oleh bidang medis. Tanpa meninggalkan teori dasar, keduanya – baik hal dasar maupun aplikatif – sama-sama dipelajari, khususnya bila kamu melanjutkan studi di program studi S-1 Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.

“Fisika itu ada yang Fisika fundamental yang mempelajari Fisika betul, ada yang aplikasi. Yang aplikasi ini yang bisa diperlukan di industri maupun kedokteran atau medis. Sebetulnya, Fisika itu mempelajari konsep dasar gejala alam. Jadi, semua gejala alam itu dipelajari sama Fisika. Kurikulumnya mencakup sains dan aplikasi,” tutur Koordinator Prodi S-1 Fisika Prof. Dr. M. Yasin, Drs., M.Si, ketika diwawancarai.

Di Fisika UNAIR, terdapat empat kelompok peminatan. Ada minat Fotonika yang berkonsentrasi ke cahaya atau sumber radiasi, dan serat optik. Ada pula Fisika Material yang mempelajari karakteristik material, baik biomaterial maupun non-material, teori-teori partikel, dan nanoteknologi. Ada Fisika Komputasi yang membuat permodelan atas fenomena fisis. Ada pula Fisika Instrumentasi yang membuat instrumen-instrumen untuk keperluan medis seperti ECG (electrocardiography), maupun keperluan non-medis.

Di samping mempelajari teori-teori dasar dalam mata kuliah Fisika I dan II, atau Fisika Kuantum seperti di perguruan tinggi lainnya, ada sejumlah mata kuliah pilihan yang merupakan muatan lokal. Adanya muatan lokal itulah yang menjadi ciri khas prodi S-1 Fisika UNAIR.

Ciri khas itu dipengaruhi oleh citra UNAIR yang dikenal sebagai perguruan tinggi pusat ilmu kesehatan. Ciri khas itu bisa ditemui melalui mata kuliah-mata kuliah seperti Biofisika, Fisika Kedokteran, Biomaterial, Biofisika Lanjut, serta Instrumentasi dan Sinyal Medis.

“Yang khusus, aplikasi di bidang medis, biomaterial untuk implan tulang, di prodi lain mungkin tidak ada. Fotonika dalam bidang medis, misalnya untuk OCT seperti CT Scan, ini pakai sumber cahaya optik. Itu yang spesifik di program studi Fisika. Istilahnya, life science tapi nuansanya medis,” tutur Yasin.

Lalu, bagaimana dengan non-medis? Meski tak banyak, ada pula mahasiswa-mahasiswa Fisika yang melakukan praktik kerja lapangan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) selama beberapa minggu.

Di bidang aplikasi industri, prodi S-1 Fisika UNAIR memiliki kerjasama dengan Sekolah Tinggi Energi dan Mineral Migas (STEM Akamigas), Cepu. Di sana, sivitas akademika Fisika UNAIR memiliki kerjasama suatu aplikasi di kilang minyak untuk mengukur level ketinggian tangki bahan bakar minyak, aliran, serta pengaruhnya terhadap suhu.

Dengan adanya peminatan yang beragam, diharapkan para calon mahasiswa S-1 Fisika UNAIR bisa mengetahui alternatif apa saja yang bisa ditekuni ketika menjalani studi. Masuk ke Fisika memang tak harus menjadi fisikawan seperti Copernicus, Newton, Einstein maupun Hawking. Tetapi, kamu bisa mengaplikasikan ilmu alam baik di bidang medis maupun industri.

“Dengan masuk Fisika UNAIR, maka lulusannya idealnya jadi ilmuwan. Tapi tidak semua jadi ilmuwan. Artinya, masuk Fisika bisa melanjutkan studi yang lebih tinggi karena beasiswa banyak. Serta siap masuk dunia kerja di bidang medis maupun industri,” ujar Yasin mengakhiri. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook244Tweet about this on Twitter0Email this to someone