Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D., (Foto: UNAIR News)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Guna menggenjot jumlah publikasi penelitian di jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus, Bidang Tiga Universitas Airlangga mengadakan roadshow ke fakultas-fakultas. Bidang Tiga ini merupakan badan, pusat, dan lembaga yang berada di bawah struktur Wakil Rektor III yang bertanggung jawab terhadap kerjasama, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Kali ini, Senin (16/1), Bidang Tiga mengadakan roadshow ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dalam roadshow yang diikuti oleh para dosen di fakultas, hadir petinggi bidang tiga yang terdiri dari Wakil Rektor III Prof. Ir. M. Amin Alamsjah, Ph.D., Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D.,  Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat (LP4M) Prof. Jusuf Irianto, M.Comm., dan Sekretaris International Office and Partnership Margaretha Rehulina, M.Sc.

Di bidang publikasi penelitian, Hery memaparkan kewajiban dosen terutama doktor, lektor kepala, dan lektor untuk melakukan publikasi penelitian. Kalangan profesor wajib melakukan publikasi penelitian minimal sebanyak 1 judul per tahun. Sedangkan, lektor kepala wajib melakukan publikasi minimal sebanyak 1 judul per 2 tahun. Selain itu, mahasiswa S-3 juga diwajibkan untuk melakukan publikasi penelitian di jurnal internasional.

Hal tersebut untuk mendukung target UNAIR tahun 2017 untuk mempublikasikan sebanyak 438 publikasi riset terindeks Scopus dan Thomson Reuters.

Selain Hery, ada pula Jusuf di mana pihaknya akan melakukan pendampingan dalam pembuatan proposal pengabdian masyarakat pada lingkungan akademik Universitas Airlangga.

Penguatan kerjasama

Salah satu cara untuk mendukung jumlah publikasi penelitian adalah penguatan kegiatan kerjasama internasional. Margaretha memberikan contoh, dalam satu relasi kerjasama antara UNAIR dan perguruan tinggi mitra, setidaknya ada tiga kegiatan yang bisa dilakukan. Yakni, pertukaran mahasiswa, staf, dan kolaborasi riset.

“Agar tidak ada sleeping MoU (memorandum of understanding), kirim saja lima atau sepuluh mahasiswa ke university partner. Di awal dan di akhir semester, dikirim juga staf (pengajar) ke sana. Itu sudah terhitung sebagai visiting scholar. Selama satu semester itu, lakukan komunikasi yang intensif dengan profesor di sana. Pasti dalam komunikasi itu, berbuah ide-ide untuk melakukan riset. Masalahnya sekarang, apakah ada semangat atau tidak?,” tutur Margaretha.

Ke depan, Margaretha berharap, setiap fakultas memiliki duta fakultas (faculty ambassador) yang bertugas sebagai perantara komunikasi antara lembaga pusat dan fakultas. Dosen Fakultas Psikologi itu menambahkan, bahwa pihak IOP juga bertugas untuk menjembatani komunikasi kerjasama antara mitra dengan pihak fakultas yang ingin melakukan kerjasama. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Faridah Hari

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone