Ilustrasi UNAIR NEWS
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Program Studi S-2 Ilmu Linguistik merupakan salah satu prodi yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Prodi yang baru meluluskan dua angkatan tersebut mulai menerima mahasiswa baru sejak tahun 2013. Meski demikian, prodi yang baru seumur jagung ini sudah mengantongi nilai akreditasi B.

Ditemui di meja kerjanya, Dr. Ni Wayan Sartini M.Hum., selaku koordinator prodi S-2 Ilmu Linguistik  menjelaskan bahwa prodi yang dipimpinnya tersebut memiliki beberapa perbedaan dibanding dengan keilmuan yang sama di perguruan tinggi yang lain. Keilmuan di prodi ini, katanya, menjadikan linguistik budaya sebagai salah satu kekuatannya.

“Kita memiliki ciri linguistik kebudayaan karena kita berada pada di lingkungan FIB jadi arah analisis dan penelitian diarahkan ke budaya,” jelasnya.

Doktor lulusan Universitas Udayana Bali tersebut juga menegaskan, meski bahasan keilmuan mengarah ke linguistik budaya, dasar dari keilmuan linguistik tidak serta merta dikesampingkan. Ciri linguistik budaya sendiri, bagi perempuan yang akrab disapa Wayan tersebut merupakan cara untuk mengarahkan anak didiknya lebih mahir dalam menganalisis linguistik budaya, terlebih pada kajian budaya urban.

“Mahasiswa juga boleh menganalisis yang lain, tapi ini ciri kami, linguistik budaya yang mengarah ke budaya urban,” terang Wayan.

Selain linguistik budaya, prodi S-2 Ilmu Linguistik UNAIR mempunyai keunggulan yakni menganalisis melalui linguistik korpus. Baginya, linguistik korpus merupakan nilai lebih yang dimiliki S-2 Ilmu Linguistik UNAIR. Linguistik korpus dianggap sebagai salah satu cara untuk menguatkan bahwa ilmu linguistik bisa diterapkan dalam keilmuan yang lain seperti psikologi dan sosiologi.

BACA JUGA:  BAPOMI Jatim Gelar POMDA, untuk Seleksi Atlet ke POMNAS XV Makassar

“Linguistik ini bisa menjadi alat untuk semua penelitian, misal mau mengkaji psikologi atau sosiologi linguistik, cirinya tetap di linguistik budaya alatnya di korpus,” tambah Wayan.

Mengenai prospek lulusan, Wayan juga menjelaskan bahwa lulusan S-2 Ilmu Linguistik UNAIR sudah merambah ke banyak profesi, mulai dosen, penerjemah, media, guru, periklanan, bahkan Wayan juga menegaskan bahwa tidak bisa dipungkiri, ke depan keilmuan linguistik bisa merambah ke dunia forensik, teknologi, politik, dan kesehatan.

“Kita juga akan mengembangkan beragam model mata kuliah yang tepat seperti apa. Itu kami lakukan terus dengan mengundang alumni dan mitra untuk memberikan masukan kira-kira mata kuliah ini akan diarahkan ke mana,” imbuhnya.

Menambahkan pernyataan Wayan, salah satu dosen S-2 Ilmu Linguistik UNAIR Viqi Ardaniah, M.A. Linguistics., mengungkapkan bahwa prodi tempatnya mengajar tersebut juga memiliki satu keunggulan yang tidak banyak dimiliki program master di UNAIR, yakni adanya himpunan mahasiswa.

“Keunggulan selanjutnya kita memiliki Hima, meski kami masih sangat baru. Fungsi Hima itu sendiri selain untuk memelopori berbagai kegiatan juga untuk koordinasi penerbitan jurnal-jurnal,” terang Viqi. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone