Irwadi Djaharu’ddin, drg., M.S., Sp.Ort.(K) usai mempertahankan disertasinya. (Foto: Sefya H. Istighfarica)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tindakan cabut gigi tak bisa dilakukan asal-asalan. Dokter gigi memerlukan sebuah rumus prediksi untuk memastikan kapan sebaiknya perawatan pencabutan gigi dilakukan. Dalam hal ini adalah kasus ketidakteraturan letak gigi geligi.

Kasus maloklusi atau ketidakteraturan letak gigi geligi adalah problem serius. Penyebabnya adalah faktor genetik, kurang nutrisi, gigi berlebih, karies, juga karena ketidakserasian antara ukuran gigi dan rahang. Kasus ini umumnya menimpa anak usia 6-12 tahun tepat pada masa pergantian geligi.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperlihatkan bahwa maloklusi adalah masalah prioritas dalam bidang kedokteran gigi, setelah karies dan penyakit jaringan pendukung gigi atau periodontal. Prevalensi maloklusi pada remaja di Indonesia juga tinggi. Tercatat sejak  tahun 1983, prevalensi maloklusi pada remaja mencapai 90 persen, dan hingga tahun 2006 tercatat sebanyak 89 persen.

Dalam ujian doktor terbuka Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, promovendus Irwadi Djaharu’ddin, drg., M.S., Sp.Ort.(K) mengungkapkan untuk mengatasi maloklusi yang semakin parah, perlu dilakukan tindakan pencabutan gigi seri. Upaya ini dapat dilakukan pada anak berusia 8-12 tahun.

Di sisi lain, masih terjadi pro kontra mengenai tindakan pencabutan gigi seri sehingga dokter gigi memilih menunda perawatan sampai semua geligi permanen tumbuh. Namun menurut pria kelahiran Bukittinggi, 8 Juli 1950 ini, tindakan pencabutan gigi seri adalah bentuk perawatan gigi yang masih eksis.

“Perawatan ini bermanfaat untuk memperkuat otot, memperbaiki kelainan sedini mungkin, mencegah karies karena geligi yang berdesakan dan menghindari terjadinya maloklusi yang semakin parah,” tutur Djaharu’ddin, ketika diwawancarai usai sidang di Aula FK, Selasa (10/1).

Hal yang seringkali menjadi pertanyaan para dokter gigi umum adalah waktu tindakan pencabutan gigi seri dilakukan. Melalui disertasinya, Djaharu’ddin menghasilkan temuan baru bernama rumus prediksi erupsi gigi kaninus permanen dan premolar.

Erupsi adalah proses pertumbuhan gigi sejak terbentuknya benih gigi, hingga muncul di rongga mulut dan berkontak dengan gigi antagonisnya. Sedangkan, gigi kaninus permanen dan premolar adalah gigi tumbuh terakhir sebelum gigi molar dan ketiga mengalami erupsi. Gigi kaninus sangat berpengaruh dan berperan terhadap estetika wajah manusia karena menyangga sudut mulut. Namun seringkali kurang mendapat tempat.

BACA JUGA:  Singkirkan Lawan Se-Jatim, UKM Tapak Suci UNAIR Raih Kemenangan

Dalam metode terdahulu, erupsi gigi diprediksi berdasarkan usia anak, dan melihat perkembangan akar. Namun untuk memprediksi hal tersebut diperlukan pengalaman serta keahlian khusus agar prediksi ini valid.

Rumus prediksi temuan Djaharu’ddin memanfaatkan foto panoramik. Menurutnya, foto panoramik adalah standard dan tidak dipengaruhi oleh posisi film yang berbeda. Dengan memanfaatkan metode panoramik akan diketahui prediksi kapan pencabutan gigi seri dapat dilakukan.

Prediksi saat erupsi gigi dilakukan dengan empat cara. Yakni, mengamati rata-rata saat erupsi gigi, melihat perkembangan akar gigi, mengkorelasikan usia, tinggi badan, berat badan, dan jumlah gigi permanen yang telah erupsi.

Untuk bisa menemukan metode tersebut, Djaharu’ddin membutuhkan keuletan yang cukup besar untuk mengumpulkan data dan meneliti dengan seksama. Penelitiannya ini sudah berlangsung selama 28 tahun. Di tahun 1988, ia pernah menemukan rumus prediksi erupsi gigi menggunakan indeks erupsi dengan prinsip mengukur jarak vertikal. Namun rasa penasaran terus memotivasinya untuk menemukan metode prediksi yang lebih baik.

“Saya sering menemukan kasus ini di tempat praktik. Kasusnya begitu variatif dan sangat personal. Sementara kebanyakan dokter gigi umum kurang memahami hal tersebut. Maka dari dulu saya ingin ada solusi untuk memudahkan para dokter gigi memprediksi kapan perawatan bisa dilakukan tepat waktu dan tepat indikasi,” ungkapnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, UNAIR tahun 2008 ini berharap rumus prediksi temuannya tersebut dapat menjadi acuan mengenai kepastian waktu pencabutan gigi seri dilakukan.

Rumus prediksi ini juga berguna untuk menentukan data antemortem usia anak yang menjadi korban kekerasan maupun kecelakaan. Metode ini membantu orthodontik forensik. “Karena dengan melihat memeriksa giginya sudah bisa ditemukan informasi berapa usia. Dan pemeriksaan melalui gigi lebih akurat, butuh waktu singkat dan tidak makan biaya besar,” terang Djaharu’ddin. (*)

Penulis: Sefya H. Istighfarica
Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone