Satria Nur Sya’ban mahasiswa FK UNAIR 2012 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS - Pengalaman berorganisasi ternyata membawa nilai lebih bagi Satria Nur Sya’ban. Setelah dipercaya menjadi ketua Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) yang merupakan organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional, baru-baru ini mahasiswa yang akrab disapa Satria, dipercaya menjadi ketua regional  International Federation of Medical Students’ Association (IFMSA) wilayah Asia Pasifik.

Proses pemilihan ketua regional IFMSA wilayah Asia Pasifik ini berlangsung melalui musyawarah dan pengambilan suara dari berbagai negara anggota federasi yang hadir dalam acara pertemuan di kota Puebla, Mexico. Usai dilantik menjadi Direktur Regional Asia-Pacific, Satria pun  mengagendakan sejumlah kegiatan yang akan diikuti sepanjang tahun 2017.

“Ya kegiatan untuk tahun ini antara lain seperti acara Regional Committee for the Western Pacific, WHO Regional Committee for Southeast Asia,” terangnya.

Bagi mahasiswa FK UNAIR angkatan 2012 ini, menjadi ketua IFMSA wilayah Asia Pasifik merupakan  kesempatan untuk mengadvokasikan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan, menyampaikan aspirasi anggota IFMSA dalam forum tingkat internasional, sekaligus  membangun relasi untuk IFMSA dan beberapa negara organisasi anggotanya.

“Untuk anggota IFMSA wilayah Asia Pasifik terdiri dari Indonesia, Australia, Fiji, Jepang, Singapura, Uzbekistan, Mongolia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Bangladesh, Kazakhstan, Nepal, Taiwan, Korea Selatan, China, dan Hong Kong,” imbuhnya.

Sebagai pemegang kendali  atas wilayah regional Asia Pasifik,  Satria dipercaya untuk  mengkoordinasikan dan memfasilitasi aktivitas dan perkembangan dari organisasi tingkat nasional di regio Asia-Pasifik yang tergabung di dalam IFMSA. Termasuk memastikan berbagai organisasi nasional ini agar dapat  memanfaatkan secara maksimal berbagai kesempatan yang disalurkan oleh IFMSA.

BACA JUGA:  ITD UNAIR Jadi Pusat Unggulan IPTEK, Perguruan Tinggi Bidang Kesehatan dan Obat

Tak hanya itu, pria kelahiran 16 Januari  ini juga menjadi focal person untuk representasi eksternal dari IFMSA dalam acara dan pertemuan yang terjadi di darah Asia-Pacific, yang jika dikonversi menjadi pembagian regional yang digunakan oleh World Health Organization (WHO), mencakup Southeast Asia dan Regio Western Pacific.

Mendapat  pengalaman perdana ini, Satria mengaku khawatir mengemban tanggung jawabnya hingga September 2017 mendatang. Walau begitu, baginya pengalaman adalah keuntungan utama dengan mengikuti organisasi IFMSA. Pengalaman mengunjungi  belasan negara dalam satu tahun , bertemu sejawat dokter yang sudah professional, serta berkumpul bersama sejawat yang memiliki passion yang sama untuk meningkatkan kesehatan dunia.

“Ada senang , ada takutnya juga.  Senang karena usaha dan pengalaman saya akhirnya mengantarkan saya pada kesempatan yang luar biasa ini. Khawatirnya karena kemampuan saya belum mumpuni. Namun saya tetap optimis,  segala persiapan dan pengalaman menjadi Presiden CIMSA dapat membantu saya menjalankan tugas saya sekarang,” ungkapnya.

Menurutnya,  tidak ada kriteria spesifik seperti apa bakal calon yang dipercaya mengemban posisinya tersebut , hanya saja diperlukan kemampuan berorganisasi, berkomunikasi dan berdiplomasi yang baik. Serta membuat sebuah rencana kerja yang jelas dan konkret untuk membawa Asia-Pasifik ke arah yang lebih baik.

“Saya berharap dapat membantu mahasiswa kedokteran, baik dari Indonesia maupun luar negeri, agar memiliki basis, kemampuan, dan rasa kepedulian yang kuat terhadap berbagai isu dan kelemahan sistem kesehatan maupun masalah-masalah kemanusiaan yang ada di sekitar kita,” ungkapnya.

Penulis: Sefya Hayu

Editor: Nuri Hermawan