Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Angka kejadian penyakit periodontitis seperti gusi beradang tercatat masih tinggi di Surabaya. Hal itu disampaikan oleh Guru Besar bidang Ilmu Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga Prof. Dr. Muhammad Rubianto, drg., M.S., Sp.Perio (K), Rabu (11/1). Prof. Rubi menyampaikan hal tersebut ketika ditanya tentang kondisi kesehatan gigi dan gusi.

“Kejadian penyakit yang terbesar dan selalu tinggi itu ada dua yaitu karies pada gigi dan gusi yang beradang. Gigi itu prevalensinya tinggi terus, dan yang parah itu juga gusi beradang. Misal 10 orang Indonesia, ada 11 yang bisa kena gusi beradang,” tutur Prof. Rubi seraya bercanda.

“Katakanlah ada seratus orang yang masuk puskesmas, yang kena ada 90 orang sakit. Kadang-kadang 95 atau semua sakit,” tegas Prof. Rubi.

Menurut Prof. Rubi, penyakit pada gusi itu tak disadari masyarakat. Sebagian besar kondisi gusi orang-orang di Indonesia berwarna merah sehingga bila gusi disikat pasti mengeluarkan darah. Kondisi itu biasa disebut sebagai gusi beradang. Selain gusi beradang, ada pula kondisi yang menunjukkan posisi gusi agak naik. Artinya, orang tersebut mengidap penyakit degeneratif. Ada pula kondisi seluruh gusi membengkak, maka ditengarai adanya tumor.

BACA JUGA:  Pertama di UNAIR, Berbagi Ilmu dengan Tiga Guru Besar Sekaligus

“Saya baru saja membuatkan suatu kegiatan mahasiswa untuk mengukur prevalensi penyakit gusi di puskesmas-puskesmas di Surabaya. Pertama, yang didapatkan (data menunjukkan) penyakit gusi itu tinggi. Kedua, apesnya, di puskesmas itu dokternya tidak punya alat untuk mengukur kesehatan gusi itu,” imbuhnya.

Lantas, apa penyebab angka prevalensi penyakit gusi tinggi di Indonesia? Ia menyebut ada dua faktor. Pertama, rendahnya produk nasional bruto. Kedua, tak ada struktur organisasi di Kementerian Kesehatan yang secara khusus menangani persoalan kesehatan gigi dan mulut.

Terkait dengan pencegahan, profesor yang juga musisi itu juga menyarankan agar seseorang menjaga kesehatan tubuh secara holistik dan komprehensif. Karena gusi merupakan etalase kesehatan sistem organ yang ada di dalam tubuh.

“Jadi, kalau gusi melorot ada penyakit degeneratif, metabolisme protein dan lemak terganggu, atau kena metabolic syndrome. Sekarang kan orang-orang banyak kena metabolic syndrome jadi kena penyakit itu borongan. Hipertensi, gula, lemak. Itu yang harus dihilangkan, maka penyakit periodontitis yang kena akibat sistem itu turun,” pungkasnya.

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan