Ilustrasi UNAIR (Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Menurut lembaga perankingan Quacquarelli Symonds (QS), kriteria penilaian reputasi akademik mengambil persentase sebesar 30 persen. Di Universitas Airlangga, peningkatan reputasi akademik bisa dimulai dari akses dalam jaringan (daring).

Menurut Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR Badri Munir Sukoco, Ph.D., perkembangan era digital harus diikuti dengan penguatan citra UNAIR melalui laman resmi baik laman http://unair.ac.id maupun laman masing-masing program studi. Sebab, publik UNAIR yang sebagian besar merupakan pengguna internet, akan terlebih dulu mengakses keunggulan UNAIR melalui laman-laman yang tersedia.

“Karena kita sekarang kan masuk di era digital, orang akan mengecek performance universitas itu melalui website. Prestasinya apa. Kalau masuk ke level prodi, kurikulumnya bagaimana, berapa tahun bisa lulus, kalau mahasiswa baru selama ini yang mengajar siapa. Harapan kami, ketika website prodi itu sudah mulai terisi secara terus menerus sehingga persepsi orang mulai berubah,” terang Badri.

Setelah adanya pembenahan laman, salah satu hal yang berubah dalam laman UNAIR adalah setiap dosen diminta untuk melampirkan dan memperbarui daftar riwayat hidup yang terdiri dari latar belakang pendidikan, riwayat mengajar, penelitian, publikasi, dan pengabdian masyarakat. Sampai saat ini, sebanyak 432 dari lebih dari 1.500 dosen, yang telah memublikasikan daftar riwayat hidup di laman resmi UNAIR.

BACA JUGA:  Dikti Evaluasi Program World Class University

Kedua, aktivasi akun media sosial akademis. Setiap peneliti hendaknya memiliki akun penelitian di lima media sosial terkait seperti Academia.edu, ResearchGate, Mendeley, ORCID, dan Google Scholar. Usai memublikasikan makalah penelitian, peneliti bisa memanfaatkan akun-akun tersebut untuk berbagi penelitiannya ke publik yang lebih luas.

“Harapan kami, pada tahun ini (2017, red), semua dosen UNAIR punya lima akun tadi. Seiring dengan publikasi yang mereka lakukan, persepsi tentang personal branding itu ada dan menunjang personal branding universitas,” tutur pengajar Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, itu.

Terkait dengan aktivasi akun media sosial akademis, akhir tahun lalu, tim BPP menjalankan program #StartsOnTheInside. Dalam program itu, tim BPP memfasilitasi para dosen untuk mengaktivasi akun media sosial penelitian.

“Alhamdulillah akhir tahun kemarin ada 900 akun peneliti UNAIR yang sudah diaktivasi di Google Scholar. Sisanya, tengah kita pelajari,” imbuh Badri.

Ketua BPP itu menambahkan, pihaknya akan menyampaikan kepada setiap dekan terkait untuk ditindaklanjuti bila memang masih ada sejumlah pengajar yang belum memiliki akun media sosial akademis. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan

mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).