Ilustrasi Alifian Sukma
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Laiknya institusi maupun orang pada umumnya, memasuki tahun baru 2017, Universitas Airlangga juga memiliki sejumlah resolusi dan target-target yang hendak dicapai. Di bidang akademis, UNAIR memiliki setidaknya empat target untuk dikejar pada tahun ini.

Berikut penuturan Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan UNAIR Badri Munir Sukoco, Ph.D., mengenai target dan cara pencapaian kepada UNAIR News:

  1. Meningkatkan jumlah program studi yang terakreditasi A

Pada tahun 2016, jumlah program studi (prodi) yang terakreditasi A versi Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) berjumlah 91. Targetnya, pada tahun 2017, jumlah tersebut meningkat menjadi 108.

Untuk mencapai target itu, prodi-prodi terakreditasi B yang saat ini masih berjumlah 53 akan dibimbing dalam memasukkan borang akreditasi. Selain itu, diperlukan pembenahan-pembenahan infrastruktur untuk menunjang proses akademis.

  1. Meningkatkan jumlah prodi yang terakreditasi maupun tersertifikasi internasional

Saat ini, sudah ada enam prodi di UNAIR yang telah disertifikasi oleh para asesor ASEAN University Networking-Quality Assessment (AUN-QA). Keenam prodi itu adalah S-1 Pendidikan Dokter, Ilmu Hukum, Pendidikan Dokter Hewan, Pendidikan Apoteker, Biologi, dan Kimia. Pada pertengahan Desember 2016 lalu, ada tiga prodi yang kembali divisitasi yakni S-1 Manajemen, Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Sastra Inggris. Rencananya, tahun 2017, UNAIR akan menambah 6 prodi yang akan disertifikasi oleh para asesor AUN-QA.

Selain sertifikasi, prodi juga perlu dinilai oleh lembaga-lembaga akreditasi internasional. Tahun lalu, prodi Magister Manajemen mendapatkan akreditasi dari ABEST21 (The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, a 21st century organization)

“Tahun 2016 lalu, akreditasi internasional yang sudah kita capai ada satu, yaitu MM. Ada empat prodi yang menuju akreditasi internasional di tahun ini,” tutur Badri.

Rencananya, prodi-prodi yang telah dipertimbangkan untuk diakreditasi internasional telah diminta untuk melakukan penyesuaian (benchmarking) ke lembaga akreditasi internasional seperti Accreditation Agency for Degree Programs in Engineering, Informatics/Computer Science, the Natural Science and Mathematics (ASIIN) di Jerman.

  1. Meningkatkan jumlah publikasi riset dan hilirisasi

Pada tahun 2017, UNAIR menargetkan 438 publikasi riset terindeks Scopus dan Thomson Reuters. Pada Senin (9/1), jumlah publikasi riset UNAIR yang terindeks Scopus ada di angka 201. Sedangkan, makalah yang sudah diterima tim redaksi jurnal akademik terindeks Scopus pada tahun 2016 sudah mencapai 220.

BACA JUGA:  Optimalkan Keterbukaan Informasi di UNAIR

“Paling mentok 2015 ini 117 publikasi. Ketika kita berikan insentif, PPJPI (Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah) melakukan proofreading, translate, dan masing-masing fakultas juga mengeluarkan anggaran untuk penelitian internal di fakultas, ada yang sudah ter-accepted pada tahun 2016, ada yang sudah proses. Harapan kami, pada tahun 2017, tabungan dari 2016 itu ada efeknya. Bahasanya tuh kalau di pemasaran carry over effect,” tutur Badri yang juga Koordinator program World Class University UNAIR.

Saat ini, ada 13 produk yang sampai pada tahap tingkatan kesiapan teknologi (TKT) 7. Tahun ini, akan ditambah menjadi 20 produk. Sedangkan, produk TKT 9 akan ditingkatkan dari 4 ke 10 produk. Tahapan dalam TKT menunjukkan kesiapan aplikasi teknologi. TKT 7 menunjukkan demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan atau aplikasi sebenarnya, sedangkan TKT 9 menunjukkan bahwa sistem benar-benar terbukti melalui keberhasilan pengoperasian.

  1. Pengajuan 25 lektor kepala menjadi profesor

Pada tahun 2017, UNAIR akan mengajukan 25 calon guru besar baru. Saat ini, profesor aktif di UNAIR berjumlah 177, diharapkan jumlah itu meningkat menjadi 202. Selain itu, jumlah lektor kepala ditingkatkan dari 351 ke 536 orang. Sementara itu, jumlah doktor dari 615 menjadi 715 orang.

Badri
Badri Munir Sukoco, Ph.D., Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan UNAIR

“Ada ketentuan baru mulai tahun 2015. Bagi orang yang berangkat dari lektor kepala dengan angka kredit 400, 550, atau 700, 45 persennya harus dari publikasi. Misal, dia punya angka kredit 400, dia butuh 450. 450 dikalikan 45 persen ketemu 225 dan itu dalam bentuk publikasi. Kalau dia single author di Scopus kurang lebih butuh sekitar 5 lagi di Scopus. Jadi, memang butuh waktu, kecuali memang rajin menulis dan publikasi,” terang Ketua BPP itu. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone