Ilustrasi UNAIR NEWS
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Salah satu penyebab peternakan di Indonesia kurang berkembang adalah manajemen pengelolaan yang masih tradisional. Hal itu disampaikan oleh dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si, saat diwawancarai oleh tim UNAIR NEWS. Manajemen pengelolaan tradisional yang dimaksud adalah rencana-rencana untuk mengembangkan peternakan, misalnya pengembangbiakan, nutrisi makanan, dan pengetahuan peternak.

Pengelolaan yang masih tradisional itu diakibatkan oleh paradigma peternak yang memandang bahwa peternakan merupakan usaha sampingan atau sekadar investasi jangka pendek. Sehingga bukan tak mungkin peternakan itu berjalan tanpa perencanaan.

“Pengelolaannya masih tradisional. Peternakannya belum sebagai usaha, tetapi masih sebatas tabungan saja. Itu yang nggak bisa. Misalnya, kalau anaknya mau nikah, maka sapi itu dijual. Itu yang bikin nggak bisa (berkembang),” tutur Trilas.

Selain faktor paradigma, perkembangan peternakan juga dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, terutama rumput dan konsentrat. Ketersediaan rumput bergantung pada musim, sementara harga konsentrat di Indonesia berkisar di angka enam ribu rupiah. Dibandingkan Tiongkok, harga konsentrat di Negeri Tirai Bambu dengan kualitas yang sama berada di angka Rp 2.500,00. Sedangkan, pemerintah tak memberi subsidi terhadap pakan ternak. Akibatnya, peternak hanya memberi pakan berupa rumput nirkonsentrat.

Selanjutnya, selain paradigma dan pakan, faktor ketiga adalah pengetahuan yang dimiliki peternak. Menurut Trilas, pengetahuan peternak selama ini didapat secara turun temurun dari keluarga atau lingkungan sekitarnya yang terlebih dulu memelihara hewan ternak. Akibatnya, ilmu pengetahuan terbaru di bidang peternakan jarang didapat oleh para peternak tradisional.

BACA JUGA:  Kebun Binatang Mini ala Fakultas Kedokteran Hewan

“Padahal sekarang kondisinya sudah tidak sama dengan kondisi leluhurnya. Berarti perlu kreasi, nah itu yang tidak tersampaikan ke peternak. Itu yang tahu adalah perguruan tinggi, tapi perguruan tinggi untuk turun juga susah karena butuh biaya. Kita turun kan berarti harus meninggalkan urusan akademis dan membutuhkan fasilitas. Kita sih siap saja dan tidak bisa kalau di sana hanya sehari karena harus berkelanjutan,” ujar ahli inseminasi buatan FKH UNAIR.

Apabila pemerintah ingin mencapai swasembada pangan sebelum tahun 2045, maka ketiga faktor itu perlu diperbaiki secara bersama oleh pemerintah, peternak, dan akademisi perguruan tinggi.

Akibatnya, menurut Trilas, peternak bisa jadi tak memahami masa biakan hewan yang mereka ternakkan. “Kalau rata-rata hanya untuk sampingan, ya, mereka berpikir beranak atau tidak ya terserah. Yang penting diberi makan, ya, sudah. Peternak kita itu seperti itu,” tutur Trilas. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone