Pelatihan Bantuan Hidup Dasar yang diselenggarakan oleh Departemen Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Minggu (25/12), di Pondok Pesantren Gontor Putri V, Kediri. (Foto: Defrina Sukma S.)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Keadaan gawat darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu, tak pandang kelompok maupun tempat. Oleh karena itu, siapapun –termasuk masyarakat awam– hendaknya mengetahui dan bisa melakukan bantuan hidup dasar (BHD) atau basic life support (BLS).

BHD merupakan pertolongan pertama pada pasien dalam kondisi tidak sadar. Kondisi ini bisa menimpa pasien yang mengalami kecelakaan, serangan jantung, komplikasi penyakit, maupun keadaan lainnya yang mengakibatkan pasien kehilangan kesadaran.

Menurut dokter spesialis anestesiologi dan reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prananda Surya Airlangga, M.Kes., dr., Sp.An (K), ada dua langkah yang sebaiknya dilakukan oleh masyarakat awam untuk menyelamatkan nyawa dalam kondisi gawat darurat.

Berikut langkah-langkah yang perlu diketahui oleh masyarakat awam dalam memberikan BHD kepada pasien:

  1. Cek kondisi pernapasan

Untuk mengetahui apakah dia tersebut sadar atau tidak, sebaiknya cek terlebih dahulu hela pernapasan pasien. Para penolong bisa menaruh jari telunjuk di lubang hidung penderita untuk mengetahui kondisi pernapasan.

  1. Cari bala pertolongan

Apabila pasien memang tidak bernapas, maka si penolong disarankan mencari bala pertolongan. Si penolong bisa mengaktifkan alarm bahaya, atau sekadar berteriak minta tolong kepada orang-orang sekitar. Selain itu, segera hubungi petugas medis atau fasilitas kesehatan.

“Salah satu langkah awalnya adalah minta tolong atau mengaktifkan alarm bahaya sehingga orang lain juga bisa membantu. Ketika ada orang yang tidak sadar maka kita minta tolong. Mari kita tolong orang itu bersama-sama, jadi nggak bisa sendirian,” tutur dokter Prananda.

  1. Lakukan pijat jantung

Bila memang pasien diketahui tidak bernapas, maka segera lakukan pijat jantung. Pijat jantung dilakukan semampunya oleh si penolong. Apabila si penolong tidak sendiri, maka pijat jantung bisa dilakukan secara bergantian dengan orang lain.

“Kita bantu dia untuk menjadi sedikit lebih sadar atau sadar. Sehingga, jantung kembali berdenyut. Harapannya, mampu memompa agar paru-paru mendapatkan oksigen, dipompa ke jantung, jantung kembali berdenyut sehingga sirkulasi dalam tubuh kembali berjalan, sehingga otak dan segala macam mendapatkan aliran darah,” tutur dokter yang juga penggagas BLS Community Surabaya itu.

Selain itu, bila dimungkinkan, pijat jantung terus dilakukan sampai tenaga medis datang untuk menolong korban. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone