ZUMROTUS Sholikhah, nyaris tak diijinkan kuliah, malah lulus terbaik Fak. Psikologi UNAIR. (Foto: Dilan Salsabila)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Karakter seseorang sudah terbentuk sejak usia dini. Salah satu pembentukan karakter itu ada pada iklim sekolah. Topik inilah yang kemudian diteliti oleh Zumrotus Sholikhah, yang kemudian terpilih sebagai wisudawan terbaik tingkat sarjana Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, periode wisuda Desember 2016.

Penelitian untuk skripsi itu untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku antisosial pada anak-anak. Persepsi terhadap iklim sekolah yang dimaksud adalah pandangan atau penilaian siswa terhadap kondisi atau budaya di sekolah yang dapat mempengaruhi perilaku siswa.

“Kecenderungan perilaku antisosial yang saya maksud adalah potensi seseorang melakukan perilaku yang melanggar norma sosial, baik yang terbuka, yang sembunyi-sembunyi, maupun ketidaktaatan anak terhadap figur otoritas, yaitu orang tua atau guru,” jelas wisudawan peraih IPK 3,62 ini.

Menurut cewek yang akrab disapa Ika ini, dari 94 anak usia 9-12 tahun yang ia teliti, menunjukkan secara signifikan terdapat hubungan antara persepsi terhadap iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku antisosial pada anak.

”Arah hubungan kedua variabel adalah negatif. Semakin negatif persepsi terhadap iklim sekolah, semakin tinggi kecenderungan perilaku antisosial anak,” kata mahasiswa asal Gresik ini, seraya mengakui bahwa memilih anak-anak sebagai subjek penelitian bukanlah mudah. Banyak anak-anak yang masih kebingungan mengisi kuesioner saat proses pengambilan data itu.

Sebelum mengisi kuesioner itu, siswa harus mengisi identitas diri. Ternyata, kata Ika, banyak siswa yang mengalami kebingungan dan tidak tahu mengenai pekerjaan orang tuanya.

Terkait prestasinya sebagai wisudawan terbaik, Ika mengaku tak ada kiat secara khusus. Ia hanya berusaha semaksimal mungkin dengan iringan doa dari orang tuanya. “Selain itu, saya juga sering bertanya kepada teman dan searching di internet terkait mata kuliah yang belum saya pahami. Lalu berusaha melibatkan Allah di setiap urusan,” katanya.

Sempat Tak Direstui

Ika menyatakan rasa syukurnya bisa menyelesaikan studinya ini. Ini tak lain karena memori sebelumnya bahwa ia sempat tidak mendapatkan restu dari orang tuanya saat hendak kuliah dulu. Kendalanya karena faktor ekonomi. Selain itu, bekerja setelah lulus SLTA sudah menjadi kebiasaan di keluarganya, sehingga ambisinya untuk bisa kuliah saat itu meredup.

Namun, pada saat pendaftaran terakhir masuk perguruan tinggi, anak kedua dari tiga bersaudara ini dipanggil sekolahnya untuk dimintai keterangan soal kondisi keluarganya. Akhirnya sekolah mendaftarkan Ika melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan pengajuan beasiswa Bidikmisi.

”Karena keterbatasan waktu dan tidak ada ambisi untuk kuliah, jujur saat itu saya memilih jurusan agak asal-asalan, dan ternyata saya diterima. Setelah itu saya meyakinkan orang tua dan alhamdulillah pelan-pelan orang tua memperbolehkan saya untuk kuliah,” tutur mahasiswi kelahiran 6 September 1993 ini.

Setelah resmi wisuda ini, Ika berharap ilmunya dapat bermanfaat bagi orang lain, serta memperoleh pekerjaan yang layak guna membantu perekonomian keluarga. ”Kalau memungkinkan, saya juga berharap bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain,” pungkasnya. (*)

Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone