Pentingnya Hitungan Nutrisi untuk Performa Atlet Saat Bertanding

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
TIM medis KONI Jatim yang juga dosen FK UNAIR Dr. Bambang Purwanto, dr., M.Kes dalam seminar penatalaksanaan gizi atlet, di kampus FKM, akhir pekan lalu. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Menjadikan atlet (olahragawan) dalam performa terbaiknya pada saat bertanding, sangat diperlukan pengaturan dan perhitungan asupan nutrisi yang harus dikonsumsi. Ini harus dilakukan baik ketika masih mempersiapan diri, saat bertanding, maupun pasca bertanding. Karena itu di dalam manajemen olahraga prestasi, kehadiran ahli nutrisi atau nutritionis sangat dibutuhkan.

Demikian catatan yang dapat disimpulkan dari “Seminar Sport Nutrition Penatalaksanaan Gizi Olahraga pada Atlet untuk Meningkatkan Performa dalam Bertanding”. Seminar itu dilaksanakan oleh Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, di kampus FKM UNAIR, Sabtu (17/12).

Tujuh pembicara dihadirkan yaitu Dr. dr. Bambang Purwanto, M.Kes., dosen Fakultas Kedokteran UNAIR dan Tim medis KONI Jatim, Prof. Dr. Hardinsyah MS Guru Besar Ilmu Gizi IPB, Ketua Umum Pergizi Pangan, dan Ketua Umum Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI); Dr. dr. Sri Adiningsih, MS., MCN., ahli gizi FKM UNAIR dan ahli gizi KONI Jatim. Juga ada Mury Kuswari, SPd., M.Si., Ketua Umum ANOKI (Asosiasi Nutrisionis Olahraga dan Kebugaran Indonesia) dan Kaprodi Gizi Universitas Esa Unggul; Nazhif Gifari, SGz., M.Si., Founder Gizi Kebugaran Indonesia, Albert Juwono, peraih 3 emas dancer sport dalam PON XIX Jabar, dan Edo Nurhakim, S.Gz., C.Mt., C.NNLP., Health and Nutrition Motivator.

Dalam menentukan minuman atlet agar meraih hasil maksimal, diakui Bambang Purwanto perlu pengamatan yang jeli. Hal-hal yang harus dipertimbangkan antara lain jenis olahraga anaerob atau bukan. Pada olahraga yang butuh pengaturan nafas dalam intensitas tinggi (anaerob), dibutuhkan suatu minuman yang sifatnya anti-asam alias alkali atau basa.

Sebab dalam olahraga ini memicu peningkatan ion H+ (plus) dan produksi laktat dari sel otot menghasilkan asam laktat darah. Dalam air, asam laktat darah akan terdisosiasi (cerai) lagi menghasilkan ion H+. Diperlukan pengikat ion H+ darah, dari bahan yang sifatnya basa atau alkali. Ketika H+ (plus) ketemu OH- (minus) terbentuk air, yang bersifat netral bagi konstituen darah,” imbuh Bambang.

Minuman yang beredar di pasaran ditambahkan perasa asam. Menurut penelitian, ternyata banyak yang pH-nya asam. Jadi tidak cocok untuk olahraga anaerob. Alasannya, acid water menyebabkan ion H+ sulit terdisosiasi dari asam laktat. Asam laktat semakin lama berada di dalam darah, pH darah menjadi rendah dan terjadi asidosis. Memang ion H+ ini tidak bersifat radikal, tapi menyebabkan iritasi otot dan membuat frekuensi nafas meningkat hingga tersengal-sengal.

Minuman-minuman berasa di pasaran banyak yang tidak memikirkan unsur pH. Yang dipikir hanya water dan ion replacement yang laku jual. Isotonic diakui rasanya kurang enak, sehingga yang dilakukan industri minuman dengan menambahkan perasa asam supaya larutan isotonic-nya enak dikonsumsi.

Dosen FK UNAIR ini sudah menguji bersama dua grup mahasiswa. Satu grup diberi minum alkali (grup A), grup satunya diberi acidic water (Grup B). Grup A (alkali) pH-nya diatas 7, sedang grup B (acidic) pH-nya kurang dari 7. Kedua grup lalu diberi minum sama: 400 ml dan diminta lari 800 M dengan batas waktu antara 8-10 menit (kategori anaerob, karena dibawah 20 menit).

Setelah lari dan kadar asam laktatnya diukur, grup A dan B kadar asam laktatnya naik, tetapi kadar asam laktat grup A tak setinggi grup B. Perbedaannya signifikan, Ketika aktivitas lari ini diulang tiga kali, grup A mampu mencatat waktu stabil dan pH darahnya juga konsisten. Sedang grup B pada lari putaran kedua waktunya turun signifikan.

”Jadi ini sangat membantu atlet yang bertanding di cabang olahraga dengan metabolisme anaerob. Kita sering melihat pemain sayap di sepakbola, berlari kencang menggiring bola, tetapi ketika di kotak penalti fokusnya goyah dan tendangannya melenceng,” kata Bambang Purwanto.

Kemudian dalam mengganti cairan rehidrasi sebaiknya dalam kondisi panas atau dingin? Disarankan minuman dalam kondisi sejuk sekitar 21 derajat Celcius. Misalnya minuman yang disimpan dalam kotak yang diberi es balok. Bukan air dalam gelas yang diberi es batu.

Berapa volume yang harus diminum? Bambang memberi rumus: yaitu berat badan (BB) setelah beraktivitas fisik, dikurangi BB sebelum beraktivitas fisik, dikalikan 1000, lalu ditambah berapa air yang sudah diminum saat beraktivitas fisik, dikurangi volume urine-nya (perkiraan saja), dibagi durasi olahraga dalam ukuran menit. Nanti akan ketemu sekitar 300 ml/10 menit, atau kira-kira satu gelas air mineral.

”Yang juga perlu diperhatikan apakah sudah cukup minum air atau belum? Perhatikan urin-nya. Kalau urin makin gelap warnanya, berarti airnya kurang. Jadi tips saya, pilihlah minumanmu dan jagalah kesehatanmu,” kata Dr. Bambang Purwanto mengakhiri. (*)

Penulis: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu