Memaknai Adegan Absurd Teater Gapus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Pementasan Teater Gapus. (Foto: Lovita Martafabella)

“Ternyata, hari ini sudah tidak ada matahari!”

Demikian kalimat pembuka yang dilantangkan salah seorang aktor dalam pementasan Teater Gapus, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, berjudul “Kalamambung”. Kalamambung dibuka dengan musik dramatis yang menggema. Diikuti sorot lampu kemerahan lantas menampakkan sesosok aktor yang berperan sebagai Waktu. Waktu bergerak menyesuaikan tempo musik menuju sebuah properti berbentuk piramida dan kapal. Tak lama, dua aktor lain muncul dari dalam buntalan kain yang sebelumnya digelindingkan Waktu.

Kedua aktor mengisi ruang-ruang kosong panggung dengan berbagai mimik dan gestur disertai dialog berat dan filosofis. Sepanjang cerita, penonton disuguhi dengan adegan-adegan absurd. Cerita dimulai ketika aktor satu memperagakan adegan menelepon menggunakan bata, memakan roti berbentuk bata, menggumam pada diri sendiri, sampai pada adegan klimaks di mana aktor dua menghancurkan tumpukan bata dan akhirnya menggelepar. “Kalamambung” diakhiri dengan dialog antara aktor satu dan dua diikuti gerakan serta tarian sebelum lampu padam dan musik berhenti.

“Pertunjukan Kalamambung di sini dimaksudkan sebagai sebuah keadaan di mana manusia terlahap oleh waktu, maka manusia boleh memilih antara menjadi budak atau mati. Properti piramida yang berujung lancip di atas panggung diartikan sebagai konsep ketuhanan, sedangkan perahu adalah waktu yang terus bergulir,” tutur Yusniar selaku sutradara dari Kalamambung.

pentas-gapus-2

“Perjamuan” absurd

Tak kalah dari pentas pertama, Gapus menyuguhkan pentas absurd kedua bertajuk “Perjamuan” yang hanya mengandalkan properti sederhana perabotan seperti kursi dan meja lengkap dengan hidangan makanan seperti gambaran suasana pesta. Pertunjukan dibuka oleh tiga aktor bernama Doh, Kuh, dan Lah yang saling bergandengan di bawah sorot lampu merah temaram.

Ketiganya melakukan tarian sederhana tanpa melepaskan pegangan tangan satu sama lain. Adegan selanjutnya menunjukkan keadaan pesta. Ketiga aktor sedang berembuk tentang bencana yang dilihat Lah melalui mimpi. Doh dan Kuh tidak percaya dan berusaha menghentikan omong kosong Lah yang mulai merusak kesenangan pesta.

Lah secara tiba-tiba menggeser tempat duduk dari lingkar pesta, lalu lampu padam dengan cepat. Perlahan, sorot lampu muncul dan menampakkan ketiga aktor memperagakan ketakutan dan kesakitan melalui bermacam-macam gestur. Selanjutnya, Doh dan Kuh menyerbu Lah sampai mati. Pertunjukan diakhiri dengan adegan Doh dan Kuh yang menggotong Lah di atas pundak menuju meja perjamuan sebelum lampu perlahan meredup dan padam.

Sama seperti “Kalamambung”, “Perjamuan” lebih menitikberatkan alur pertunjukan yang absurd. Obrolan-obrolan serta gestur yang ditampilkan kedua pertunjukan ini memerlukan pemaknaan lebih mendalam. Teater Gapus sendiri dikenal sebagai komunitas teater yang lebih menonjolkan pertunjukan surealis daripada realis, sehingga tidak heran bila pementasan ke-118 dan 119 ini memiliki alur yang melampaui batas-batas konvensional panggung realis.

“Respon pertama bagi orang awam adalah takjub. Tapi ketika ditanya tentang makna secara keseluruhan, nihil. Mereka yang memang bukan orang teater akan kesulitan mengartikan. Namun beginilah Gapus, tetap berpegang pada pendirian, lebih banyak menyuguhkan pertunjukan secara non-realis,” pungkas Riswan selaku sutradara “Perjamuan” sekaligus Kepala Rumah Tangga Teater Gapus.

Kedua pementasan itu diselenggarakan di Ruang Siti Parwati FIB UNAIR, Sabtu (17/12). Pementasan itu menandai Hari Jadi Teater Gapus ke-27.

Penulis: Lovita Martafabella
Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu