Antusinisme Peserta Konferensi Nasional IKA Ilmu Sejarah saat berkunjung ke Museum Sejarah & Budaya UNAIR (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Sejarah atau biasa disebut IKA Ilmu Sejarah Universitas Airlangga mengadakan Konferensi Nasional pada Minggu (18/12). Konferensi yang berlangsung di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, UNAIR ini merupakan forum kajian akademisi alumni dengan menghadirkan para alumni sebagai pembicara dalam forum.

“Kegiatan IKA Ilmu Sejarah tidak hanya bersifat hiburan semata seperti acara musik dan jalan sehat saja, tetapi juga ingin memberikan kontribusi lebih bagi kemajuan akademik dan pengembangan ilmu sejarah sehingga dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujar Ketua IKA Ilmu Sejarah Adrian Perkasa.

Acara yang berawal dari chat grub Whatapp Alumni Ilmu Sejarah ini dilaksanakan sebagai langkah konkret agar persatuan alumni semakin kuat. Pada konferensi ini, 10 paper terpilih dikaji dalam forum. Kesepuluh paper berasal dari beragam topik kajian sejarah yang diajukan oleh para alumni.

Kesepuluh paper tersebut yaitu Kekerasan Dengan Isu Dukun Santet di Banyuwangi Tahun 1998-1999 (Latif Khusairi), Komunitas Orang India di Surabaya (Reyna, Syarifah, Olivia), Aktivitas Illegal Perekrutan Kuli Deli di Depot Surabaya 1900-1932 (Khasan K. Ma’sum), Hutan yang Dijual: Investasi Sektor Industri Kehutanan Pada Masa Orde Baru (Ryan Pratama), Kajian Historis Administrasi Negara ke Administrasi Publik (Nur Fathin L.), Lemkari Jawa Timur 1972-1981 dan Pertemuan Musik Surabaya 1957-2006 (Pramita D. Rosalia).

Dari kesepuluh judul, terdapat satu judul yang mencuri perhatian hadirin karena memiliki kajian yang unik dan dibawakan secara kelompok. Paper tersebut berjudul Komunitas Orang-orang India di Surabaya yang dibawakan oleh Reyna Aisyah, Syarifah Majid, dan Olivia D. Santoso dengan bersumber penelitian lapangan dan data pustaka.

“Tema ini bersumber dari tugas mata kuliah Etnografi dan sayang bila dilewatkan untuk tidak dikaji secara historis,” ujar Syarifah.

Data yang dipaparkan dalam makalah mereka mendapat pujian dari peserta dan keynote speaker Dr. Sarkawi, S.S., M.Hum yang merupakan dosen Ilmu Sejarah UNAIR.

Foto Bersama
Foto Bersama Pembicara Konferensi Nasional IKA Ilmu Sejarah dengan Dosen Ilmu Sejarah UNAIR (Foto: Istimewa)

Meskipun dibalut dengan kegiatan konferensi, acara terasa berkesan karena dihadiri oleh puluhan alumni Ilmu Sejarah UNAIR yang berasal dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Aceh, dan Madura. Acara ini menjadi ajang temu kangen, mempererat tali silaturahmi, sekaligus menghilangkan rasa canggung yang biasanya muncul antar alumni yang berbeda angkatan.

Forum yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB tersebut sekaligus memberikan ruang bagi alumni yang memiliki pemikiran, ide dan gagasan untuk kemajuan ilmu sejarah dan juga upaya kontribusi ilmu sejarah untuk membangun bangsa dan negara.

Subandi Rianto., S.Hum yang menjadi salah satu pengajar di Sekolah Alam Yogyakarta mengusulkan pembuatan komik dan buku saku bertema sejarah. Hal ini karena lebih efektif dalam menyampaikan materi sejarah, namun tetap dengan cara yang menyenangkan bagi anak-anak.

Di sela-sela acara, para peserta Konferensi Nasional IKA Ilmu Sejarah diajak oleh panitia untuk berkeliling menyambangi ruangan Museum Sejarah & Budaya UNAIR yang baru diresmikan tanggal 1 Desember 2016 lalu. Antusias IKA Ilmu Sejarah semakin meningkat saat Ikhsan Rosyid yang juga dosen Departemen Ilmu Sejarah menyampaikan keinginannya untuk merealisasikan hasil konferensi IKA Ilmu Sejarah menjadi buku bungai rampai dalam waktu dekat.

Respon positif juga dilontarkan oleh Ketua Departemen Ilmu Sejarah, Gayung Kasuma, yang melihat kegiatan-kegiatan IKA Ilmu Sejarah yang semakin beragam, konkret, dan memiliki nilai manfaat selain hanya hiburan. (*)

Penulis : Yudi Wulung
Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone