Airlangga Health Science Institute Siap Bersinergi dengan Pemerintah dan Swasta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Nasronudin., dr., Sp.PD-KPTI.,

UNAIR NEWS – Airlangga Health Sciences Institute (AHSI) dibentuk pada 27 November 2015 melalui Surat Keputusan Rektor. AHSI dikepalai oleh Prof. Dr. Nasronudin., dr., Sp.PD-KPTI., dengan sekretaris Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dr.,Sp.THT-KL(K).

Sejak saat itu, AHSI berupaya melaksanakan tugas utamanya. Yakni, menjadi pilar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan dan kedokteran. Selain itu, AHSI juga bertujuan untuk melaksanakan pelayanan, pelatihan, dan penelitian yang maksimal dan bermanfaat kongkret di masyarakat.

Pengembangan ilmu pengetahuan di AHSI tidak kepalang tanggung. Mulai dari hulu hingga hilir. Penelitian dilaksanakan mulai dari meja laboratorium dengan sampel hewan, yang kemudian melalui banyak tahapan, hingga akhirnya memformulasi obat, perangkat medis, maupun pelayanan yang menyentuh langsung pada kehidupan manusia.

“Terlebih, modal dasar atau potensi yang dimiliki juga memadai. Baik dari segi SDM, maupun fasilitas penunjang. AHSI memiliki laboratorium yang ada di unit-unit pendukung. Juga, memiliki sarana layanan umum yang langsung berinteraksi dengan masyarakat. Di sisi lain, keberadaan AHSI juga merupakan mandat Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi,” tutur Prof. Nasron.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat ini pula, kata Prof. Nasron, pihaknya berani dan percaya diri untuk melangkah maju. Apalagi, UNAIR memang digadang-gadang menjadi salah satu pusat penelitian terbaik di tanah air. Melalui AHSI, cita-cita itu akan diraih, tentunya bersama dukungan semua pihak di internal maupun eksternal kampus.

“Untuk mewujudkan AHSI yang terdepan dalam pelayanan, pelatihan, dan penelitian, butuh kerjasama dari banyak pihak. Yakni, A (academic), B (Bussiness), G (Government), dan Community (Masyarakat). Para akademisi adalah tonggak utama untuk menjalankan AHSI dengan baik. Wawasan dan pengetahuan merupakan modal penting untuk melangsungkan bahtera ini. Pemikiran yang jernih dan gagasan menarik merupakan kunci pokok,” imbuh Direktur Utama AHSI.

Sementara itu, kalangan bisnis diperlukan sebagai mitra kerjasama. Khususnya, dalam upaya melakukan aplikasi atau penerapan hasil-hasil penelitian maupun layanan ke masyarakat. Para pebisnis bisa menjadi katalisator dalam pengembangan imu pengetahuan dan teknologi. Misalnya, melalui dukungan finansial yang saling memberikan manfaat tiap pihak. Asalkan, sejak awal tidak ada tendensi untuk saling merugikan, dan tolok ukur utamanya tetap kesejahteraan masyarakat.

Lantas, bagaimana peran government atau pemerintah? Sudah barang tentu, pemerintah sebagai regulator memiliki posisi sentral di semua lini. Adanya kesepahaman dalam memandang satu persoalan, akan membuat pemerintah objektif dalam membuat kebijakan. Baik yang berkenaan dengan anggaran, melalui hibah maupun dukungan dana, maupun yang terkait dengan persyaratan kerjasama yang ringkas dan menguntungkan semua pihak.

Adapun peran Community atau masyarakat dalam pengembangan AHSI adalah berkaitan dengan perlunya pengawalan publik. Kontrol sosial sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas pelayanan yang disuguhkan. Keterbukaan pada masyarakat adalah cermin bahwa suatu institusi sudah melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. (*)

Penulis: Rio F. Rachman
Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu