Pengorbanan Fiory Berbuah Lulus Terbaik S-2 FKG UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
FIORY Dioptis Putriwijaya, ketika mengikuti wisuda pada 3 Desember 2016 lalu. (Foto: Bambang ES)

UNAIR NEWS –  Diperlukan sebuah pengorbanan untuk dapat mewujudkan cita-cita. Kalimat ini tampaknya tepat bagi Fiory Dioptis Putriwijaya, drg., M.Kes., dalam menyelesaikan studi di Program Master Ilmu Kesehatan Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga. Dua tahun perjuangannya itu, kini berbuah manis. Fiory berhasil menyabet gelar wisudawan terbaik S-2, dengan meraih IPK 3,89.

Keberhasilannya ini tak lepas dari sebuah proses. Selama menjalani perkuliahan, perempuan asal Kediri ini harus selalu menempuh perjalanan pergi-pulang Surabaya-Kediri setiap akhir pekan. Jumat sore ia pulang ke Kediri, sebab Sabtu harus ngajar di FKG Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Senin dini hari sudah harus berangkat lagi ke Surabaya, begitu terus sampai lulus.

Perjuangannya tak berhenti sampai disitu. Di semester I, Fiory mengandung anak pertama. Karena mobilitasnya cukup tinggi dalam kondisi hamil, ia sempat ‘bedrest’. Beberapa bulan setelah melahirkan, ia hamil lagi anak kedua ketika semester III. Namun hamil yang kedua ini ia lebih banyak di rumah karena kuliah sudah selesai. Fiory juga bersyukur, semua terlampaui dengan baik. Baginya, keberhasilan ini tidak lepas dari support keluarga, teman-teman, dan para dosen yang pengertian.

“Namun yang berat ketika harus meninggalkan anak-anak yang masih kecil di rumah, karena harus melakukan penelitian dan bimbingan tesis di Surabaya,” kata penghobi traveling ini, seraya menerangkan ia meneliti tentang dampak posisi kerja dokter gigi saat melakukan penambalan gigi.

Hasilnya, lebih banyak duduk selama beberapa menit hingga berjam-jam ketika memeriksa atau menangani gigi pasien menjadi rutinitas pekerjaan para dokter gigi. Walau tampaknya sepele, posisi duduk saat menangani pasien itu dapat memengaruhi kesehatan tulang maupun persendian.  Dari penelitiannya, banyak dokter gigi mengeluh sakit punggung (low back pain) setelah merawat pasien. Lebih spesifik, keluhan sakit punggung ini masuk dalam kategori gangguan muskuloskeletal (MSD).

MSD merupakan gangguan pada otot, tendon, sendi, ruas tulang belakang, saraf perifer, dan sistem vaskuler yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan akut maupun secara perlahan dan kronis. Diantara penyebabnya adalah posisi kerja yang tidak tepat dan faktor pekerjaan seperti distorsi postur, postur statis yang terlalu lama, dan gerakan repetitif. Sebanyak 78% dokter gigi mengeluh sakit pada bahu kanan, 68% sakit pada punggung, dan 63% sakit pada leher atas.

Fiory menyarankan agar para dokter gigi tidak menyepelekan posisi duduk. Memahami posisi duduk yang tepat dan nyaman saat menangani pasien merupakan upaya preventif menghindari resiko terkena MSD. ”Selain bekerja secara ergonomis, jangan lupa olahraga dan kerja sewajarnya, batasi jam kerja dan batasi jumlah pasien agar tubuh beristirahat,” katanya. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha.
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu