Teknik Rekayasa Jaringan, Teori Baru Pengembangan Perawatan Gigi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PROF Dr. Utari Kresnoadi, ketika menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Rekayasa Jaringan di Bidang Prosthetic Dentistry.” (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Guna menangani berbagai permasalahan dalam kesehatan gigi, dunia kedokteran terus berbenah dan berinovasi. Salah satu permasalahan yang masih banyak ditemui di masyarakat adalah trauma pasca-pencabutan gigi. Akibat trauma ini umumnya menimbulkan terjadinya inflamasi yang menyebabkan terjadinya resorpsi tulang alveolar.

Padahal, tulang alveolar ini berguna sebagai penyangga gigi tiruan, sehingga dengan berkurangnya dimensi tulang alveolar, baik vertikal maupun horisontal, akan mempengaruhi retensi stabilitas dan kenyamanan gigi tiruan tersebut. Sedang pada perawatan gigi dengan pemasangan implan, dimensi tulang alveol yang berkurang tersebut mengakibatkan resiko kegagalan gigi tiruan implant.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Utari Kresnoadi, M.S., drg., Sp.Pros(K), dalam orasi ilmiah ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Sabtu (10/12). Guru Besar ke-455 Universitas Airlangga ini menyampaikan orasi bertajuk “Rekayasa Jaringan di Bidang Prosthetic Dentistry.”

”Pada kasus pencabutan gigi, inflamasi dapat terjadi karena trauma pencabutan, dan tindakan pencabutan gigi dapat mengakibatkan adanya sisa ridge (tulang penyangga) yang sempit dan memendek serta menyebabkan atropi tulang rahang. Apabila kondisi ini tidak diatasi maka akan berpengaruh pada pembuatan gigi tiruan yang tidak optimal,” tambahnya.

Dihadapan para undangan di Aula Garuda Mukti, Prof. Utari menyatakan keberhasilan pembuatan gigi tiruan ialah dengan gigi tiruan yang retentif, tidak mudah lepas, dan stabil ketika digunakan mengunyah makanan. Intinya enak dipakai. Dengan demikian, gigi tiruan tersebut memerlukan keadaan anatomis rongga mulut yang mendukung supaya pembuatan gigi tiruan bisa berhasil, dan salah satu keadaan anatomis itu berupa ridge yang prominent. Kemudian untuk mencapai keadaan ridge yang baik harus dimulai dari pencegahan setelah pencabutan gigi. Preservasi soket pencabutan gigi adalah tindakan pencegahan terjadinya resorpsi tulang alveol yang terjadi karena pencabutan.

“Jadi meskipun luka pencabutan sudah menutup, tetapi penurunan tinggi tulang tersebut akan terus berlanjut,” jelasnya.

Dikatakan juga, peran teknologi dalam pengembangan dunia kedokteran gigi, utamanya bidang prostodonsia, sangat dibutuhkan. Baginya, kemajuan teknologi sangat erat dan berpengaruh untuk keperluan estetik serta pengunyahan dan pengucapan. Berbagai perawatan gigi seperti gigi tiruan cekat, mahkota venner, gigi tiruan implan, dsb. banyak bergantung pada kemajuan teknologi.

Beberapa inovasi preservasi soket pencabutan gigi telah banyak dilakukan oleh Departemen Prostodonsia FKG UNAIR dengan melakukan riset menggunakan bahan herbal dengan berbagai macam material graft yang dapat menstimulasi jaringan. Penelitian-penelitian yang dilakukan dengan kombinasi menggunakan Aloe vera dan Xenograft, kulit manggis, dan kitosan.

Penelitian-penelitian tyersebut untuk mendapatkan model pengembangan teknik rekayasa jaringan untuk memperbaiki dan mencegah terjadinya resorpsi tulang penyangga gigi melalui jalur pencegahan keradangan akibat trauma pencabutan gigi dan aktivasi proses pembentukan tulang alveol.

“Penelitian juga dapat meningkatkan efektivitas pendayagunaan bahan herbal tersebut dan bahan graft atau kitosan sebagai bio produk yang ekselen sebagai alterbnatif untuk menurunkan resorpsi ridge tulang alveolar. Rekayasa jaringan ini juga memberikan teori baru untuk pengembangan produk senyawa aktif,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu