Tangani Leptospirosis, Magister Keperawatan Gelar Pengmas di Sampang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Mahasiswa Magister Keperawatan UNAIR Saat Memberikan Penyuluhan Tentang Bahaya Leptospirosis Kepada Masyarakat Kelurahan Dalpenang. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Dampak dari datangnya musibah banjir semakin beragam, mulai penyakit demam berdarah, diare, iritasi kulit, hingga leptospirosis. Penyakit leptospirosis sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri tersebut. Salah satu hewan yang mudah terinfeksi bakteri tersebut adalah tikus.

Guna menanggulangi hal tersebut, sebagai bagian dari insan akademisi yang peduli dengan kehidupan masyarakat, Magister Keperawatan Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR menggelar pengabdian masyarakat di Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura pada Sabtu, (10/12).

Pengabdian Masyarakat yang dihelat di Balai Kelurahan tersebut mengangkat tema “Kenali dan Cegah Leptospirosis”. Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pengmas M. Saleh S.Kp. Ners, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi dari bencana banjir yang sering terjadi di daerah  Sampang. Selain itu, meningkatnya kasus penyakit yang diderita masyarakat pasca banjir, seperti leptospirosis perlu segera ditangani, salah satunya dengan memberikan pengenalan dan cara pencegahannya.

“Sebagai akademisi kami bertanggung jawab untuk mengatasi hal ini. Kami berkewajiban untuk mewujudkan masyarakat sehat,” papar mahasiswa asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di hadapan kader kesehatan, karang taruna, dan berbagai elemen masyarakat, H. Wakil, S.E, yang mewakili Lurah Dalpenang menuturkan bahwa penyakit yang diderita warganya pasca banjir semakin beragam. Ia menuturkan jika dulu umumnya hanya diare, kini sebagian warganya juga menderita leptospirosis.

“Kecamatan Sampang ini memang kecamatan yang selalu terdampak. Bahkan bisa 60 kelurahan kena. Di tahun 2016 saja, khususnya di kelurahan Dalpenang ini, sudah 19 kali terjadi banjir. Makanya pengmas ini sangat penting, terlebih dengan ini masyarakat lebih kenal  dan bisa jadi bekal untuk pencegahan,” tuturnya.

Antusias
Antusias: Mahasiswa Magister Keperawatan UNAIR Saat Memberikan Penyuluhan Kepada Masyarakat Kelurahan Dalpenang. (Foto: UNAIR NEWS)

Ditemui di lokasi pengmas, Wakil Dekan I FKp UNAIR Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes, menjelaskan bahwa pengmas yang dilakukan oleh mahasiswanya ini merupakan bagian dari pengamalan tri dharma. Selain itu, bagi Kusnanto, pengmas menjadi bentuk dari aplikasi ilmu yang dipelajari oleh semua mahasiswanya di dalam kelas. ia juga menambahkan, bahwa pengmas di Kelurahan Dalpenang tersebut merupakan bagian project based learning dari mata kuliah yang didapat mahasiswa.

“Jadi apa yang sudah dipelajari di kampus dapat terus diaplikasikan di masyarakat,” tegasnya.

Berbekal berbagai pengalaman melakukan pengmas di berbagai lokasi, Kusnanto tidak ingin jika pengmas dengan dana swadaya tersebut berjalan asal-asalan. Kusnanto terus berupaya memberikan terobosan kepada anak didiknya agar pengmas yang diadakan bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal itu terbukti dengan cara pemberian materi secara paralel yang dibagi di tiap pos kecil dengan berbagai ragam materi yang berbeda.

“Saya memang tidak mau kalau sekedar penyuluhan biasa, karena dampaknya kurang mengena. Oleh karena itu, kami buat paralel tiap pos dengan beragam materi, kalau demikian kan mahasiswa semua terlibat dan warga pun sangat antusias dan pemahamannya lebih mendalam,”  jelasnya.(*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu