KETIGA guru besar baru UNAIR yang dikukuhkan hari Sabtu (10/12), dari kanan: Prof. Moh Yasin, Prof. Mirni Lamid, dan Prof. Utari Kresnoadi, usai menyampaikan orasi masing-masing. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., mengatakan bahwa guru besar (gubes) bukan guru biasa, tetapi orang-orang terpilih karena tidak semua guru/dosen bisa menjadi gubes. Karena itu diharapkan tidak hanya berhenti sampai menjadi Guru Besar, untuk itu ada tambahan konsekuensi-konsekuensi tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan.

”Sebagai guru besar ada tambahan untuk bisa melangkah lebih lanjut untuk tidak hanya sebagai agen pendidikan, tetapi juga mendorong untuk menjadi agen riset dan pengembangan ilmu pengetahuan, agen pengembangan peradaban, dan agen pertumbuhan dan pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan manusia,” kata Prof. Moh Nasih.

Hal itu disampaikan Rektor UNAIR dalam sambutannya ketika memimpin Sidang Terbuka Universitas Airlangga dalam pengukuhan tiga guru besar baru UNAIR, di Aula Garuda Mukti, Gedung Manajemen UNAIR, Sabtu (10/12). Ketiga guru besar baru tersebut adalah Prof. Dr. Moh. Yasin, M.Si., Guru Besar Ilmu Fisika Optik Fakultas Sains dan Teknologi (FST); Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., MP., Guru Besar Ilmu Makanan Ternak Fakultas Kedokteran Hewan (FKH); dan Prof. Dr. Utari Kresnoadi, drg., MS., Sp.Pros (K) Guru Besar Ilmu Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR.

Dalam daftar Guru Besar sejak UNAIR didirikan tahun 1954, Prof. Moh. Yasin merupakan gubes ke-453, atau gubes ke-161 sejak UNAIR berstatus PTN-BH. Ia menyampaikan orasi bertajuk “Pengembangan Teknologi Sensor Serat Optik untuk Menuju Kemandirian Bangsa”.

Sedang Prof. Mirni Lamid gubes UNAIR ke-454 dan gubes UNAIR PTN-BH ke-162. Orasi ilmiahnya bertajuk “Peran Bioteknologi Pakan Ternak Terhadap Pertambahan Berat Badan Sapi sebagai Upaya Pemenuhan Konsumsi Daging Nasional”. Sedangkan Prof. Utari Kresnoadi, gubes UNAIR ke-545 dan ke-163 sejak UNAIR PTN-BH. Kemarin menyampaikan orasi “Rekayasa Jaringan di Bidang Prosthethic Dentistry”.

TIGA guru besar baru UNAIR yang dikukuhkan, Sabtu (10/12), bersama suami/isteri masing-masing bersama Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih (paling kiri) dan isteri. (Foto: Bambang Bes)
TIGA guru besar baru UNAIR yang dikukuhkan, Sabtu (10/12), bersama suami/isteri masing-masing bersama Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih (paling kiri) dan isteri. (Foto: Bambang Bes)

Menanggapi banyaknya ide yang disampaikan dalam setiap pengukuhan guru besar, Prof. Moh Nasih mengkhawatirkan ide-ide brilian itu ”dicuri” orang. Karena itu, ide-ide itu hendaknya tidak hanya berhenti sampai di meja penelitian. Diluar sana, katanya, banyak sekali orang punya duit yang bisa saja “mencuri” ide-ide brilian orang kampus itu.

BACA JUGA:  Ketahui Kebuntingan Dini Ternak dengan Kit Diagnostik Progesteron

”Jangan sampai yang berfikir keras dan pusing kita, yang meneliti dan menemukan ide kita, tetapi yang menikmati dan bisa menjual justru orang lain. Ini merugikan luar biasa. Ide-ide brilian itu harus kita dorong untuk menjadi produk akademik yang bisa kita jual sendiri. Kalau toh ada peribahasa ’Belajarlah sampai ke Negeri Cina’, tetapi dalam mencari investor hendaknya tak usah jauh-jauh tetapi di sekitaran sini saja,” kata Rektor.

Dengan hasil riset yang tidak hanya berhenti di meja riset dan di lab, artinya ilmu kita bermanfaat untuk orang lain. Untuk itu dihimbau melanjutkan riset-riset yang berkualitas dengan teknologi yang lebih tinggi lagi dan bisa kita jual di masyarakat. Hal ini diakui sebagai “PR” (pekerjaan rumah) untuk bagaimana meningkatkan produk akademik untuk kemanfaatan almamater dan masyarakat.

”Dari mimbar ini ayo kita sama-sama mendorong dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk terus menghasilkan sesuatu dari ilmu yang kita miliki untuk kesejahteraan umat manusia. Produk-produk yang amsih di laci, di laboratorium, ayo kita keluarkan untuk kemanfaatan dan kepentingan secara bersama,” tambah Guru Besar Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR ini. (*)

Penulis: Bambang Bes