Atlet Denali: Berlatih di Semeru, Berkawan dengan Hujan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto : Istimewa

UNAIR NEWS – Setelah menjalani latihan selama berbulan-bulan, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEx), kembali menguji fisik dan mental dengan melakukan latihan yang ekstrim. Latihan dilakukan selama 14 hari sejak 20 November sampai 4 Desember di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Latihan fisik kali ini merupakan latihan kedua bagi atlet AIDEx. Dulunya, mereka berlatih selama delapan hari di Gunung Arjuno-Welirang. Pada latihan kedua ini, kelima calon atlet melatih beberapa teknik pendakian terutama sled atau menarik kereta luncur.

“Latihan kedua, di TNBTS ini wajib diiikuti atlet untuk mengukur hasil peningkatan latihan selama ini,” papar M. Faishal Tamimi selaku Ketua AIDEx. “Setiap atlet harus terbiasa dengan menarik beban,” ujar Rio, salah satu calon atlet.

Selama di TNBTS, keadaan cuaca menjadi salah satu tantangan bagi tim AIDEx. Cuaca di area pegunungan silih berganti. Kadang berkabut, hujan, panas, dan angin kencang.

Yasak, calon atlet lainnya yang pernah menggapai puncak Elbrus di Rusia mengatakan cuaca seperti ini tak sebanding dengan cuaca di Denali (6.190 mdpl) nanti, yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi longsor salju, atau terjatuh ke crevarse. Tantangannya, setiap atlet harus terbiasa dengan cuaca ekstrim, membangun semangat dan tetap fokus dengan target.

Para calon atlet AIDEx yang tengah berlatih di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Sumber: Istimewa)
Para calon atlet AIDEx yang tengah berlatih di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Sumber: Istimewa)

Selama latihan di Semeru, kondisi cuaca tidak cukup bersahabat. Pada hari pertama di Semeru atau hari kesembilan mereka berada di TNBTS, gerimis turun di pagi hari, sedangkan siang hingga sore terjadi hujan.

“Hujan adalah teman. Setiap siang hingga sore hari selalu gerimis atau hujan karena saat ini intensitas hujan cukup tinggi,” tutur Roby, calon atlet yang juga ketua operasional AIDEx.

Akibatnya, lumut yang tumbuh subur di bebatuan sehingga para pendaki perlu ekstra hati-hati ketika melakukan summit attack di Mahameru, terutama ketika melewati Pos Watu Rajeng. Saat tim melakukan trail run melewati pos tersebut sempat terjadi longsor di kawasan yang sama.

Meski dihadapkan cuaca yang silih berganti, para atlet tetap melaksanakan summit attack ke Mahameru sebanyak enam kali sampai hari ke-13. Keesokan harinya, tim kembali pulang ke Surabaya. “Summit attack memang dilakukan berulang kali, untuk meningkatkan volume oksigen maksimal, ketahanan, manajemen kegiatan, fisik, team building serta aklimatisasi di ketinggian 3.000 mdpl dan yang terpenting menempa mental para atlet,” tutur Rio.

Latihan ini merupakan bagian dari persiapan ekspedisi kelima seven summits WANALA UNAIR yang akan dilaksanakan sekitar Mei tahun 2017. Mereka akan mendaki Gunung McKinley atau Denali, puncak tertinggi di belahan bumi utara. Rencananya, tiga orang pendaki terpilih dari WANALA UNAIR akan mencoba menaklukkan gunung setinggi 20.237 kaki.

Ekspedisi seven summits merupakan serangkaian pendakian ke tujuh puncak gunung tertinggi di masing-masing benua. Empat dari tujuh puncak tertinggi telah dicapai oleh tim yakni Puncak Cartenz, Gunung Jaya Wijaya, Indonesia (1994), Puncak Kilimanjaro, Tanzania (2009), Puncak Elbrus, Rusia (2011), serta puncak Aconcagua, Argentina (2013). Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits mereka.

Penulis : Wahyu Nur Wahid
Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu