Pengmas Mahasiswa Magister Keperawatan Sosialisasikan Optimalisasi Bank Sampah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SEORANG mahasiswa Program Magister Keperawatan Fak Keperawatan UNAIR sedang menyosialisasikan program bank sampah, di RW V Dupak Bangunsari Surabaya, (5/12) 2016. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Dalam tiga bulan terakhir ini silih berganti mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga aktif melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (Pengmas). Perwujudan salah satu Tri Darma perguruan tinggi itu dilakukan oleh mahasiswa program professi (S-1) dan Program Magister Keperawatan yang terdiri empat peminatan: minat jiwa, komunitas, medical bedah, dan manajemen.

Pengmas yang terbaru, Senin (5/12) 2016 dilaksanakan mahasiswa Program Magister Keperawatan minat komunitas di Balai RW V Kelurahan Dupak Bangunsari, Kec. Krembangan Surabaya. Pada waktu yang sama di Balai RW IV Dupak Bangunsari juga ada PKL lanjutan mahasiswa program professi S-1 kelompok B gelombang II FKp UNAIR. Sebelum ini PKL mahasiswa professi kelompok B gelombang I di Kel. Dupak Bandarejo, 16 Oktober 2016. Kemudian 8 November 2016 kelompok B-17 gelombang II membuka pelayanan kesehatan (tujuh layanan) di RW IV Dupak ketika 43 mahasiswa profesi S1 melanjutkan praktik kuliah lapangan (PKL) selama tujuh minggu di wilayah itu.

Kemudian disusul pengmas 19 mahasiswa Program Magister Keperawatan minat jiwa di Rumah Sakit PHC Surabaya (15/11) 2016. Bahkan sebelum melaksanakan di RW V Dupak Bangunsari kemarin, 16 mahasiswa S-2 Keperawatan minat komunitas ini melaksanakan baksos di Banyuwangi. Yang ini juga dibenarkan oleh Bagus Sholeh Apriyanto, ketua kelompok minat komunitas ini.

Pengmas di RW V Dupak Bangunsari ini, mahasiswa menginisiasi “Perilaku Kecendekiawanan Sosialisasi dan Optimalisasi Program Bank Sampah”. Topik itu dipilih, menurut Bagus, untuk mengupayakan kebersihan lingkungan di kawasan yang padat penduduk ini. Apalagi sebelumnya di kawasan sekitar Rusun Dupak ini sudah pernah ada bank sampah, tetapi kemudian mati, dan sekarang dimotivasi untuk berdiri lagi.

Kepada anggota PKK RT dan RW serta tokoh masyarakat, mahasiswa S-2 FKp itu antara lain memberi penyuluhan tentang sampah. Sebab jika tidak terorganisir, sampah bisa menimbulkan dampak negatif. Jika dibiarkan menumpuk dan menimbulkan bau, bisa mengundang tikus dan menyebabkan penyakit diare, desentri, pes, tipus, dsb. Jika terbuang masuk selokan air (got) bisa menyumbat got dan membuat air tergenang, sehingga bisa jadi sarang berkembangbiaknya nyamuk. Gigitan nyamuk bisa menyebabkan demam berdarah dan malaria. Jika sampah dibakar maka asap pembakarannya mengganggu pernafasan serta mencemari lingkungan.

WARGA RW V
WARGA RW V Dupak Bangunsari bersama mahasiswa Program Magister Keperawatan FKp UNAIR, usai acara sosialisasi bank sampah. (Foto: Bambang Bes)

Guna meyakinkan warga bahwa keberadaan bank sampah sangat positif, untuk segi teknis pendirian dan keberadaannya, mahasiswa menghadirkan Pudjiati, fasilitator Bank Sampah Manyar Mandiri asal Manyar Sabrangan. Dipamerkan oleh Pudjiati, bahwa bank sampah di tempatnya pernah dalam setahun bisa menghasilkan uang Rp 32 juta.

”Sasaran mendirikan bank sampah hendaknya bukan karena uang, tetapi penyelamatan lingkungan. Jika tujuannya uang, bila harga sedang turun, bisa-bisa malas dan tutup. Tapi kalau tujuannya penyelamatan lingkungan, maka akan awet dan bahkan langgeng,” kata Pudjiati.

Karena itu disarankan mencari pengurus yang “tahan banting”, karena pada tahap rintisan itu butuh sosok yang mau berkorban dan kerja keras. Untuk itu sebagai pengurus RT-RW dan tokoh warga, diharapkan menjadi pioner yang mau memberi contoh dalam memilah-milah sampah di rumahnya.

“Ingat, bank sampah bukan menganjurkan warga untuk menjadi pemulung, tetapi memilah sampah di rumahnya sendiri. Sampah kering untuk bank sampah, sampah basah untuk kompos, saya jamin lingkungan akan menjadi bersih dan sehat,” kata Pudjiati.

Sampah kering yang bisa dipilah antara lain botol plastik bening, botol plastik bersablon, kertas grenjeng, kardus/kertas, dan segala logam. Mekanismenya, paling awal memilah sampah, kemudian menyetorkan ke bank sampah. Lalu penimbangan tidak perlu menunggu sampai banyak. Berapapun timbangannya dicacat di buku tabungan nasabah. Bila sudah memenuhi jumlah tertentu, barulah disetor ke pengepul.

Selain sosialisasi bank sampah, mahasiswa juga mengajari warga untuk membuat “jebakan nyamuk” (perangkap nyamuk) yang terbuat dari botol minuman bekas untuk menampung air gula dicampur ragi roti. Campuran ini akan bereaksi menjadi karbon-dioksida yang aromanya disukai nyamuk. Karena suka, nyamuk akan mencari dan masuk ke dalam perangkap tetapi tidak bisa keluar, sehingga mati di dalamnya. (*)

Penulis: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu