Latih Dokter Gigi Deteksi Dini HIV/AIDS dan Tuberculosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Acara workshop bertajuk “Mewaspadai HIV dan Tuberculosis, What Dentists Can Do?”.

UNAIR NEWS – Dokter gigi spesialis penyakit mulut dibekali kemampuan untuk mendeteksi dini penyakit berbahaya di dalam tubuh. Termasuk penyakit HIV/AIDS dan Tuberculosis (TB). Pemeriksaan pada rongga mulut dan proses anamnesis pada pasien, dokter gigi bisa mendeteksi masuknya virus tersebut secara dini.

Guna meningkatkan kemampuan dokter gigi dalam deteksi dini, Departemen Ilmu Spesialis Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga, menyelenggarakan workshop bertajuk “Mewaspadai HIV dan Tuberculosis, What Dentists Can Do?”. Workshop tersebut diselenggarakan di Airlangga Medical Education Center (AMEC), Fakultas Kedokteran, Sabtu (26/11).

Ketua panitia seminar Kus Harijanti, M.Kes, drg., Sp.PM, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk berbagi ilmu kepada dokter gigi umum dan spesialis mengingat angka prevalensi HIV/AIDS dan TB sudah tinggi, sekaligus memberikan pelatihan mendeteksi dini HIV/AIDS dan TB melalui rongga mulut.

“Harapannya, dokter gigi di daerah dapat mendeteksi pasien HIV. Melalui acara ini, kita juga turut menyemarakkan diskusi kesehatan, sekaligus meningkatkan awareness dan memberikan harapan bagi ODHA (orang dengan HIV/AIDS),” tutur Kus.

Workshop tersebut dihadiri oleh empat narasumber yang memiliki kepakaran di bidangnya, yakni dosen FK UNAIR Erwin Astha Triyono, dr., Sp.PD., KPTI., FINASIM, pakar TB UNAIR Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., SP.MK (K), pakar penyakit mulut FKG UNAIR Hening Tuti Hendarti, drg., MS., Sp.PM, dan paramedik yang sering menangani kasus HIV/AIDS Misutarno, S.Kep., MS.

Pada workshop TB yang dipandu Prof. Made, sebanyak 80 peserta membuat sediaan untuk pemeriksaan penunjang dari specimen yang ada di dalam rongga mulut. Pada workshop kedua yang dipandu oleh Misutarno, peserta diajak berlatih melakukan anamnesis terhadap ODHA. Tujuannya, agar ODHA mau memeriksakan HIV dalam tubuhnya. Tentunya, dokter yang melakukan anamnesis hendaknya bersikap serius, lembut, serta membangkitkan rasa percaya terhadap dokter.

Peserta workshop terdiri dari dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang berjumlah 220. Mereka berasal dari berbagai area di Indonesia yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.

Penulis: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu