Berpedoman ’3-C’, Sugiyartono Lulus Terbaik S-3 Fakultas Farmasi UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sugiyartono wisudawan terbaik S-3 Fakultas Farmasi periode Desember 2016 dengan nilai IPK 4,00 (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Sebagai staf pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, pastinya harus selalu meningkatkan kompetensinya. Untuk itu, Sugiyartono, alumni Fakultas Kedokteran UNAIR 1987 ini, melanjutkan studi S-3 Fakultas Farmasi UNAIR tahun 2012. Empat tahun kemudian ia lulus dan diwisuda dengan nilai IPK 4,00. Inilah satu-satunya peraih IPK sempurna dari semua wisudawan terbaik periode Desember 2016 ini.

“Saya ini orang biasa yang telat kuliah S-3, karena organisasi yang saya ikuti,” kata pria kelahiran Jombang, 4 Oktober 1954 ini.

Ia menulis disertasi berjudul “Model Sistem Mikropartikel Pulsatile Lactobacillus Acidophilus Fncc0051 Dengan Matriks Kombinasi Kopolimer Asam Metakrilat”. Disertasi itu berisi tentang probiotik, bakteri yang punya sifat positif dengan memberikan efek menguntungkan kepada manusia, yakni efek kesehatan.

“Bahkan dalam perkembangannya, probiotik dapat digunakan untuk ternak dan ikan. Bahkan nantinya juga bisa dijadikan untuk solusi penyakit-penyakit yang berkaitan dengan sistem imun tubuh,” imbuhnya kepada unair.news.

Suami drg. Hanoem Eka Hidayati, MS ini juga kenyang berorganisasi. Sugiyartono pernah menjadi ketua Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Jatim tahun 2002-2010. Dari organisasi itu ia meraih penghargaan Dinas Kesehatan Jatim sebagai Ketua Organisasi Profesi Komitmen ISFI. Dan tahun 2014 hingga sekarang Dr. H. Sugiyartono, Drs., MS., Apt.,  menjadi Ketua Majelis Etik Disiplin Apoteker Indonesia-IAI Daerah Jatim.

Alhamdulillah saya mendapat penghargaan ketika masih menjabat ketua ISFI,” ujarnya, seraya membagi kiat suksesnya bahwa dalam setiap hal yang dilakukan, terutama ketika menempuh S-3 ini, ia berpedoman pada 3C yaitu Commitment, Care dan Continue.

“Jadi 3C ini bisa diaplikasikan dalam setiap bentuk kehidupan, dimana commitment itu harus komit dalam keadaan apapun dan harus dilaksanakan karena sepakat. Kemudian care harus peduli dan tidak setengah-setengah. Sedang continue tidak boleh seperti hangat-hangat tai ayam, artinya giat di awal tetapi ditengah-tengah berhenti,” pungkasnya. (*)

Penulis: Achmad Janni
Editor : Nuri Hermawan

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu