Prof. Jimly: Pilihan Sikap Generasi Muda Harus Optimis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SEORANG mahasiswa mengajukan pertanyaan saat sesi dialog kepada nara sumber dalam talkshow ISMKI, di Gedung Gra-BIK FK UNAIR, pekan lalu. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum di Indonesia, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., menyarankan kepada generasi muda hendaknya tidak putus asa ketika melihat banyak masalah yang kita hadapi. Sebagai generasi muda, hendaknya mampu menentukan sikap sebuah pilihan daripada bersikap apatis.

”What to do, apa yang harus kalian dilakukan. Dan pilihan itu hendaknya yang optimis, bukan apatis. Dengan sikap optimis maka akan menemukan jawaban dari what to do tadi, sehingga dengan optimis maka tujuan akan tercapai,” kata Prof. Jimly.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengatakan dalam presentasinya pada Talkshow Super Power of Leadership, yang diselenggarakan oleh ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) di Gedung Gra-BIK Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, Minggu (27/11) akhir pekan lalu.

Selain Prof. Jimly Asshiddiqie juga memberikan paparan dalam talkshow bertema “Kesehatan sebagai Bagian dari Ketahanan Nasional” itu juga Prof. Dr. Bambang Supriyanto, dr., SpA(K) Ketua Konsil Kedokteran Indonesia; Letjen. TNI. Dr. (Cand) I Wayan Midhio, M.Ph.D., Rektor Universitas Pertahanan Indonesia, dan Dr. Ario Djatmiko, dr., Sp.B(K). Onk., Dewan Pakar PB IDI.

Di hadapan ratusan aktivis mahasiswa FK se-Indonesia ini, Prof. Jimly berpendapat untuk menikmati saja arah ICT (Information and Communication Technologies) dan sosial media kita yang saat ini cenderung bebas. Kendati menikmati, tetapi hendaknya pikiran diarahkan pada hal-hal yang optimis dari perspektif yang belum terlihat. Perspektif kepuasan konsumen pada layanan kesehatan misalnya, kata Prof. Jimly, itu penting untuk diperhatikan.

 

PROF. Jimly Asshiddiqie ketika menyampaikan paparannya, di Gra-BIK FK UNAIR. (Foto: Bambang bes)
PROF. Jimly Asshiddiqie ketika menyampaikan paparannya, di Gra-BIK FK UNAIR. (Foto: Bambang bes)

”Jangan cuma dokter asing yang akan masuk (ke Indonesia dalam rangka MEA– red) yang harus dikontrol, tetapi ada apa penduduk kita ramai-ramai berobat ke luar negeri? Jangan-jangan dokternya sulit masuk, tetapi pasiennya malah yang keluar mencari mereka. Ada apa ini? Jadi kepuasan pasien sebagai konsumen juga perlu disurvey,” katanya.

Menurut Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia ini, sekarang ini sudah banyak lahir pasal-pasal dalam aturan atau undang-undang yang mengkriminalisasi professi. Untuk itu kalangan professi hendaknya juga peka dan introspeksi, bahwa muara dari kriminalisasi itu karena konsumen mengharapkan layanan yang baik dari kalangan professi.

”Saya baru melihat pertama kali ini ada dokter-dokter sampai demo turun ke jalan, itu tidak lain untuk melawan kriminalisasi professi tadi. Mengapa itu semua terjadi, ini sekaligus sebagai gambaran bahwa pemerintah belum kuat dalam memperhatikan kalangan professional, dan ini masalah serius,” lanjut Prof. Jimly.

Diterangkan, kedokteran adalah professi di dunia yang paling awal (yaitu abad 19) yang sudah mengenalkan etika secara tertulis (kode etik). Kemudian diikuti professi akuntan, dan yang ketiga professi hukum. Setelah itu banyak organisasi ikut membuat kode etik. Untuk itu, sarannya, professional dokter dalam menjalankan professi melayani kesehatan masyarakat hendaknya jangan sampai meninggalkan etika atau kode etik dokter.

“Sebagai calon-calon dokter atau dokter muda, hendaknya juga meningkatkan perhatian terhadap persoalan ini dan meningkatkan pelayanan sebagai tuntutan konsumen. Imtek dan Imtaq-nya harus kuat,” katanya. (*)

Penulis : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu