PKL Folklor, Bangun Minat Generasi Muda Kenali Seni Budaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Seni Lokal: Pertunjukan Reog Bulqio dipelataran rumah warga di Desa Kemloko Blitar.

UNAIR NEWS – Praktik Kuliah Lapangan (PKL) menjadi salah satu agenda wajib bagi mahasiswa di lingkungan Universitas Airlangga. Tak terkecuali mahasiswa Departemen Sastra Indonesia UNAIR, agenda PKL rutin dilakukan setiap tahun, terutama pada mata kuliah folklor (tradisi lisan, -red).

Kuliah lapangan yang dilaksanakan di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar tersebut sudah berjalan untuk kali ke empat. Salah satu dosen Sastra Indonesa UNAIR Drs. Tubiyono, M.Si., mengungkapkan bahwa kuliah lapangan ini menjadi salah satu media untuk mengenalkan kepada mahasiswa mengenai seni tradisi lisan dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

“Saya yakin generasi saat ini hampir tidak tahu bahwa ada sebelas tembang macapat dan filosofi yang penuh nilai di dalamnya. Makanya perlu diadakan kuliah semacam ini,” jelasnya.

PKL yang dilaksanakan pada tanggal 26 dan 27 November 2016 tersebut dimulai dengan penugasan kepada mahasiswa untuk menggali seputar materi tradisi lisan, salah satunya tentang macapat. Di malam harinya, mahasiswa disuguhi pertunjukan kesenian desa setempat, mulai Reog Bulqio, Jidor, Genjringan, dan pembacaan Serat Ambiyo. Sebelum pementasan, mewakili pihak UNAIR, Tubiyono mengucapkan banyak terima kasih kepada aparat dan masyarakat setempat, ia juga berharap bahwa filosofi yang terdapat dalam setiap pertunjukan seni yang ditampilkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa.

“Saya harap mahasiswa dapat menikmati dan mengambil filosofi yang ada. Agar mahasiswa berwawasan luas. Jika ke depan jadi pemimpin tidak akan mudah goyah dan mengikuti hal yang tidak ada fondasinya,” jelasnya.

Di hadapan warga setempat, Tubiyono juga menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan salah satu khazanah dari kemajukan bangsa. “Ingat seni budaya ini erat berkaitan dengan masyarakat yang majemuk,” tegasnya.

Mewakili kepala desa setempat, Nasrodin juga menjelaskan bahwa kesenian khas Desa Kemloko tersebut memang perlu dilestarikan. Ia juga mengungkapkan bahwa berkat kedatangan pihak UNAIR ke desanya, kesenian yang mulanya tidak begitu diminati generasi muda setempat, kini mulai mendapat perhatian dan banyak generasi muda yang mau menghidupkan kembali tradisi yang ada sejak zaman penjajahan tersebut.

“Reog Bulqio, Jidor, Genjringan, dan Sholawatan adalah kesenian khas yang perlu dilestarikan. Berkat kerja sama ini, akhirnya ada putra dan putri kami yang mulai belajar,” paparnya bangga.

Dari pihak mahasiswa, Nadiyatul Adabiyyah mengaku bahwa kuliah lapangan yang baru pertama kali diikuti tersebut sangat banyak manfaatnya. Baginya, selain mencari pengalaman, mahasiswa dapat mengenal lebih dalam tentang kebudayaan yang ada di Jawa, khususnya pada daerah Blitar.

“Banyak manfaatnya PKL ini, selain mengenal lebih dalam kebudayaan di Blitar ini, tradisi-tradisi lisan yang ada juga lebih dalam kami pahami,” tegasnya mengakhiri. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu