Sudah Saatnya, Penanganan Kesehatan Jiwa pada Pasien Penyakit Kronis di RSU

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DUA mahasiswa Program Magister Minat Jiwa FKp UNAIR mengajarkan relaksasi teknik “lima jari” kepada perawat untuk mereduksi kecemasan/depresi pada pasien. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Fokus penanganan kesehatan jiwa sekarang ini sudah saatnya untuk tidak hanya dilakukan di rumah sakit jiwa (RSJ) saja, tetapi saat sudah seharusnya dilakukan oleh komunitas-komunitas dan general hospital (rumah sakit umum/RSU). Hal ini perlu dilakukan karena pasien penyakit kronis di RSU juga tidak sedikit yang mengalami gangguan kejiwaan akibat penyakitnya, misalnya gelisah, cemas, stress, dsb. Dengan penanganan kesehatan jiwa di RSU maka diharapkan pasien tidak jatuh menjadi depresi.

Demikian Dr. Hanik Endang Nihayati, S.Kep. Ns., M.Kep, penanggungjawab Program Magister Keperawatan Minat Jiwa, Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR. Karena itu pula seperti Kamis (15/11) Program Magister Keperawatan Minat Jiwa FKp UNAIR melaksanakan pengabdian masyarakat di Rumah Sakit PHC (Primasatya Husada Citra) Surabaya. Sebanyak 19 mahasiswa S-2 peminat jiwa ini memberikan seminar dan pelatihan kepada perawat RS PHC tentang penanganan psikososial pada penyakit kronis di rumah sakit.

”Ini pengmas kami yang pertama, dan ini kita lakukan karena teman-teman dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) pun sepakat menggeser orientasi pembinaannya juga menggarap masalah psikososial di RSU,” lanjut Dr. Hanik kepada unair.news.

Dengan pengmas pemberian pelatihan penanganan kesehatan jiwa ini, diharapakan menambah caring (keperdulian) pelayanan perawat kepada pasien di RSU. Bagi mahasiswa, sharing ini bisa memberi dampak positif yang bermanfaat bagi orang lain (perawat) dan lembaganya, serta akan meningkatkan kualitas dan kompetensi lulusan magister FKp UNAIR.

Seperti diketahui, Program Magister Keperawatan FKp UNAIR ini terdapat empat peminatan, yaitu minat jiwa, komunitas, medical bedah, dan manajemen. Minat jiwa merupakan angkatan pertama (19 mahasiswa), sedangkan program Magister di FKP UNAIR sudah sembilan angkatan, dan saat ini jumlah mahasiswanya mencapai 109 orang.

Pada minat jiwa, lanjut Hanik, biasanya orang melihat orientasinya pada psikiatri hospital, tetapi FKp UNAIR mencoba untuk membangun Askep (asuhan keperawatan) psikososial pada general hospital (RSU). Ini untuk membangun ikatan caring dan kompetensi perawat agar bagaimana mereka bisa berlaku caring.

DIPANDU
DIPANDU mahasiswa S2 Minat Jiwa FKp UNAIR, perawat RS PHC mempraktikkan relaksasi dengan teknik “lima jari”. (Foto: Bambang Bes)

”Melihat masalah-masalah pada pasien penyakit kronis di RSU, maka kami mencoba melakukan pengabdian ini untuk membangun perilaku kecendekiawanan dengan meningkatkan caring perawat dengan pendekatan psikososial di general hospital,” tambah Hanik.

Ranah atau orientasi yang digarap dalam penanganan gangguan/kesehatan jiwa ini, lanjut Dr Hanik, ada tiga hal. Pertama, individu yang sehat supaya menjadi produktif. Kedua, psikologis seseorang supaya tidak sakit, sehingga pada pasien-pasien penyakit kronis itu termasuk yang beresiko, sehingga supaya tidak cemas, tidak jatuh pada depresi, dsb. Yang ketiga adalah gangguan, yaitu pasien yang mengalami gangguan jiwa seperti di RSJ supaya tidak kambuh.

”Kami mengambil yang beresiko ini agar bagaimana pasien-pasien yang mengalami sakit kronis, terutama di RSU, mereka bisa memiliki perilaku yang sehat. Jadi kita akan promosi kesana,” tambah dosen FKp UNAIR ini.

Mengapa sasaran pelatihan pada perawat? Karena perawatlah yang akan berhubungan dengan pasien, sehingga mereka bisa mengajari pasien. Misalnya bagaimana melakukan relaksasi untuk mereduksi kecemasan atau depresi, misalnya mereka diajarkan bagaimana melakukan relaksasi dengan teknik deep breathing (pernafasan dalam) dan teknik lima jari. Dengan cara ini diharapkan kecemasan akibat sakit apapun bisa berkurang.

”Kami berharap setelah dilatih ini para perawat di RSU benar-benar bisa menerapkan kepada pasien-pasiennya,” kata Dr. Hanik Endang Nihayati, seraya menjelaskan bahwa ada rencana setelah pengabdian di PHC ini akan ada lagi satu program pengmas mandiri, dan satu pengabdian lagi yang fokus pada resiko. (*)

Penulis: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu