Tebar Wawasan Stabilitas Keuangan ASEAN Melalui Seminar Internasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
(Dari Kiri) Nico Omer, Bhima Yudhistira, Isa Rachmatarwata, dan Tika Widiyastuti saat menghadiri seminar internasional di Aula Fadjar Notonagoro FEB UNAIR, Senin (21/11).

UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR menggelar International Development Student Conference bertajuk “Realizing the Asean Financial Stability Amidst Global Economic System Dynamic”, Senin (21/11) di Aula Fadjar Notonagoro FEB UNAIR. Acara yang dihelat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB tersebut dihadiri kurang lebih 400 mahasiswa se-Indonesia, negara ASEAN, dan mahasiswa dari negara Timur Tengah.

Dalam seminar ini menghadirkan pembicara diantaranya Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Dr. Ir. Budi Setiawan, M.MT, Staf Ahli Kementerian Keuangan RI Isa Rachmatarwata, perwakilan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, Wakil Presiden Valbury Asia Future Nico Omer dan juga Dr. Tika Widiyastuti, S. E., M.Si selaku moderator.

Ketua BEM FEB Rusdinal Muslih mengatakan bahwa mahasiswa yang hadir dalam seminar internasional tersebut dituntut untuk ikut berperan aktif menyumbangkan ide-ide pemikiran yang kreatif untuk didiskusikan bersama. “Kita semua harus mempunyai sumbangsih terkait ide ide pemikiran stabilitas keuangan di dunia, dan di Indonesia khususnya,” kata Rusdinal Muslih saat memberikan sambutan.

Wakil Dekan I FEB UNAIR Dr. Rudi Purwono, SE.,MSE juga menambahkan, ide-ide pemikiran dari para mahasiswa tersebut berguna untuk meningkatkan kondisi ekonomi di Indonesia, salah satunya adalah ekualitas makro ekonomi di masa mendatang.

“Kita saling berbagi tentang bagaimana caranya agar Jawa Timur dapat mencapai output nasional 2016 dengan potensi marketnya. Kita juga dituntut untuk meningkatkan ekualitas makro ekonomi dari Indonesia di masa mendatang,” ujar Rudi disambut tepuk tangan peserta seminar.

Selaku keynote speaker dalam seminar internasional tersebut, Budi Setiawan mengungkapkan, memasuki Triwulan ke-3, kondisi ekonomi makro di Indonesia tumbuh hingga 5,04 persen. “Kalau Indonesia hanya mengandalkan sektor primer saja, maka tidak akan pernah kuat, karena link antar sektor itu harus nyambung dan berkembang. Sektor pertanian, sektor industri pengolahan dan perdagangan besar dan eceran harus nyambung,” ungkapnya.

Menurut Budi, ada beberapa kendala yang masih menghambat perkembangan ekonomi Indonesia, khususnya di Jawa Timur, yaitu, pendapatan pemerintah yang terbatas, tingginya biaya dana modal. “Selain itu, situasi global terkait permintaan luar negeri yang menurun dan defisit perdagangan luar negeri juga masih menjadi kendala kita,” jelasnya.

Solusinya, Budi mengatakan ada tiga hal yang perlu di restrukturisasi secara fundamental, yaitu dagang ecer kecil-kecilan, moneter (suku bunga satu digit), dan fiskal (meminimalkan pajak UKM). Selain itu, Budi juga mengajak kepada mahasiswa agar terus menyuarakan sumbangsihnya dalam bidang ekonomi. “Untuk adik – adik mahasiswa yang punya ide demi perkembangan ekonomi, silahkan sampaikan. Kita bisa kerja sama dan saling bantu,” serunya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Faridah Hari

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu