Kehadiran Lakon Airlangga di Jagat Pewayangan Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
(Dari kiri) Prof. Kasidi, Dr. Sri Teddy Rusdy, Prof. Bambang Tjahjadi, Sujiwo Tejo setelah acara seminar di Aula Siti Parwati FIB UNAIR.

UNAIR NEWS – Wayang memang memiliki tempat tersindiri di mata bangsa Indonesia. Selain sebagai khazanah negeri, wayang juga penuh nilai dan filosofi yang dimunculkan melalui lakon-lakon yang dimainkan. Jika selama ini jagat pewayangan di Indonesia terkenal dengan kisah Ramayana, kali ini, kisah Airlangga akan dimunculkan untuk mengisi jagat pewayangan tanah air. Selain Airlangga merupakan raja pembaharu yang mashur di abad 12, lakonnya diharapkan bisa memberikan pelajaran bagi generasi sekarang. Dalam hal itulah, seminar dengan tema “Wayang Airlangga: Varian Baru Dalam Jagat Pewayangan Indonesia” digelar di Aula Siti Parwati FIB UNAIR, Sabtu (19/11).

Seminar yang dibuka oleh Dekan FIB UNAIR Diah Ariani Arimbi, Ph.D., tersebut merupakan serangkaian penutup Dies Natalis UNAIR ke-62. Melalui seminar tersebut, Diah berharap, generasi muda akan lebih memahami dunia pewayangan dan menghargai kesenian tradisi.

Pembuat Wayang Airlangga Dr. Sri Teddy Rusdy, menjadi pemandu jalannya seminar tersebut. Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta tersebut mengungkapkan, selama ini, pewayangan Indonesia masih berkiblat pada kisah Ramayana. Hal itulah yang kemudian menjadi alasan baginya untuk memilih lakon Airlangga.

“Saya mulai berpikir, bahwa Indonesia ini luas dan memiliki banyak jagat lakon peradaban. Karena kecintaan pada almamater pertama saya, maka saya gunakan lakon Airlangga. Meski demikian lakon Airlangga ini untuk semua bangsa Indonesia,” jelasnya.

Hadir sebagai pembicara pertama, Dalang kondang Sujiwo Tejo menjelaskan terkait fenomena generasi muda yang meninggalkan wayang. Baginya, bukan salah pemuda yang meninggalkan wayang, tapi peran dalanglah yang menjadi penentu wayang bisa diterima generasi muda.

Selanjutnya, Prof. Kasidi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta selaku pemateri kedua, lebih menyoroti beragam varian wayang yang telah meramaikan jagat nusantara. “Wayang itu diikuti oleh siklusnya. Varian baru itu muncul mengacu bahwa sebelumnya telah beredar wayang-wayang lainnya,” jelasnya.

Pemerhati keris dan batik Prof. Bambang Tjahjadi selaku pemateri ketiga, memaparkan materi terkait keberlangsungan wayang Airlangga di masa mendatang. Baginya, keberlangsungan wayang Airlangga juga harus didukung banyak pihak, termasuk sivitas akademika UNAIR.

“Inti dari pelestarian adalah membangun komunitas. Kita harus bangun paguyuban. Kita lihat saja, kalau paguyuban jalan, wayang ini bakal lestari,” tegasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu