”Airlangga Sumbaga Wiratama” Sukses Dipentaskan dalam Wayang Semalam Suntuk

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rektor Universitas Airlangga Prof. M Nasih didampingi Dr Sri Teddy Rusdi (tengah) menyampaikan wayang tokoh Prabu Airlangga kepada dalang Ki Dr. Bambang Suwarno Sindu Tanoyo, M.Hum. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Selama ini, ceritera pakeliran wayang di Indonesia hanya diangkat dari kisah Ramayana dan Mahabharata. Padahal banyak kisah sejarah menarik yang bisa diangkat ke dalam pewayangan. Misalnya kisah Prabu Airlangga, Raja Kerajaan Kahuripan yang memerintah tahun 1009-1042. Karena itu, dalam rangka Dies Natalis ke-62 Universitas Airlangga, alumnus UNAIR Dr. Sri Teddy Rusdi, SH., M.Hum., yang juga Ketua Senawangi (Sekretariat Nasional Wayang Indonesia) menggubah lakon (cerita) ”Airlangga Sumbaga Wiratama” (ASW).

Sebagai lakon (ceritera) wayang, ASW tidak hanya sukses ketika dipentaskan dalam pagelaran wayang orang di Jakarta, 29 September 2016. ASW juga sukses ketika digelar dalam bentuk wayang kulit semalam suntuk, di kampus B UNAIR Jl. Airlangga 4 Surabaya, Sabtu (19/11). Hadir menyaksikan lakon ASW ini adalah ratusan sivitas UNAIR, diantara Rektor Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., para Wakil Rektor, beberapa dekan, diantaranya Dekan FKM Prof. Tri Martiana yang juga Ketua Dies Natalis ke-62, alumni, dalam Ki Sudjiwo Tedjo, dan masyarakat sekitar Surabaya.

Sebelum dimulai, Rektor UNAIR menerima tiga tokoh wayang Prabu Airlangga dari Dr. Sri Teddy Rusdi. Ketiga wayang itu adalah Prabu Anom Airlangga, Airlangga saat dewasa, dan Prabu Airlangga saat jumeneng Nata (menjadi raja). Kemudian Rektor menyerahkan kepada dalang Ki Dr. Bambang Suwarno Sindu Tanoyo, M.Hum. Tiga wayang itu merupakan bagian dari 27 Wayang Airlangga yang disungging (dibuat) sendiri oleh Ki Dalang Bambang Suwarno.

Dalang yang juga dosen ISI Jogyakarta ini, dalam menjalankan pertunjukan lakon ASW mampu menunjukkan kepiawaiannya memainkan cerita panjang secara pakem (mainstream), dan antawacana (pengucapan tokoh wayang) yang bagus. Bahkan tanpa jeda sedikitpun untuk diselingi guyonan ala Punakawan seperti dalam wayang Mahabharata. Serius dari awal hingga akhir.

Sebagai wayang “perintis” non-Mahabharata, tokoh-tokoh wayangnya tentu belum sepupoler lakon Mahabharata (Pandawa dan Kurawa). Menurut Sri Teddy Rusdi, ke-27 wayang Airlangga itu antara lain gambaran tokoh dalam kisah Airlangga. Misalnya Prabu Airlangga sendiri, Prabu Udayana (ayah Airlangga), Mahendradhatta (ibunya), Mpu Bharada, Narotama (pembantunya), Prabu Kaladhana, Prabu Dharmawangsa, Prabu Wisnu Prabawa, Ratu Prameswari, Mpu Kanwa, Garudhea, dsb.

Pagelaran wayang kulit “Airlangga Sumbaga Wiratama”
Pagelaran wayang kulit “Airlangga Sumbaga Wiratama”, di kampus B UNAIR, Sabtu (19/11) malam. (Foto: Bambang Bes)

Gebyar ASW ini diawali dengan jejer (adegan) keluarga Airlangga. Ketika sedang ramai pesta perkawinan antara Airlangga dengan puteri pamannya (Dharmawangsa) di Kerajaan Medang (sekarang sekitar Magetan), mendapat serangan dari Raja Wurawari. Dari sinilah Airlangga lolos dan ditemani Narotama lari menjadi pertapa. Lolos dari beragam godaan, lalu memperoleh kesaktian, perang lagi dan saling balas, akhirnya Airlangga menang dan menjadi raja.

Di bagian akhir juga disisipi kisah Arjuna Wiwaha karangan Mpu Kanwa sebagai penggambaran keberhasilan Airlangga dalam peperangan. Arjuna yang lulus dari pertapa di goa Pamintaraga dan menjelma sebagai Begawan Ciptoning, kepada dewa hanya ingin kembalinya sebuah negara dan keutuhan sauda-saudaranya. Akhir kisah, Arjuno menaklukkan dua raksasa dari Himahimantaka yaitu Patih Mamangmurko dan Prabu Newatakawoco.

Dalam dialog dengan Sri Teddy Rusdi sebelum jejer pertama, Ki Bambang Suwarno berharap banyak pada pengembangan Wayang Airlangga ini, yang sesuai dengan sejarah tidak lain juga identik dengan kisah pemerintahan di Jawa Timur. Demikian juga harapan Sri Teddy Rusdi, alumnus FH dan FIB (S2) UNAIR ini.

”UNAIR yang punya Fakultas Ilmu Budaya kita berharap bisa mengemban masalah budaya. Mudah-mudahan Wayang Airlangga ini semakin maju, lestari, dan ngrembaka (berkembang). Jadi agar cerita wayang itu tidak hanya bergantung pada Ramayana dan Mahabharata,” kata Bambang Suwarno, yang juga turut datang ke UNESCO ketika wayang memperoleh pengakuan dunia itu.

”Biasanya dalam pertunjukan wayang kulit saat ini jarang dinyanyikan gendhing-gendhing lama, tetapi disini tadi dalangnya justru memilih lelagon lama itu. Saya suka karena sudah lama nggak mendengarkan,” kata Marto Waluyo, warga Kalidami asal Sragen ini.

Marto benar. Malam itu Ki Bambang Suwarno dan lima waranggana (pesinden) dan pemukul kendang yang hebat, banyak memilih gendhing-gendhing gubahan Ki Narto Sabdho (alm): Gugur Gunung, Konco Tani, Lesung Jumengglung, Lumbung Desa, dsb. Kemudian juga dimainkan gendhing Wadyabala Gumurung dan monggang. Pada akhir pertunjukan “Airlangga Sumbaga Wiratama” juga diadakan undian doorprize untuk pemirsa. Tancap kayon, pergelaran selesai pukul 03.45 WIB. (*)

Penulis: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu