Perlu Diwaspadai, Bakteri Baru di Air Penyebab Radang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Caption: Dr. Eduardus Bimo Aksono, Drh., M.Kes dosen Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR teliti bakteri di air Surabaya (Foto: Dilan Salsabila)

UNAIR NEWS – Berkat kegigihannya meneliti bakteri yang ada di air di Surabaya, Dr. Eduardus Bimo Aksono, Drh., M.Kes mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan papernya pada Indonesia Research and Innovation Expo (IRIEX) 2016. Paper tersebut masuk tiga besar bidang life sciences. IRIEX adalah salah satu kegiatan yang digagas Lembaga Pengembangan Produk Akademik dan Hak Kekayaan Intelektual (LPPA-HKI) dalam rangka peringatan Dies Natalis Universitas Airlangga ke-62.

Ada tiga bidang penelitian yang diusung IRIEX, meliputi life sciences, social sciences, dan health sciences. Untuk bisa masuk tiga besar ini, Bimo menyisihkan setidaknya 20 paper terpilih. Bimo mempresentasikan papernya yang berjudul “Genetic Deversity dari Legionella sp Isolat Lokal Pada Sampel Beresiko sebagai Upaya Tanggap dan Pengendalian Adanya New Emerging Disease di Surabaya”.

Penyakit Legionellosis adalah suatu infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh bakteri Legionella pneumophilia dan spesies lainnya dari Legionella. Bakteri ini bisa menyebabkan serangkaian penyakit, mulai dari batuk ringan, demam, hingga Pneumonia.

Pada mulanya, ada turis asing asal Australia yang berkunjung ke Bali. Namun setelah kepulangannya ke negara asal, ia mendadak sakit dan meninggal. Dari hasil pemeriksaan, ada indikasi bahwa yang bersangkutan terinfeksi bakteri Legionella. Dicurigai, infeksi bakteri tersebut berasal dari Bali.

Bermula dari latar belakang tersebut, Bimo dan tim mulai melakukan penelitian ke beberapa lokasi, terutama daerah-daerah yang dicurigai menjadi sumber infeksi. Misalnya, pekerja yang menangani tandon air, orang-orang yang bekerja di bandara, orang-orang yang bekerja di daerah kolam renang. Mereka diambil sampel darahnya.

“Namun, perkembangan selanjutnya saya lebih tertarik pada mencari sumber infeksi di air, bukan infeksi pada manusia. Karena saya sampaikan, bahwa bakteri ini paling suka di air, baik hangat maupun dingin,” ujar Bimo.

“Saya mencoba mengidentifikasi sampel-sampel itu di wilayah Surabaya. Sampel yang saya gunakan adalah air tandon, air asin, air sumur, air kran, dan air kolam renang,” tambahnya.

Penelitiannya itu bertujuan untuk mendapatkan sumber infeksi bakteri Legionella di air. Bimo juga memastikan jenis bakteri Legionella yang terdapat di air itu. Sebab, ada sekitar 30 jenis bakteri Legionella, salah satunya Legionella pneumophila yang merupakan jenis Legionella yang infeksius.

Legionella pneumophila tipe 1 sempat menjadi wabah di Amerika. Saya mau mencari apakah betul Legionella pneumophila tipe 1 ada pada lingkungan di Indonesia, khususnya di Surabaya? Ternyata dari hasil penelitian saya, air di Surabaya positif ada Legionella pneumophila,” ujarnya.

Dari 36 sampel yang ia teliti, ada 12 yang positif. 12 yang positif itu meliputi empat di air sumur, dan delapan di air kran. Dari yang positif ini, ternyata bukan termasuk Legionella pneumophila tipe 1 yang berbahaya, tetapi Legionella pneumophila tipe 8, 9, dan 12. “Artinya, Legionella pneumophila di Surabaya bukan tipe yang infeksius,” ujarnya.

Penelitian yang Bimo lakukan berlangsung selama dua tahun, terhitung sejak Januari silam. Melalui penelitiannya ini ia berharap, bisa mengembangkan kit diagnostik untuk mendeteksi Legionella, terutama Legionella yang ada di air. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu