Selama Dua Minggu, Atlet Denali Summit Attack Enam Kali ke Mahameru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Mendaki puncak tertinggi di belahan Bumi Utara bukanlah hal mustahil. Namun, fisik dan mental para atlet pendaki perlu dipersiapkan secara matang agar bisa meminimalisir risiko yang terjadi saat pendakian.

Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga atau Wanala UNAIR dijadwalkan akan berangkat dan mendaki Gunung Denali di Amerika Serikat pada medio tahun 2017. Kegiatan ini mereka namai Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEx).

Ada banyak rangkaian persiapan fisik dan mental, salah satunya mereka akan menempa diri selama 15 hari di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Rencananya, kegiatan itu akan dilaksanakan pada tanggal 20 November (Minggu) sampai 4 Desember (Minggu). Selama pelatihan, mereka akan didampingi Huda, pendaki tujuh puncak tertinggi dunia dari organisasi Indonesia Expedition.

Selama pelatihan di TNBTS, mereka akan melatih teknik, mematangkan fisik, melatih endurance, membiasakan diri dengan ketinggian, dan untuk membuat tim yang solid. TNBTS dipilih dengan alasan kesesuaian medan.

“Di Alaska, semuanya salju. Medannya hampir sama dengan pasir sehingga yang paling pas di Semeru untuk simulasi pendakian,” tutur Wahyu Nur Wahid yang bertindak selaku Sekretaris AIDEx.

Wahyu melanjutkan, para atlet AIDEx membutuhkan dataran tinggi dan terbuka untuk berlatih. Meski tak setinggi Denali, TNBTS adalah tempat yang sesuai untuk melatih diri.

Pelatihan ini akan diikuti oleh ketujuh atlet ekspedisi, yakni Bernat Yogi Abrian (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/2013), Gangga Pamadya Bagaskara (Fakultas Ekonomi dan Bisnis/2014), M. Faishal Tamimi (alumnus), M. Roby Yahya (Fakultas Perikanan dan Kelautan/2011), Syaifful Akbarudin (FISIP/2011), Septian Rio (FISIP/2013), dan Yasak (alumnus).

Membangun tim, fisik, dan mental

Ada sepuluh jenis teknik latihan yang akan dilakukan oleh para atlet AIDEx. Mereka akan melakukan latihan beban, ketahanan fisik, manajemen kegiatan, kekompakan, aklimatisasi di ketinggian, kecepatan, moving together, self arrest, running belay, dan sledding.

Pada hari pertama, tim berangkat menuju lokasi di Bromo dan berlatih menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu Bromo (aklimatisasi). Pada hari kedua, mereka akan mengasah teknik pendakian moving together dan self arrest.

Self arrest merupakan teknik mountaineering. Dalam teknik ini, pendaki menjatuhkan diri, terpelosok, tergelincir di gunung es atau medan salju, dan pendaki tersebut melakukan penyelamatan diri dengan menggunakan ice axe serta kombinasi dari anggota tubuh seperti kaki, siku, lutut dan tangan. Jadi, latihan ini merupakan simulasi jatuh ke jurang,” terang Roby Yahya, Ketua AIDEx.

Pada hari ketiga, mereka akan fokus pada kegiatan running belay dan sledding. Pada teknik running belay, para atlet dilatih untuk mengenakan pengaman saat pendakian. Sebab, nantinya, atlet akan bergantian dalam mendaki gunung. Sedangkan, dalam latihan sledding, atlet akan kembali berlatih menarik ban truk seberat 15-20 kg.

Pada hari keempat, atlet akan fokus pada rescue dan speed play. Teknik rescue harus dikuasai oleh setiap calon atlet, karena hanya anggota tim sendiri yang dapat melakukan evakuasi saat pendakian. Sedangkan, speed play digunakan untuk melatih daya tahan calon atlet.

Selanjutnya, pada hari kelima, para atlet akan kembali mengulang teknik moving together, sledding serta loadcarry. Loadcarry ini adalah berjalan jarak jauh disertai membawa beban. Di hari keenam, atlet akan melakukan kombinasi loadcarry beserta sledding dari Bromo menuju Ranu Pane yang berjarak 16,3 kilometer.

“Hari ketujuh dilakukan recovery tubuh calon atlet, karena aktivitas aktivitas yang dilakukan butuh tenaga cukup banyak,” jelas Rio yang juga calon atlet AIDEx.

Pada hari kedelapan, tim akan melakukan trekking dan loadcarry menuju Kalimati disertai aklimatisasi suhu di ketinggian dan beristirahat. Pada jam 1 dini hari atau hari kesembilan, tim melakukan summit attack atau menuju puncak Mahameru dari Kalimati. Kemudian turun dan melakukan summit attack lagi sebanyak dua kali. Sore harinya tim melakukan speed play di lokasi Kalimati selama satu jam.

Pada hari kesepuluh, mereka kembali melakukan summit attack dari Kalimati ke Mahameru, sebaliknya. Setelah sampai ke Kalimati, mereka menuju Ranu Pani untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh hingga hari kesebelas.

Pada hari ke-12, tepatnya waktu setelah Magrib, tim kembali melakukan summit attack dari Ranu Pani ke Mahameru. Pada summit attack yang rencananya akan berlangsung pada jam 19.00 hingga 07.00, setiap atlet diharuskan membawa beban seberat 10 kilogram.

Pada hari ke-13, tim kembali melakukan summit attack mulai pukul 19.00, sampai keesokan harinya. Pada hari terakhir, tim dijadwalkan pulang ke Surabaya.

Summit attack memang dilakukan berulang kali, untuk meningkatkan volume oksigen maksimal, ketahanan, manajemen kegiatan, fisik, team building, serta aklimatisasi di ketinggian 3000 mdpl dan yang terpenting menempa mental para atlet,” tutur Rio. (*)

Penulis: Wahyu Nur Wahid (Sekretaris AIDEx)
Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu