PARA panelis dalam Simposium RS Terapung di FK UNAIR, Selasa (15/11) kemarin. Agus Hariyanto, dr., SpB (paling kanan), dan desain RS Terapung diatas kapal Phinisi (sisi kanan). (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Indonesia tercatat negara kepulauan terbesar di dunia. Di Nusantara ini terbentang 17.504 pulau besar-kecil, 6. 000 diantaranya berpenghuni, termasuk pada daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK). Luasnya cakupan wilayah DTPK ini menjadikan tantangan sangat berat dalam pelayanan publik yang tidak merata. Tidak heran jika ada penduduk Indonesia di perbatasan yang sakit dan berobat ke negara tetangga. Keadaan ini bisa mengancam kerawanan terhadap rasa berkeadilan.

Berangkat dari itulah alumni-alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga bertekad membangun Rumah Sakit Terapung di atas kapal Phinisi yang saat ini sedang dikerjakan menyerupai kapal pesiar. Sasaran operasional RS Terapung beranggaran Rp 5 miliar ini untuk melayani kesehatan (yankes) masyarakat di kawasan DTPK dan terluar.

Yayasan yang akan memayungi operasional RS Terapung itu juga sudah berdiri, yaitu Yayasan Ksatria Medika Airlangga. Selasa (15/11) kemarin digelar Simposium dengan tajuk “Adventure and Remote Medicine”, di Aula FK UNAIR. Acara yang dibuka oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh Nasih, MT., SE., Ak., CMA ini juga dihadiri Dekan FK Prof. Dr. Soetojo, dr., SpU(K), utusan FK se-Indonesia, dan para alumni FK UNAIR.

Enam nara sumber dihadirkan, antara lain Agus Hariyanto, dr., Sp.B., alumni FK UNAIR dan pemilik gagasan RS Terapung, yang secara empiris mengetahui bagaimana pelayanan kesehatan di daerah Maluku dan daerah DTPK sekitarnya. Kemudian dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA., Direktur Pelayanan Kesehatan Primer (Mewakili Kemenkes), dr. Hanibal Hamidin, M.Kes, Direktur Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Laksma TNI Dr. IDGN Nalendra J.I., dr., SpB., Sp.B-BTKV (K), Dir RSAL Surabaya yang berpengalaman bertugas di KRI dr. Soeharso., Dr. Kohar Hari Santoso, dr., Sp.An-(K)., Kadinkes Provinsi Jatim, dan Ketua IKA-FK UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG(K).

Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih, dalam sambutannya, sangat mengapresiasi dan penghargaan setinggi-setingginya atas upaya ini. Membayangkan dampak yang akan terjadi, ia mengaku “merinding” melihat tekad serta gagahnya desain RS Terapung FK UNAIR. Apalagi ketika nanti pada lambung kapal akan dituliskan “UNAIR Mengarungi Samodera untuk Selamatkan Anak Bangsa”.

”Sungguh ini sebuah harapan, keinginan, dan semangat yang sangat-sangat mulia. Jadi kegiatan ini harus kita support. Apapun yang diperlukan untuk niatan yang baik, tentu dengan proporsional yang ada, kita akan koordinasikan secara baik pula,” kata Pak Rektor.

Ia akui, Indonesia masih menghadapi disparitas, seperti yang dilaporkan Dekan FK Prof. Soetojo bahwa jumlah dokter di Indonesia sebenarnya sudah cukup, tetapi karena keberadaannya yang tidak merata, maka kesenjangan itulah yang masih terjadi. Bagaimana tidak, lanjut Rektor, PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) masih 70% “ngumpul” di Jawa, dari hanya 30% di luar Jawa.

“Dari sinilah ada PR (Pekerjaan Rumah) yang harus kita perjuangankan, yaitu di bidang infrastruktur, ekonomi, dan pengembangan SDM. IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia memang lumayan, tetapi pada daerah DTPK kondisi IPM-nya masih memprihatinkan. Pada batas provinsi saja masih saja ada masalah, apalagi di perbatasan negara,” paparnya.

Sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, memang itu tujuan pembangunan Indonesia. Tetapi, lanjut Rektor, bukan berarti komposisi sarana-prasarana di suatu wilayah harus sama, tetapi disesuaikan dengan proporsi kondisi masing-masing. Tetapi agar pelayanan dasar dan pelayanan primer bisa dilaksanakan di banyak tempat, mulai dari ujung hingga ke ujung wilayah Indonesia, dengan modal ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, Rektor yakin kita bisa membantu mengusahakan kesejahtera dan keadilan di bidang kesehatan, tidak terkecuali di pulau terpencil dan daerah terluar.

”Kalau kita tidak memperhatikan mereke, bisa jadi akan menganggu tujuan pembangunan kita. Jika ini yang terjadi, saya khawatir cita-cita pendiri bangsa dan para pejuang, cita-cita pendiri UNAIR dan pimpinan terdahulu UNAIR bisa tidak akan tercapai. Jadi, abdikan ilmu pengetahuan kita untuk kesejahteraan umat Indonesia mencapai masyarakat berkeadilan sosial,” tandas Rektor Prof. Moh Nasih. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone