Perjalanan Produksi Sperma Beku Sapi, 89 Persen Berhasil Bunting

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Contoh semen beku yang dimiliki FKH UNAIR. (Foto: Defrina S.S)

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR bisa dibilang sukses dalam pengembangan sperma beku yang sampai sekarang bisa dirasakan manfaatnya. Sejak tahun 2001, sivitas akademika Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga sudah mulai mengembangkan sperma beku dari sapi pejantan. Namun, sperma beku dari sapi-sapi yang bersertifikat dan terstandar baru mulai dihasilkan sejak dua tahun lalu, yakni tahun 2014.

Ahli dan dosen inseminasi buatan (IB) FKH UNAIR Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si., menerangkan, proyek pengembangan sperma beku pada awalnya merupakan kesanggupan atas permintaan dari Dirjen Peternakan melalui Gubernur Provinsi Jatim pada saat itu. Dosen FKH diminta untuk mengisi kekurangan stok sperma beku yang diperuntukkan untuk IB sapi-sapi di Jatim.

“Kita waktu itu hanya diminta untuk produksi tiga ribu sampai delapan ribu dan itu berasal dari sapi-sapi pejantan eks Tapos,” tutur Trilas.

Meskipun pada saat itu tidak tersedia peralatan laboratorium, dengan tekad dan keyakinan dosen FKH menyanggupi permintaan dari pemerintah. Keberadaan sumber daya manusia berkompetensi menjadi satu-satunya faktor utama pada saat itu.

Pada saat awal pengembangan semen beku, tim dari FKH UNAIR menggunakan sapi pejantan yang belum teridentifikasi sumbernya. Oleh karena itu, tim menjadikan sapi-sapi pejantan itu sebagai uji coba keberhasilan produksi dan efektivitas sperma beku. Sampai pada akhirnya, tim diberi peluang untuk memanfaatkan sapi pejantan dari peternakan eks Tapos, Bogor, Jawa Barat. Dari sapi pejantan eks Tapos itulah, sapi-sapi itu mulai teridentifikasi dan tersertifikasi oleh pihak-pihak berwenang.

“Sapi pejantan yang tersertifikat itu menunjukkan bahwa sapi ini layak untuk digunakan pejantan karena memiliki keturunan yang ciri tubuhnya bagus, seperti postur tubuhnya, panjang tubuhnya, tinggi, dan semuanya memenuhi standar, termasuk berat lahir dan pertambahan berat,” tutur Trilas.

Saat ini

Pada tahun 2012, melalui skema kerja sama, tim FKH yang dipimpin Trilas membeli lima ekor sapi berbagai jenis dari Australia. Jenis sapi yang dibeli adalah 2 ekor jenis sapi simental, 2 ekor jenis sapi limousine, dan 1 sapi perah. Seluruh sapi itu kini ditempatkan di teaching farm di Kabupaten Gresik.

Sapi-sapi itulah yang kini dimanfaatkan untuk memproduksi sperma beku. Pada tahun 2013, sapi-sapi itu mulai dilatih untuk berahi. Setahun setelahnya, tahun 2014, sapi-sapi pejantan tersebut baru dimanfaatkan untuk produksi sperma beku. Satu ekor sapi dalam satu kali ejakulasi pernah bisa menghasilkan sampai 500 dosis. Rata-rata, 200 sampai 300 dosis dalam sekali ejakulasi.

Namun, hal ini bergantung pada sejumlah faktor penyebab. Salah satunya adalah musim. “Pada musim yang tidak menentu, akan sulit mendapatkan sperma yang banyak,” ungkap Trilas.

Dari berbagai hasil uji coba IB di beberapa daerah, sperma beku sapi yang dihasilkan oleh tim UNAIR bisa dinilai membuahkan hasil yang berarti. Pada tahun 2009 lalu, pada implementasi program di Kediri, peternak setempat menggunakan seratus dosis sperma beku. Hasilnya, sekitar 77 sapi betina bunting pada berahi pertama, dan sebanyak 11 sapi betina bunting berhasil pada berahi kedua.

Sedangkan, daerah yang diberi pasokan sperma beku produksi FKH di antaranya Banyuwangi, Jember, Nganjuk, Lamongan, Bojonegoro, dan Sidoarjo.

Dengan inovasi pengembangan sperma beku yang dilakukan tim FKH UNAIR diharapkan bisa mendorong kesuksesan program pemerintah yakni SIWAB (Sapi Induk Wajib Bunting). Dengan melihat hasil memuaskan yang dikembangkan FKH UNAIR, Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman memberi mandate pada UNAIR untuk bisa memproduksi setidaknya 20.000 sperma beku. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor : Faridah Hari

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu