Tak Sebagus Obama, Makna Kemenangan Trump Bagi Hubungan Indonesia-AS

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Terkait dampak hubungan luar negeri Indonesia-Amerika Serikat (AS), makna kemenangan Trump ini bagi Indonesia, menurut Safril, relasi kedua negara itu bisa dilihat dari dua aspek; yakni presiden dan masyarakat. Penulis buku “Teroris versus Globalisasi: Perlawanan Jaringan Jemaah Islamiyah terhadap Hegemoni Amerika” ini mengatakan, hubungan kepala negara AS dengan Indonesia tak akan sebaik zaman Presiden AS Barrack Obama.

”Hubungan Indonesia-AS tidak sebagus zaman Obama. Kita tahu Obama pernah datang ke Indonesia karena dia memiliki program kebijakan dengan negara-negara di Asia. Sedangkan program Trump belum diketahui,” demikian dituturkan pakar sistem politik AS, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, A. Safril Mubah, S.IP., M.Hub.Int.

Dari aspek masyarakat, Trump pernah memainkan sentimen agama dalam kampanyenya. “Dulu, Bush (George W. Bush) pernah datang ke Indonesia tahun 2006 dan sebagian kalangan melakukan unjuk rasa. Sedangkan Trump jelas-jelas memainkan sentimen itu, sehingga tidak menutup kemungkinan bila datang ke Indonesia, akan juga mendapat pertentangan,” terangnya kepada UNAIR.NEWS.

A. Safril Mubah, S.IP., M.Hub.Int. (Foto: Istimewa)
A. Safril Mubah, S.IP., M.Hub.Int. (Foto: Istimewa)

Menurut Safril Mubah, ada empat faktor yang menjadi kunci kemenangan calon presiden AS Donald Trump, dalam pemilihan presiden yang digelar Selasa (8/9) waktu setempat.

Pertama, kerja keras Trump dalam merebut suara pada kampanye hari terakhir di negara bagian Florida, Pennsylvania, Ohio, dan Carolina Utara. Menurut Safril, warga keempat negara bagian itu masih termasuk massa mengambang (floating mass), sehingga kampanye hari terakhir menjadi penentu pilihan bagi voters.

Kedua, capres yang diusung Partai Republik itu telah memiliki pendukung yang loyal dari kalangan akar rumput (grass roots). Kalangan akar rumput inilah pendukung Trump, sedangkan massa pendukung Hillary Clinton dari Partai Demokrat didominasi kalangan menengah ke atas.

Ketiga, skandal publik yang dilakukan Clinton, saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, menurut peneliti tamu di National Chengchi University, Taipei ini, kedua capres AS sebenarnya dilingkupi dengan isu skandal. Trump dengan skandal pelecehan seksual, sedangkan Clinton dengan skandal penggunaan e-mail pribadi.

“Kalau Trump ini masalahnya skandal di sektor privat, jadi skandalnya tidak ada urusannya dengan urusan publik, maka itu tidak akan mengganggu,” tutur Safril.

Keempat, semasa kampanye, Trump cenderung memainkan isu-isu konservatif yang konvensional. Di bidang imigrasi, misalnya, Trump melempar wacana untuk membangun tembok di perbatasan AS-Meksiko untuk menghalau imigran ilegal dan pengungsi.

Mengejutkan

Safril sendiri menganggap kemenangan presiden The Trump Organization dalam pilpres AS ini cukup mengejutkan. Menurut jajak pendapat yang telah dilakukan oleh publik AS dan debat capres, Hilary Clinton berada di atas angin. Selain itu, program kampanye dan sarkasme yang dilontarkan Trump memang cukup kontroversial.

Menurut dosen HI UNAIR ini, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam ini adalah isu-isu tersebut apakah akan diimplementasikan dalam proses politik di Gedung Putih atau sekadar menarik kalangan akar rumput untuk memilihnya. Sebab, hal itu juga bergantung dinamika politik yang terjadi di AS.

“Dalam membuat kebijakan, presiden perlu berkonsultasi juga dengan Senat dan Menteri. Tergantung, siapa yang akan dia pilih untuk menduduki posisi-posisi strategis seperti CIA (Central Intelligence Agency), Kementerian Pertahanan, dan sebagainya. Jadi, belum tentu pembangunan tembok itu akan disetujui,” terang Safril. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor : Bambang Bes.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu