Peserta AISC ISS Belajar Lebih Tentang Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Wiwit Manfaati saat menjelaskan di depan mahasiswa tentang kerajinan Enceng Gondok di program The Champion. (Foto: Faridah H.)

UNAIR NEWS – Airlangga International Student Center (AISC) dan International Student Summit (ISS) di hari kedua (9/11), berlangsung meriah. Menurut ketua panitia acara, Jani Purnawanty, S.H., S.S., LL.M., program AISC ini merupakan program yang diinisiasi UNAIR dan didukung oleh DIKTI untuk program kerja tahunan yang bertajuk ISS.

“Tahun ini UNAIR mendapat tugas untuk menggelar ISS oleh Dikti. Jadi sebenarnya konsep kedua acara tersebut sama. Makanya, kita buat AISC ini digabung dengan ISS,” ujar Jani.

Setidaknya, ada seratus peserta mahasiswa asing yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia mengikuti AISC dan ISS ini.  Purwanto Subroto, selaku Kepala Subdirektorat Kerjasama Perguruan Tinggi DIKTI, menuturkan bahwa UNAIR mengemas bagus acara AISC dan ISS. Pihaknya sangat mengapresiasi program AISC dan ISS tersebut. Purwanto juga mengatakan sebenarnya tujuan utama kegiatan tersebut merupakan pengenalan mengenai kebudayaan Indonesia. Selain itu, kegiatan ini merupakan forum diskusi antar mahasiswa asing yang kuliah di Indonesia.

“Semoga dari acara ini mahasiswa asing semakin banyak yang lancar berbahasa Indonesia dan kita banyak memperkenalkan budaya Indonesia. Dengan begitu ketika mereka kembali ke negaranya bisa menjadi duta kita, dan bercerita bagaimana Indonesia itu,” ujar Purwanto.

Di hari kedua tersebut, peserta diajak untuk berkompetisi dalam ajang lomba pidato berbahasa Indonesia dan Inggris. Setelah mengikuti kompetisi pidato, peserta lalu diarahkan ke Rumah Sakit Khusus Infeksi UNAIR (RSKI UNAIR) untuk mengikuti kegiatan “The Champion”.

Program The Champion ini merupakan rangkaian program dalam gelaran AISC dan ISS kali ini. Dalam program ini dibagi menjadi enam kelas kecil dengan beberapa peminatan. Peserta bisa memilih kelas yang mereka inginkan. Di dalam kelas peserta bisa melakukan diskusi dan tanya jawab dengan para pembicara. Suasana di tiap-tiap kelas sangat aktif dan responsif, peserta sangat antusias dengan materi yang diberikan pembicara.

“Saya senang dengan kelas-kelas di sini, sangat inspiratif dan menambah wawasan saya,” ujar salah satu peserta bernama Abdul Rozaq, mahasiswa asal Libya yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro.

Ditemui di tempat yang sama, Wiwit Manfaati salah satu pemateri kelas mengatakan sangat senang menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan The Champion. Di sana, ia berbagi tentang kiprahnya sebagai pengusaha kerajinan tangan yang terbuat dari eceng gondok. Mulai dari pengembangbiakan Eceng Gondok hingga proses pengolahan menjadi beberapa kerajinan seperti tas, topi, tudung saji dan lain-lain.

“Sangat baik sekali acara ini. Banyak yang bertanya pada saya mengenai kerajinan dari eceng gondok ini. Tadi ada salah satu mahasiswa juga bilang kalau eceng gondok di negaranya malah kadang dibuat makan sapi dan kadang juga tidak terpakai,” ujar Wiwit. (*)

Penulis : Faridah Hari
Editor   : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu