Help Center Ajak Mahasiswa Disabilitas dan Umum Ikuti Pelatihan Menulis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrator PIH UNAIR

UNAIR NEWS – Kegiatan menulis karya ilmiah seperti esai, makalah, hingga jurnal tak pernah lepas dari kehidupan pendidikan sivitas akademika. Oleh karena itu, sivitas akademika harus terus mengasah kemampuan menulis di bidang akademik. Salah satunya, melalui pelatihan menulis esai dan produk jurnalistik.

Pelatihan itu diperuntukkan untuk sivitas akademika, termasuk mahasiswa Universitas Airlangga dengan disabilitas. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan penulisan karya ilmiah, seperti esai, makalah, dan jurnal.

Ketua Help Center UNAIR Prof. Myrtati Diah Artaria, M.A., Ph.D., mengatakan, cara berkomunikasi mahasiswa disabilitas memerlukan perhatian. Terlebih bagi kaum tuna rungu, mereka terbiasa menggunakan bahasa isyarat Indonesia (bisindo).

“Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat yang berbeda dengan bentuk baku. Secara intelektualitas, mereka tidak mengalami masalah, tetapi kita akan membantu mereka untuk mengungkapkan hal-hal yang mereka pahami dalam bentuk tulisan yang lebih baik,” tutur Prof. Myrtati.

Dalam pelaksanaannya, Help Center UNAIR menggandeng Komunitas Mata Hati untuk memberikan pelatihan penulisan bagi mahasiswa disabilitas dan umum dari UNAIR serta perguruan tinggi lainnya. Mereka menghadirkan redaktur Tempo yang juga alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR Endri Kurniawati.

Pelatihan baru berlangsung selama satu kali beberapa waktu lalu. Pelatihan pertama telah diikuti oleh mahasiswa tunanetra FISIP UNAIR Alfian Andika Yudhistira. Selama pelatihan berlangsung, Endri tak mengalami tantangan berarti sebab intelektualitas Alfian memang tak diragukan. Endri memberikan materi dalam format powerpoint (.ppt) dan langsung dikonversi dalam bentuk suara oleh Alfian.

“Saya lihat teman-teman itu pintar, lucu, dan tetap bergembira. Saya pikir, secara intelektual, mereka tidak ada bedanya dengan teman-teman mahasiswa secara umum. Minggu depan, audiensnya berbeda dari mereka yang tuna rungu, sehingga cara saya berbicara juga harus pelan-pelan dan membaca bibir. Jadi, artikulasi saya harus jelas,” tutur Endri.

Dalam pelatihan tersebut, Endri mengajak peserta untuk membuat kalimat dengan struktur yang tepat. Tentunya, ada subjek, predikat, dan objek.

“Cara menulis dan berbicara itu berbeda. Meskipun untuk menulis yang baik ada resepnya write as you talk, tapi tetap ada pola-polanya. Ini sepertinya mudah tapi dalam praktiknya tidak mudah. Karena orang yang berprofesi sebagai penulis dan wartawan pun, kadang masih belum bisa menulis dengan benar,” terangnya.

Dengan adanya pelaksanaan pelatihan ini, diharapkan kemampuan akademik mahasiswa yang mengikuti pelatihan kepenulisan bisa meningkat. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu