Atasi Perubahan Iklim, WHO Ajak Perbaiki Lingkungan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sharad Adykary dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ketika memaparkan materinya mengenai dampak perubahan iklim di bidang kesehatan. (Foto: Defrina Sukma S)

UNAIR NEWS – Penyebab dan dampak perubahan iklim menyisakan berbagai problem di bidang kesehatan. Berbagai permasalahan telah ditimbulkan, mulai kualitas air, malnutrisi (kekurangan gizi), ketahanan pangan, hingga dampak bencana yang diprediksi bakal terjadi. Risiko tentang perubahan iklim itu dipaparkan oleh Sharad Adykary dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sharad mengatakan, tanpa respon dan kebijakan yang efektif, perubahan iklim akan mengakibatkan keempat hal di atas. Pertama, kualitas dan kuantitas air. Diperkirakan, pada tahun 2050, jumlah penduduk yang tinggal di daerah yang mengalami krisis air akan meningkat dua kali lipat. Kedua, keamanan pangan. Di sejumlah negara Afrika, hasil dari pertanian tadah hujan bisa diperkirakan berkurang setengah pada tahun 2020.

Ketiga, pengendalian penyakit infeksi. Diperkirakan, pada tahun 2030, populasi penderita malaria di Afrika akan meningkat menjadi 170 juta. “Sedangkan, pengidap virus dengue akan meningkat menjadi 2 milyar pada tahun 2080,” papar penasehat kesehatan lingkungan WHO.

Keempat, perlindungan dari bencana. Menurut data yang disampaikan Sharad, terjadi peningkatan risiko banjir di pesisir dan area daratan yang mengalami kekeringan.

Terkait dengan dampak perubahan iklim di bidang kesehatan, Sharad yang menjadi pembicara utama  “1st SEHAT (Seminar on Environment and Health) Toward SDG’s Achievement 2030: Integration  System on Environment and Health Sustainability”, menyarankan kepada peneliti dan dan pengambil kebijakan di bidang kesehatan agar terus memperbarui koleksi data dan saling bertukar informasi.

Selain Sharad, ada pula Dr. –Ing. Hendro Wicaksono peneliti asal Institut Teknologi Karlsruhe (KIT), Jerman, yang menerangkan tentang “Sustainability of Smart City in European Union”. Hendro mengatakan, kota-kota di Eropa mengalami perubahan sejak sekitar tahun 1800-an hingga sekarang. Bila dulu kota-kota di Eropa dikenal dengan tipe kota kebun (garden city) dan kota mandiri (broadacre city) maka sekarang mereka bergerak ke arah future city (kota masa depan).

“Dalam future cities, ada beberapa langkah yang dilakukan untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim. Ada rencana untuk mengurangi 80 persen gas rumah kaca pada tahun 2050, penggunaan energi terbarukan sampai 80 persen pada tahun 2050, setiap bangunan bisa mengurangi konsumsi energi sampai 80 persen, dan mengurangi emisi transportasi sampai 40 persen,” tutur Hendro.

Agar sebuah kota bisa menjadi kota keberlanjutan, maka diperlukan implementasi dari berbagai aspek. Dari aspek sosiokultural, pembuatan kebijakan terkait pembangunan seharusnya melibatkan seluruh kalangan warga. Sedangkan, dari aspek transportasi, perlu dilakukan car sharing.

Ketua panitia seminar SEHAT Dr. Rr. Azizah, S.H., M.Kes, berharap agar pelaksanaan seminar internasional ini mampu menjembatani perguruan tinggi, perusahaan swasta, pemerintah, dan organisasi profesional dalam mewujudkan lingkungan yang sehat.

Acara seminar SEHAT merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis UNAIR ke-62. Pada tahun 2016, tema yang diangkat dalam perayaan kali ini adalah “62 Tahun Universitas Airlangga untuk Indonesia Adil dan Beradab.” (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu