Membenahi Laboratorium Farmasi sebagai Pendukung Industri Obat dan Jamu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr.rer.nat. Mochammad Yuwono, M.S., Apt. Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Persyaratan mutu obat dan jamu saat ini semakin ketat. Sementara pemalsuan obat-obatan dan jamu palsu belum sepenuhnya bisa diberantas. Terbukti, selalu ada saja pelaku pemalsuan obat dan jamu ditemukan oleh Badan POM dan yang ditangkap pihak kepolisian. Salah satu cara penjaminan mutu dan meredam peredaran obat palsu adalah dengan memperkuat fasilitas laboratorium layanan pengujian.

Hal tersebut diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Prof. Dr.rer.nat. Mochammad Yuwono, M.S., Apt. Pemalsuan obat dan jamu akhir-akhir ini semakin canggih, karena menggunakan cara-cara dan bahan kimia yang termutakhir. Prof. Yuwono mencontohkan kasus jamu yang dicampur dengan obat kuat.

“Pemalsuan obat tradisional sudah mengarah ke penggunaan bahan kimia dan cara-cara yang modern. Kalau tidak dengan alat yang canggih, tidak mungkin bisa ditemukan. Saya beri contoh, obat kuat yang dimasukkan dalam jamu, jika diperiksa unsur obat kuatnya tidak akan ditemukan dalam jamu tersebut. Hasilnya negatif. Karena yang ada adalah turunannya atau senyawa analog. Kalau diperiksa dengan alat dan metode biasa, jelas tidak terdeteksi. Kalau dengan LC-MS/MS (Liquid Chromatography tandem Mass Spectrometry) atau GCMS (Gas chromatography Mass Spectrometry), baru bisa. Itu pun masih harus dengan metode khusus,” tutur Guru Besar Ilmu Kimia Farmasi itu.

Untuk melakukan pemeriksaan keaslian obat dan jamu palsu diperlukan serangkaian penelitian pengembangan metode dan uji laboratorium. Namun, uji produk obat-obatan palsu di Indonesia menghadapi tantangan. Prof. Yuwono menyayangkan, keberadaan alat canggih tersebut tak didukung dengan baku pembanding. Bahan itu digunakan sebagai pembanding dalam proses uji produk. Selama ini, bahan pembanding ini sangat sulit didapat dan harus diimpor dari luar negeri. Kita pun masih harus menunggu lama untuk memesannya.

Terkait dengan jamu palsu, penulis chapter “Gas Chromatography” di buku terbitan AS itu mengungkapkan, jamu-jamu yang dicampur obat modern tak hanya ditemui di pedagang kaki lima, tetapi juga beredar di media sosial. Oleh karena itu, ia menyarankan keterlibatan yang aktif dari pihak pengawas dan analis laboratorium.

“Jamu yang dicampur obat modern terjadi bukan hanya pada jamu-jamu pinggir jalan tetapi juga jamu yang diedarkan on-line (di media sosial). Itu yang perlu pemeriksaan dan pengawasan. Lha karena ini begitu banyak, maka pengawasan harus intensif maka keterlibatan laboratorium amat diperlukan,” imbuhnya. “Selain itu, penyuluhan kepada masyarat tentang jamu masih sangat diperlukan. Masyarakat perlu berhati-hati dalam mengonsumsi produk obat dan jamu”.

Ke depan, Direktur Unit Layanan Pengujian FF UNAIR itu berharap bisa memiliki laboratorium uji produk yang lebih lengkap, canggih dan bisa dimanfaatkan untuk penunjang registrasi dan pengawasan serta pengembangan riset. “Riset pengembangan metode uji produk sangat berguna dalam penjaminan mutu dan keamanan sediaan farmasi, karena sampel obat, jamu, pangan dan kosmetik semakin kompleks. Itu yang masih harus dikembangkan,” tuturnya. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu