Atlet Denali Latihan Tarik Ban Truk Keliling Kampus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim atlet menarik ban truk atau kontainer dengan berat masing-masing 15 sampai 20 kilogram. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Mendaki Gunung Denali (6.190 mdpl) tak hanya membutuhkan keterampilan teknik pendakian yang memadai, tetapi pendaki juga harus pandai membawa beban bawaannya sendiri. Bila di gunung-gunung lainnya porter dapat ditemui dengan mudah, namun tidak bagi Denali. Ketidakberadaan porter menghendaki para pendaki untuk bisa mengatur barang bawannya sendiri.

Sedangkan, bila ditotal secara keseluruhan, beban yang dibawa pendaki untuk sampai ke puncak gunung tertinggi di Amerika Serikat bagian utara bisa mencapai 100 pon sampai 140 pon atau 50 hingga 70 kilogram. “Karena di Denali tidak ada porter, maka beban harus ditarik menggunakan kereta luncur,” terang M. Faishal Tamimi, ketua tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEX) Wanala, Universitas Airlangga.

Agar misi menuju puncak gunung yang berlokasi di Amerika Serikat bagian utara bisa tercapai dengan lancar, tim AIDEX berlatih membawa beban yang ditarik menggunakan kereta luncur atau sleds. Latihan dilakukan di area kampus C UNAIR pada Minggu (30/10).

Jika seluruh barang bawaan dikemas dalam ransel, besar kemungkinan setiap pendaki membawa 2 ransel karier berukuran 60 liter dan 1 tas ransel daypack 35 liter. Karena itulah, setiap pendaki Denali membagi barang bawaannya di ransel dan kereta luncur.

Kereta luncur bukanlah benda asing yang ditemukan di Denali. Namun, atlet AIDEX –yang baru akan pertama kali mendaki Denali– masih merasa asing dalam menggunakan kereta luncur. Untuk mensiasati kereta luncur, selama berlatih, tim atlet mengganti kereta luncur dengan ban kendaraan truk atau kontainer dengan berat 15 hingga 20 kg.

“Kegiatan ini sangat berat dan melelahkan, tidak mudah dari yang terlihat,” terang Bernat Yogi Abrian, atlet AIDEX yang juga mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Tak hanya Bernat yang memandang pelatihan itu tak mudah. Rio, salah satu atlet AIDEX, bahkan turut membayangkan bagaimana cara menarik kereta luncur di McKinley –sebutan lain Denali– yang medannya bervariasi dan bersalju.

“Menarik ban bekas di medan datar ini saja terasa sulit, apalagi menarik kereta luncur di medan yang bervariasi dan bersalju,” terang Rio.

Dengan kondisi yang cukup berat, fisik atlet Denali juga harus terbiasa bekerja dalam tekanan dan fokus yang tinggi. Tentu saja, latihan ini harus dilakukan dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi. Mulai dari jarak 0,5 mil hingga 1 mil.

Yasak, atlet AIDEX yang juga pendaki Elbrus pada tahun 2011, menuturkan pendakian di Elbrus (5.642 mdpl) menuntut atlet melewati trek menanjak selama 6 jam tanpa henti. “Ibaratnya, mendaki Elbrus, rasa capeknya dikalikan 10 kali lipat. Bila Denali, rasa capeknya mungkin bisa 15 hingga 20 kali lipat,” tutur Yasak, mahasiswa FISIP.

Penulis : Wahyu Nur Wahid (anggota tim AIDEX)
Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu