UNAIR Persiapkan Kolaborasi Penelitian dengan Australia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Pertemuan delegasi AIC dengan UNAIR di ruang sidang pleno UNAIR (31/10).(Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga tengah menyiapkan peneliti-peneliti terbaiknya untuk bisa melakukan kolaborsai riset dan publikasi internasional dengan beberapa universitas terkemuka di Australia. Universitas tersebut tergabung dalam Indonesia-Australia Centre (AIC) dan termasuk dalam Top Five University di Australia. Senin (31/10) lalu, diadakan pertemuan antara pihak AIC dan UNAIR untuk membahas persiapan penelitian yang akan dilakukan kedua negara tersebut.

AIC diwakili Richard Price selaku Research Director dan Meghan Power selaku manager Projects and Programs. Kedatangan mereka disambut oleh pimpinan UNAIR, meliputi Direktur Pendidikan Prof. Tri Nyoman Pusparini, Ketua Deputi International Office and Partnership (IOP) Margaretha S.Psi., M.Sc, Koordinator Peneliti UNAIR untuk AIC Dr. Achmad Chusnu Romdhoni., dr., SP,THT-KL(K), dan beberapa perwakilan peneliti dari Institute of Tropical Disease UNAIR.

Kedatangan delegasi AIC ke UNAIR merupakan tindak lanjut dari pertemuan peneliti antar kedua negara yang bertajuk “Indonesia-Australia Research Summit” yang diadakan pada Agustus lalu. Richard Price dan Meghan Power mengatakan bahwa UNAIR termasuk universitas yang memiliki kualitas tinggi. Maka dari itu, diharapkan adanya kontribusi dan partisipasi UNAIR dalam riset di AIC.

Margaretha mengatakan, kolaborasi riset yang dicanangkan AIC ini memiliki sistem funding atau mendanai penelitian yang sudah terseleksi. Diawal, beberapa universitas di Indonesia menyerahkan proposal penelitian yang sudah ada, dan dikirim ke sekretariat AIC pusat untuk direview. Proposal yang sudah masuk kualifikasi akan dipasangkan dengan research partner yang sudah ditunjuk dari  salah satu universitas di Australia. Setelah itu, barulah kedua perguruan tinggi bisa melakukan penelitian bersama.

Margaretha menambahkan, ini merupakan kolaborasi yang eksklusif. Sebab, UNAIR mempunyai peluang besar untuk bisa melakukan kolaborasi riset bersama Top Five University di Australia.

“Maka dari itu IOP bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI) UNAIR mempersiapkan proposal penelitian dari peneliti-peneliti yang ada di UNAIR agar bisa terlibat dalam program kolaborasi riset AIC ini. Kalau berhasil membuat suatu kerjasama dalam bidang riset, maknanya akan kuat untuk meningkatkan kapasistas peneliti yang ada di UNAIR dan memungkinkan adanya publikasi internasional,” Ujar Margaretha.

“Sebisa mungkin dalam dua minggu ke depan kita sudah mendapatkan proposal penelitian yang bisa langsung dikirimkan ke sekretariat AIC. Kita juga berharap kontribusi peneliti di UNAIR untuk membuat proposal yang kompetitif agar bisa terjalin kerjasama dengan Australia. Ini merupakan kesempatan besar bagi kita. Jadi sayang untuk dilewatkan,” tambah Margaretha.

Margaretha berharap, peneliti di UNAIR mempersiapkan proposal penelitian yang siap untuk diikutkan dalam kerjasama internasional lainnya. Karena setelah ini, akan ada program pendanaan penelitian dari  ASEAN COST, sebuah komite di ASEAN yang mengembangkan riset dalam pengembangan keilmuan dan teknologi. Pertahunnya, dana yang bisa digelontorkan mencapai USD1.000.000.

Sementara itu Richard Price menegaskan, ia yakin dengan kekuatan yang UNAIR miliki bisa menambah cluster dalam penelitian yang ada. Diharapkan, penelitian yang akan dikaji dapat mengangkat masalah-masalah global terbaru yang sedang dihadapi Indonesia dan Australia. Selain topik seputar kesehatan, bisa juga masalah infrastruktur, pengelolaan air, ketahanan pangan, dan topik lainnya. (*)

Penulis : Faridah Hariani
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu