Raih Posisi Kedua Lomba Kewirausahaan di Universitas Sriwijaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ketiga mahasiswa UNAIR yang meraih juara II dalam kompetisi kewirausahaan di Universitas Sriwijaya, Minggu (30/10). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga. Kali ini, tiga mahasiswa UNAIR berhasil meraih juara II dalam kompetisi kewirausahaan yang dilaksanakan di Universitas Sriwijaya, Minggu (30/10). Mereka mengusung produk unggulan berupa tas feminin yang terbuat dari batok kelapa.

Ketiga mahasiswa yang mengikuti kompetisi kewirausahaan bertajuk “Business Plan Competition Sriwijaya: Inovasi Pengusaha Muda dalam Mengembangkan Produk Budaya Lokal” tersebut yaitu Heti Kristina (Fakultas Kedokteran Hewan/2013), Vincentius Chrisma (FKH/2014), dan Ayunda Zilul (Fakultas Kesehatan Masyarakat/2013).

Tas batok kelapa bermerek Bag Coco Art dipresentasikan dalam kompetisi kewirausahaan yang diselenggarakan di Universitas Sriwijaya selama lima hari, terhitung sejak tanggal 27 – 31 Oktober 2016. Pada babak penyisihan awal, kompetisi diikuti oleh ratusan peserta. Ketika kompetisi sudah mengerucut ke babak final, dipilih sekitar 12 finalis, salah satunya adalah Heti dan tim.

Sebelum mencapai final, setiap peserta diminta untuk mengirimkan proposal bisnis. Proposal yang terpilih dipresentasikan dan direview oleh tim penilai. Dalam kompetisi tersebut, mereka memilih subtema inovasi produk dan kerajinan. Heti bercerita, Bag Coco Art merupakan inovasi yang ia tuangkan dalam proposal Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) tahun 2015.

“Bag Coco Art merupakan produksi tas yang kami bina melalui program PMW tahun 2015,” tutur Heti.

Selain presentasi proposal bisnis, finalis diberi permasalahan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi di suatu desa. Mereka memilih untuk mengelola permasalahan produktivitas sesuai dengan latar keilmuan yang mereka memiliki, yakni di bidang kedokteran hewan.

“Bagaimana kita bisa menginovasi daerah agar menjadi lebih produktif. Pada saat business case itu, kita bikin peternakan yang terintegrasi. Judulnya, Integrated Breeding Village untuk Desa Muara Penimbung Ilir di Sumatera Selatan. Untuk business case, kami mengangkat peternakan yang terintegrasi karena basic kami kedokteran hewan,” tutur Heti.

Selain business case, mereka juga beradu ketangkasan dan kekompakan dalam lomba cerdas cermat bisnis. Lomba yang dikemas dalam “Sharpening Knowledge” itu merupakan cerdas cermat yang menguji wawasan peserta tentang pengetahuan bisnis, pengetahuan umum, dan kesenian daerah.

Ditanya soal kiat-kiat meraih kemenangan, mahasiswa tahun akhir di FKH UNAIR itu mengaku, kerja sama dan kekompakan tim menjadi tumpuan bagi mereka. Ia mengakui kompetisi ini menjadi tantangan baginya dan tim yang sama sekali tidak memiliki latar belakang bisnis dan ekonomi.

“Kami basic-nya bukan bisnis dan ekonomi. Kiatnya, kerjasama dan kekompakan. Jadi, ini merupakan pertama kalinya bagi kami mengetahui hal di luar ranah kami, misalnya ada business case yang kami tidak memiliki basic tentang itu. Termasuk sharpening, maka itu kami belajar terlebih dulu mengenai bisnis,” aku Heti. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu